JAKARTA - Perubahan cara masyarakat dalam bertransaksi kini semakin terasa, terutama dengan meningkatnya penggunaan layanan digital perbankan.
Aktivitas yang dulunya dilakukan secara manual kini beralih ke aplikasi mobile dan platform digital, menciptakan peluang baru bagi industri perbankan untuk mengembangkan sumber pendapatan.
Transformasi ini tidak hanya memudahkan nasabah, tetapi juga menjadi pendorong utama peningkatan fee based income bagi bank. Seiring dengan inovasi teknologi dan perubahan perilaku pengguna, transaksi digital kini menjadi salah satu mesin pertumbuhan yang sulit terbendung.
Lonjakan Transaksi Digital Perbankan Nasional
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa volume transaksi pembayaran digital perbankan nasional mencapai 4,67 miliar hingga Februari 2026, melonjak 40,35% secara tahunan. Angka ini mencerminkan tingginya adopsi layanan digital oleh masyarakat.
Peningkatan ini tidak lepas dari berbagai inovasi layanan yang terus dikembangkan oleh perbankan. Kemudahan akses, kecepatan transaksi, serta integrasi dengan berbagai kebutuhan harian membuat layanan digital semakin diminati.
Tren ini juga menjadi indikator bahwa masyarakat semakin nyaman melakukan transaksi secara non-tunai. Perubahan ini sekaligus membuka peluang besar bagi bank untuk meningkatkan pendapatan berbasis komisi dari setiap transaksi yang dilakukan melalui platform digital.
Kinerja Bank Besar Ikut Terdongkrak
Pertumbuhan transaksi digital langsung tercermin pada kinerja sejumlah bank besar di Indonesia. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), misalnya, mencatat 738,7 juta transaksi digital melalui aplikasi Livin hingga Februari 2026, tumbuh 28% secara tahunan.
Dari aktivitas tersebut, bank ini mengantongi fee based income sebesar Rp 625 miliar, melonjak 45,3% dibandingkan periode sama tahun lalu. Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menyebut bahwa peningkatan ini tidak terlepas dari semakin aktifnya transaksi nasabah melalui kanal digital.
“Kinerja ini didukung semakin aktifnya transaksi nasabah melalui berbagai kanal digital,” ujarnya. Selain meningkatkan pendapatan, digitalisasi juga membantu bank dalam menekan biaya operasional melalui efisiensi layanan.
Peran Inovasi Digital dalam Pertumbuhan Bank
Tren serupa juga terjadi di PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN). Hingga Februari 2026, BTN mencatat 53,7 juta transaksi digital atau tumbuh lebih dari 57% secara tahunan, dengan nilai mencapai Rp 27,6 triliun, naik 11%.
SEVP Digital Business BTN Thomas Wahyudi menjelaskan bahwa mayoritas transaksi dilakukan melalui aplikasi Bale, mulai dari transfer, pembayaran QRIS, hingga kebutuhan harian seperti token listrik dan top up e-wallet.
Kontribusi transaksi digital terhadap fee based income BTN pun terus meningkat, dengan pertumbuhan 12% sepanjang 2025. Hal ini menunjukkan bahwa digitalisasi bukan sekadar tren, tetapi sudah menjadi bagian penting dalam strategi bisnis perbankan.
Untuk memperkuat posisinya, BTN menargetkan 300 juta transaksi digital hingga akhir 2026 dengan nilai lebih dari Rp 165,7 triliun. Strategi yang disiapkan meliputi penguatan fitur layanan, peningkatan infrastruktur teknologi informasi, perluasan ekosistem merchant, serta promosi yang lebih agresif.
Strategi Bank Mengoptimalkan Transaksi Digital
Selain Bank Mandiri dan BTN, KB Bank juga mencatat pertumbuhan signifikan. Sepanjang 2025, bank ini mencatat 260 juta transaksi digital, naik 46% secara tahunan dengan nilai mencapai Rp 58 triliun atau tumbuh 30%.
Menariknya, transaksi digital telah menyumbang lebih dari separuh fee income bank tersebut. Hal ini menegaskan bahwa digitalisasi menjadi pilar utama dalam meningkatkan pendapatan non-bunga.
Presiden Direktur KB Bank Kunardy Lie menyampaikan bahwa pertumbuhan ini akan terus didorong melalui peningkatan jumlah pengguna aktif, perluasan use case, serta penguatan fitur dan keamanan layanan digital.
“Kami menargetkan pertumbuhan transaksi digital yang lebih tinggi ke depan,” ujarnya.
Ke depan, persaingan antarbank dalam mengembangkan layanan digital diprediksi akan semakin ketat. Inovasi fitur, keamanan transaksi, serta kemudahan penggunaan akan menjadi faktor utama dalam menarik dan mempertahankan nasabah.
Dengan tren yang terus meningkat, transaksi digital bukan hanya menjadi alternatif, tetapi telah menjadi fondasi baru dalam bisnis perbankan. Perubahan ini menandai era baru di mana teknologi dan layanan keuangan berjalan beriringan untuk menciptakan efisiensi sekaligus peluang pertumbuhan yang lebih besar.