Jaga Kesehatan Jadi Kunci Utama Tetap Aktif di Fase Menopause

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:57:01 WIB
Ilustrasi Menopause.

JAKARTA - Fase menopause dan perimenopause sampai saat ini masih kerap kali disangkutpautkan dengan selesainya masa-masa produktif bagi kaum perempuan.

Tidak sedikit kaum hawa yang merasa terpaksa membatasi rupa-rupa kegiatan mereka, menunda cita-cita, bahkan pasrah menerima stigma bahwa faktor umur menjadi dinding penyekat untuk mencoba hal baru.

Padahal, menginjakkan kaki pada usia 40 tahun ke atas maupun berada di fase transisi menopause bukan berarti menjadi alasan bagi seseorang untuk berhenti berkembang.

Malahan, banyak perempuan yang terbukti sanggup menjaga keaktifan diri, mempunyai arah hidup yang jelas, serta punya keberanian tinggi dalam memburu impian lama yang sempat tertunda.

Pendiri We Pause We Rise, Mia Lukmanto mengutarakan, kaum perempuan yang mulai memasuki masa perimenopause maupun menopause sejatinya tetap mengantongi peluang yang setara untuk terus bertumbuh sekaligus mengukir prestasi anyar dalam kehidupan.

Menurut pandangan Mia, keliru jika masih ada anggapan komunal yang menyebutkan bahwa perempuan yang berada di ambang menopause mesti mulai membatasi ruang gerak diri mereka sendiri.

Sebab, bertambahnya usia maupun gejolak perubahan hormon di dalam tubuh dinilai tidak sepatutnya menjelma menjadi batu sandungan untuk memelihara asa dan cita-cita masa depan.

“Wanita-wanita yang sudah menopause atau perimenopause itu masih boleh banget bermimpi. Bahkan ada temanku yang umurnya sudah 40-an tapi sudah ikutan World Major Marathon,” kata Mia dalam rangkaian talkshow Ageless Festival di PIM 3, Jakarta Selatan, Sabtu (13/6/2026).

Dirinya berpendapat, rekam jejak riil di lapangan telah memperlihatkan performa mengagumkan dari para perempuan matang yang sukses mendulang capaian luar biasa.

Fenomena positif tersebut menjadi pembuktian sahih jika heroisme untuk terus maju sama sekali tidak ditentukan oleh deretan angka pada usia seseorang.

Bagi Mia pribadi, masa menopause sudah sepatutnya dipandang sebagai fase natural dari rantai perjalanan hidup, dan bukan diposisikan selaku titik final dari rupa-rupa peluang emas yang masih membentang.

Mia menegaskan kembali bahwa perempuan berkepala empat ke atas tetap berhak menggantungkan mimpi besar, baik dalam urusan tangga karier, jenjang edukasi, hobi olahraga, hingga ruang lingkup privasi.

“Di umur-umur 40-an itu masih boleh banget jika perempuan punya mimpi, keinginan atau tujuan hidup tertentu. Usia itu tidak menghalangi semua mimpi yang ada,” ujarnya.

Ia menilai, kaum hawa justru memegang keunggulan berupa kematangan emosional dan pengalaman hidup yang jauh lebih komprehensif ketika menginjak umur tersebut.

Modal berharga itu dapat difungsikan sebagai instrumen penting untuk memformulasi keputusan berat, memetakan kompas kehidupan, serta membidik target yang dahulu belum sempat terwujud.

Dinamika perubahan tubuh di kala perimenopause dan menopause memang berpotensi memunculkan sekelompok tantangan tersendiri bagi tubuh.

Kendati demikian, situasi transisi fisik tersebut bukan menjadi pembenaran untuk berhenti mematok visi baru dalam hidup.

Sebaliknya, fase ini justru dapat dioptimalkan sebagai momentum berharga bagi perempuan untuk lebih menyelami kepribadian diri sendiri, menyusun skala prioritas, dan menjalani hidup selaras nilai yang ingin digapai.

Walakin terus memompa semangat para perempuan untuk berani bermimpi, Mia tak lupa mengingatkan jika faktor kesehatan badan wajib ditempatkan sebagai fondasi primer.

“Tentunya, kondisi fisik harus fit, mood juga harus bagus. Badan, pikiran, dan mental itu harus dalam kondisi yang baik dan netral, supaya bisa menunjang kami dalam mewujudkan mimpi tersebut,” ungkap Mia.

Siklus perimenopause dan menopause diakui dapat mengintervensi stabilitas metabolisme tubuh serta gejolak kestabilan emosi.

Atas dasar itu, upaya mempertahankan kebugaran fisik, menjaga higienitas tidur, mengatur pola asupan nutrisi, hingga memelihara kesehatan mental menjadi poin yang tidak boleh dikesampingkan.

Tatkala raga dan jiwa berada dalam kondisi prima, seseorang dipastikan bakal jauh lebih siap dalam mengarungi dinamika hambatan serta mempunyai cadangan energi yang memadai untuk beraktivitas.

Harmonisasi antara kebugaran jasmani dan rohani turut menolong kaum perempuan dalam melewati masa peralihan hormon ini secara lebih nyaman sekaligus penuh rasa percaya diri.

Sudut pandang senada turut dilontarkan oleh seorang dokter spesialis kandungan dan ginekologi yang juga dikenal sebagai seksolog, dr. Boyke Dian Nugraha, Sp.OG, MARS.

Menurut penuturannya, bertambahnya usia biologis seseorang sama sekali tidak boleh dijadikan alasan untuk menyudahi langkah dalam mengejar cita-cita.

“Setuju, saya pun di usia 69 tahun ini baru saja naik Gunung Lawu. Meskipun usia tidak muda lagi, sudah andropause ataupun menopause, itu sebaiknya tidak jadi hambatan mimpi kami,” ujar dr. Boyke.

Kisah dari pengalaman pribadinya tersebut memperlihatkan secara gamblang bahwa seseorang masih sangat kapabel melakoni aktivitas ekstrem asalkan benteng pertahanan kesehatan dirawat dengan baik.

Gairah untuk terus menempa diri dan berkembang sepatutnya dirawat dan dipertahankan di setiap anak tangga kehidupan manusia.

Lebih mendalam, dr. Boyke menggarisbawahi bahwa pola hidup aktif yang dijalani di usia senja juga dapat menyemburkan dampak maslahat bagi area lingkungan sekitar.

“Tuhan bilang sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang tetap bermanfaat untuk orang lain,” katanya.

Untaian wejangan tersebut bertindak selaku alarm pengingat jika esensi dari sebuah kehidupan tidak otomatis redup begitu saja ketika seseorang menyentuh fase menopause maupun andropause.

Sebaliknya, momen peralihan itu justru dapat dimanfaatkan sebagai pijakan baru untuk terus melahirkan karya, mendistribusikan pengalaman berharga, serta memancarkan inspirasi bagi orang banyak.

Terkini