Proses Penuaan Alami Membuat Kelenturan Otot Mata Berkurang

Rabu, 24 Juni 2026 | 21:22:31 WIB
Ilustrasi Lansia.

JAKARTA - Sebagian besar masyarakat mulai merasakan adanya penurunan fungsi indra penglihatan secara signifikan saat menginjak fase usia 40 tahun.

Kegiatan harian yang bersifat sepele layaknya memeriksa pesan masuk di layar gawai, meneliti label kemasan barang, hingga membaca lembaran buku kini terasa kian menyulitkan.

Fenomena gangguan akomodasi visual tersebut di dalam dunia kedokteran diidentifikasi sebagai presbiopia, atau yang akrab diistilahkan oleh masyarakat awam sebagai mata tua.

Kendati jamak dijumpai, tidak sedikit warga yang masih mengira bahwa penurunan tajam penglihatan dekat ini merupakan sebuah penyakit yang datang secara mendadak.

Menurut pemaparan Dokter Konsultan Spesialis Mata Mayapada Eye Centre atau MEC, dr. Zoraya Ariefia Feranthy, Sp.M, presbiopia sejatinya merupakan fase alamiah dari proses degeneratif penuaan tubuh.

Dokter Zoraya menguraikan bahwa presbiopia bermanifestasi saat kapabilitas organ mata dalam menyesuaikan titik fokus terhadap objek berjarak dekat mengalami kemunduran bertahap.

Anomali ini berkaitan erat dengan berkurangnya daya lentur atau elastisitas pada jaringan otot serta kompartemen internal mata yang bertugas menyokong sistem pencahayaan.

“Presbyopia atau mata tua. Elastisitas otot di dalam bola mata yang berfungsi untuk memfokuskan cahaya pada saat kami melihat objek jauh maupun dekat seiring berjalannya waktu akan berubah,” jelas dr. Zoraya.

Imbas dari penurunan kelenturan struktural tersebut, organ visual dituntut memeras tenaga ekstra keras sekadar untuk menangkap objek yang berada dalam radius dekat.

Kondisi inilah yang mendorong sebagian orang secara tidak sadar sering memosisikan gawai atau bahan bacaan mereka lebih jauh agar rangkaian aksara dapat terbaca jernih.

Mata tua pada dasarnya bukan dikategorikan sebagai jenis penyakit menular, melainkan murni perubahan klinis anatomis yang bakal dialami setiap orang dengan derajat keparahan variatif.

Menurut dr. Zoraya, efek penuaan biologis tidak melulu menyerang komponen kulit, persendian, maupun tulang semata, melainkan ikut menggerogoti performa lensa mata.

Seiring bergulirnya waktu, aneka organ tubuh manusia dipastikan mengalami fase kemunduran yang berujung pada penyusutan efisiensi kerja organ bersangkutan.

“Dengan perkembangan usia akan terjadi proses aging. Lutut kami mulai nyeri, punggung mulai kaku-kaku, begitu pun dengan mata,” ujarnya.

Pada indra penglihatan, transformasi tersebut berakibat pada semakin menyempitnya kelenturan mata dalam beralih fokus dari objek berjarak jauh menuju jarak dekat.

Penyusutan elastisitas inilah yang melatarbelakangi mengapa seseorang merasa daya akomodasi matanya tidak lagi seresponsif dan sefleksibel ketika masih berada di usia muda.

“Mata kami mengalami proses kekakuan dalam beradaptasi jauh dan dekat, utamanya pada saat melihat dekat,” kata dr. Zoraya.

Lantaran perkembangannya bergulir secara laten dan perlahan, banyak individu yang tidak langsung mengendus adanya deviasi atau penurunan pada mata mereka.

Keluhan klinis biasanya baru disadari sepenuhnya tatkala ritme produktivitas harian mulai terusik, khususnya pada kerja visual yang menyita konsentrasi dekat berdurasi panjang.

Di samping faktor pertambahan usia kalender, dr. Zoraya mengonfirmasi adanya beberapa stimulus eksternal lain yang mampu mengakselerasi proses degenerasi fungsi mata.

Deretan stimulan tersebut yang membedakan mengapa indikator presbiopia dapat timbul lebih awal atau justru melambat pada masing-masing individu.

“Proses penuaan pada mata dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya faktor genetik, faktor kebiasaan, ada dugaan bahwa bisa disebabkan oleh kebiasaan melihat dekat dengan intensitas yang tinggi,” jelasnya.

Aktivitas memandangi objek jarak dekat secara konstan, seperti menatap monitor komputer, layar ponsel, atau membaca maraton, disinyalir ikut mempercepat kelelahan fokus mata.

Walau demikian, terdapat aspek internal terkuat yang mutlak berada di luar kendali manusia untuk dimodifikasi, yakni cetak biru silsilah garis keturunan.

“Yang sulit untuk kami kendalikan adalah faktor genetik, gitu. Kalau memang ada keturunan proses aging di matanya dini, maka itu akan bisa terjadi lebih cepat walaupun kami memiliki lifestyle yang lebih baik,” ucap dr. Zoraya.

Oleh sebab itu, aksi preventif dalam memelihara higienitas serta kesehatan mata wajib digalakkan sedini mungkin sejak seseorang masih menginjak usia muda.

Meski laju penuaan mustahil dihentikan, adopsi kebiasaan positif dapat memperpanjang masa optimal fungsi mata, dibantu dengan skema pemeriksaan rutin ke dokter spesialis.

Terkini