Wakil Ketua MPR RI Ajak Masyarakat Waspadai Potensi Virus Nipah

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:47:29 WIB
Wakil Ketua MPR RI Ajak Masyarakat Waspadai Potensi Virus Nipah

JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengingatkan masyarakat untuk membangun kewaspadaan dalam mengantisipasi penyebaran virus Nipah yang kini menjadi ancaman global. 

Dalam diskusi daring yang bertema Mengantisipasi Penyebaran Virus Nipah di Indonesia, Lestari, yang akrab disapa Rerie, menekankan pentingnya kesiapan menghadapi potensi penyebaran virus ini, belajar dari pengalaman pandemi COVID-19 yang baru lalu. 

Diskusi ini bertujuan untuk menggali informasi lebih mendalam mengenai virus Nipah yang kini terdeteksi di sejumlah negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Lestari menegaskan bahwa meskipun sampai saat ini Indonesia belum melaporkan adanya kasus terkonfirmasi, kewaspadaan sejak dini harus tetap dibangun. Oleh karena itu, ia mendorong agar pemangku kepentingan baik di tingkat pusat maupun daerah segera memberi arahan yang jelas kepada masyarakat terkait langkah-langkah antisipasi. 

"Kewaspadaan ini sangat penting, sebagai bagian dari upaya perlindungan bagi setiap warga negara," ujar Lestari.

Meningkatkan Pemahaman Masyarakat Tentang Virus Nipah

Dalam diskusi tersebut, Kepala Organisasi Riset Kesehatan dan Peneliti Ahli Utama Virologi BRIN, Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, memberikan penjelasan terkait wabah virus Nipah. 

Indi menjelaskan bahwa wabah ini cenderung bersifat sporadis, dengan penyebaran yang muncul di beberapa negara Asia Selatan dan Asia Tenggara. 

Ia mengungkapkan bahwa virus Nipah tidak hanya menyerang manusia, tetapi juga hewan. Di Singapura, misalnya, virus ini sempat menyerang babi hingga menimbulkan kerugian besar pada sejumlah peternakan.

Indonesia, sebagai negara dengan keanekaragaman hayati yang luar biasa, dinilai memiliki risiko tinggi terpapar virus Nipah. Virus ini dapat menginfeksi manusia dan hewan dengan menyerang otot, pernapasan, bahkan otak. 

"Wabah virus ini menjadi tantangan besar mengingat data epidemiologis yang terbatas dan kesadaran masyarakat yang masih rendah," tambah Indi.

 Untuk itu, peningkatan pemahaman publik tentang virus ini sangat diperlukan, agar masyarakat dapat mengantisipasi lebih baik jika ancaman tersebut muncul.

Penjelasan Tentang Cara Penularan dan Pencegahan

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Sumarjaya, memberikan penjelasan lebih lanjut tentang virus Nipah. 

Virus ini termasuk dalam kategori penyakit emerging, yang artinya virus ini sempat muncul sebelumnya dan kini muncul lagi dengan potensi penyebaran yang lebih luas. 

Sumarjaya menjelaskan bahwa kelelawar buah merupakan reservoir alami dari virus Nipah. Virus ini dapat menular melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, konsumsi makanan atau hewan yang terkontaminasi, serta kontak erat dengan orang yang terinfeksi.

Masa inkubasi virus Nipah berkisar antara empat hingga 14 hari, dan gejala awal pada penderita meliputi demam, flu, pusing, penurunan kesadaran, hingga gangguan pernapasan berat yang bisa berujung pada kematian. Menurut Sumarjaya, saat ini belum ada obat khusus untuk mengatasi infeksi virus Nipah, dan vaksin juga belum tersedia. 

Ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang jika mengalami gejala tersebut dan segera mencari pertolongan medis di fasilitas kesehatan terdekat.

Mengantisipasi Ancaman Kesehatan Melalui Respons Cepat

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI dan Direktur WHO SEARO periode 2018-2020, Tjandra Yoga Aditama, membandingkan dinamika penyebaran virus Nipah dengan COVID-19 pada fase awal. 

Ia menjelaskan bahwa pada awalnya, virus Nipah juga dikenali sebagai pneumonia syndrome, seperti yang terjadi pada COVID-19. 

Tjandra mengingatkan bahwa virus Nipah pertama kali mewabah di Malaysia pada tahun 1998-1999 dengan nama wabah Hendra. Kini, virus ini sudah masuk dalam daftar Disease Outbreak News (DONs) dari WHO pada 30 Januari 2026, yang mengindikasikan potensi ancaman kesehatan yang perlu diperhatikan.

"Jika WHO memasukkan virus Nipah dalam daftar DONs, berarti ada kemungkinan penilaian lebih lanjut terkait pencegahan dan pengendalian yang lebih serius," ujar Tjandra.

 Ia juga menambahkan bahwa virus Nipah sudah masuk dalam roadmap riset dan pengembangan WHO, yang bertujuan untuk mencari langkah-langkah pencegahan yang lebih baik di masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa dunia internasional kini semakin serius dalam mempersiapkan diri menghadapi potensi wabah yang bisa datang kapan saja.

Tanggapan Positif dan Kewaspadaan dari Masyarakat

Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, menilai bahwa pembahasan tentang virus Nipah sangat relevan dan strategis untuk disosialisasikan ke masyarakat. 

Ia mengungkapkan bahwa isu ini bukan hanya soal penyebaran penyakit menular, tetapi juga tentang kesiapsiagaan sistem kesehatan negara dan perlindungan bagi warga negara. Menurutnya, ancaman kesehatan sering datang tanpa peringatan resmi dan bisa membesar jika tidak segera ditangani.

"Ancaman kesehatan sering kali datang dengan cara yang sunyi, dan akan membesar jika negara lalai mewaspadai tanda-tanda awal dari potensi ancaman tersebut," ujar Nurhadi. 

Ia menekankan pentingnya deteksi dini dan respons cepat sebagai langkah antisipasi yang harus diterapkan untuk mencegah penyebaran virus Nipah. Kecepatan dalam merespons ancaman kesehatan seperti ini sangat krusial agar dampaknya dapat diminimalisir.

Wartawan senior Saur Hutabarat juga membagikan pengalamannya mengenai kewaspadaan terhadap makanan yang mungkin terkontaminasi. 

Dulu, ia menganggap buah yang digigit hewan sebagai makanan yang lezat, namun setelah mendengar tentang wabah virus Nipah, pandangannya berubah drastis.

 "Jangan dimakan itu buah," tutup Saur dengan peringatan yang menggugah kesadaran tentang bahaya yang mungkin datang dari kebiasaan yang tampaknya sepele.

Terkini