Kemendukbangga Sebut Stimulasi Dini Optimalkan Tumbuh Kembang ABK

Selasa, 23 Juni 2026 | 19:55:01 WIB
Anak-anak dengan berkebutuhan khusus saat menerima hadiah dari Gubernur Papua Tengah usai peringatan Hardiknas 2026 di Nabire.

JAKARTA - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menegaskan bahwa pemberian stimulasi sejak dini merupakan faktor utama dalam mengoptimalkan proses tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus.

Pernyataan ini diutarakan oleh Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Nopian Andusti saat menghadiri Kelas Orang Tua Hebat, sebuah rangkaian dari Program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya).

"Tugas kami bukan sekadar menerima keberadaan anak berkebutuhan khusus, melainkan juga memastikan mereka mendapatkan hak yang sama untuk tumbuh, belajar, bermain, dan berkembang. Membangun dunia yang inklusif dimulai dari rumah, melalui penerimaan, dukungan, dan kepercayaan terhadap potensi yang dimiliki setiap anak," ujar dia dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.

Melalui program edukasi pengasuhan ini, Kemendukbangga/BKKBN berkomitmen memperkokoh peran keluarga dalam mendampingi perkembangan anak, di mana para peserta dibekali wawasan serta keahlian pengasuhan yang responsif bagi anak disabilitas.

Di sisi lain, Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Fitri Hartanto menguraikan krusialnya fase 1.000 hari pertama kehidupan sebagai periode emas penentu masa depan anak. Pada masa ini, pembentukan sel otak berjalan amat pesat sehingga memerlukan rangsangan yang tepat serta berkesinambungan.

Ia menilai bahwa dua tahun awal masa hidup anak adalah masa-masa kritis yang wajib diberdayakan secara maksimal, di mana pemberian rangsangan sejatinya bisa diwujudkan lewat metode-metode yang sederhana.

"Interaksi sederhana seperti mengajak anak berbicara, memberi kesempatan bereksplorasi, mengajarkan perilaku yang benar, serta memberikan apresiasi saat anak berhasil melakukan sesuatu merupakan langkah kecil yang dapat memberikan dampak besar bagi tumbuh kembang anak," paparnya.

Fitri menjabarkan bahwa sistem penanganan bagi anak dengan kondisi disabilitas diterapkan lewat tiga tingkatan utama. Langkah awal yaitu preventif sejak dini dengan mencukupi segala keperluan dasar anak, pola asuh yang penuh kasih, stimulasi, proteksi kesehatan ibu hamil, serta konsultasi genetika.

Tahap berikutnya adalah meminimalkan konsekuensi dari gangguan yang telah terdeteksi, contohnya lewat pelacakan dini hambatan perkembangan agar tidak mengendap menjadi disabilitas permanen yang jauh lebih kronis.

Langkah terakhir berupa pencegahan agar kondisi tidak semakin memburuk, yang diimplementasikan melalui asistensi berkala, program terapi, serta pemberian dukungan penuh agar anak tetap mampu belajar dan bersosialisasi dengan optimal.

Terkini