INPP Optimis Kejar Target Tahun 2026 Lewat Sektor Properti Komersial

Jumat, 19 Juni 2026 | 02:16:02 WIB
PT Indonesian Paradise Property Tbk.

JAKARTA - PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) menegaskan belum merombak proyeksi target perolehan omzet pada periode 2026 walaupun lini industri properti sedang ditekan oleh lonjakan BI Rate menuju angka 5,75 persen.

Ketahanan performa bisnis emiten berkode saham INPP tersebut terjadi lantaran masih ditopang oleh laju pertumbuhan pos recurring income atau pendapatan berulang yang terbilang solid.

Wakil Presiden Direktur Indonesian Paradise Property Surina menyampaikan bahwa pihak perseroan mematok target pertumbuhan pendapatan yang cukup moderat di kisaran 5 persen sampai 10 persen pada tahun ini.

Surina menjabarkan perseroan membidik pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan melalui langkah pelebaran portofolio properti berkualitas, penguatan fundamental finansial, serta akselerasi transformasi internal korporasi.

Di tengah bergulirnya volatilitas pasar, emiten memilih untuk lebih selektif dalam mengeksekusi proyek-proyek strategis guna memperkokoh basis pundi-pundi pendapatan dalam jangka panjang.

"Kalau melihat dari kondisi saat ini di mana pada kuartal I/2026 posisi recurring income mencapai 90%, jadi kami tidak ada revisi target pertumbuhan," ujarnya dalam Public Expose, Kamis (18/6/2026).

Surina memaparkan pasokan omzet yang bersumber dari pengelolaan pusat perbelanjaan, hotel, serviced apartment, serta aset komersial lainnya mampu memicu perputaran arus kas yang lebih stabil ketimbang skema bisnis konvensional yang cuma bertumpu pada penjualan aset properti tunggal.

Oleh karena itu, manajemen menatap optimis target kinerja tahun ini masih sanggup terealisasi secara maksimal kendati dibayangi oleh sentimen negatif dari tren kenaikan suku bunga perbankan.

"Di tahun 2026 kami tetapkan target pertumbuhan 5%-10%. Kami lebih baik menetapkan target yang moderat namun pencapaian bisa lebih tinggi," imbuhnya.

Presiden Direktur INPP Andri Hadi menilai akselerasi grafik performa dari perseroan ikut diperkuat oleh momentum peresmian proyek 23 Semarang Shopping Center yang telah dilangsungkan pada tanggal 13 Juni 2026.

Kehadiran pusat perbelanjaan anyar tersebut bukan saja memperluas gurita portofolio komersial korporasi, melainkan turut memicu dampak pengganda atau multiplier effect bagi geliat roda ekonomi kawasan sekitar.

Guna menyokong realisasi pertumbuhan tersebut, perseroan menyiapkan alokasi anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) yang menyentuh angka sebesar Rp400 miliar.

Fokus utama manajemen saat ini ialah mengawal kinerja finansial agar tetap tangguh melalui pengerjaan bermacam-macam proyek yang tengah digarap oleh emiten.

Pihak Bank Indonesia sebelumnya menetapkan langkah untuk mengerek suku bunga acuan atau BI Rate menuju posisi 5,75 persen dalam forum Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 17-18 Juni 2026.

Keputusan krusial tersebut dipublikasikan secara langsung oleh Gubernur BI Perry Warjiyo pada saat memaparkan rangkuman hasil akhir RDG pada hari Kamis (18/6/2026).

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 17 dan 18 Juni 2026 memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%," ujar Perry.

Selaras dengan kebijakan tersebut, bank sentral ikut menaikkan suku bunga untuk Deposit Facility menjadi 4,75 persen serta Lending Facility menuju level 6,5 persen.

Perry mengutarakan akselerasi suku bunga ini ditempuh sebagai langkah lanjutan demi mematangkan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global yang masih melanda.

"Serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah," lanjut Perry.

Terkini