Panduan Orang Tua Menangani Gejala Alergi Susu Sapi pada Anak

Rabu, 24 Juni 2026 | 22:52:32 WIB
Ilustrasi Susu Sapi.

JAKARTA - Melihat kondisi anak yang tiba-tiba mengalami ruam, muntah, diare, batuk, ataupun keluhan lainnya pasca mengonsumsi susu sapi dapat memicu kepanikan luar biasa bagi para orang tua.

Terlebih lagi apabila keluhan kesehatan yang sama tersebut muncul secara berulang pada tubuh anak Anda.

Dalam situasi krusial seperti ini, orang tua sering kali terburu-buru mencari solusi mandiri, mulai dari menghentikan pemberian susu, mengubah menu makanan, hingga mencari informasi melalui internet.

Padahal, langkah penanganan yang keliru justru berisiko membuat anak mengalami keterlambatan dalam memperoleh tindakan medis yang tepat serta sesuai kebutuhan.

Medical and Scientific Affairs Director Sarihusada, Ray Wagiu Basrowi, menegaskan terdapat beberapa poin penting yang wajib diperhatikan orang tua saat mencurigai anak mengidap alergi susu sapi.

"Yang pertama tentu saja jangan panik, jangan stres, jangan marah-marah, jangan kaget-kaget," kata Ray dalam acara jelang World Allergy Week 2026 bersama Sarihusada.

Menurut Ray, orang tua perlu menjaga ketenangan diri agar mampu melakukan observasi terhadap gejala yang dialami anak secara jauh lebih jernih dan detail.

Keputusan yang diambil secara terburu-buru akibat rasa panik dapat memicu langkah coba-coba produk atau makanan yang justru tidak disarankan tanpa adanya arahan dari pihak medis.

Langkah pertama adalah menenangkan diri sendiri agar orang tua bisa memantau kondisi anak dengan lebih teliti.

Perhatikan gejala spesifik yang muncul, kapan waktu terjadinya, jenis makanan atau minuman yang dikonsumsi, serta apakah keluhan tersebut pernah dirasakan sebelumnya.

Gejala alergi susu sapi dapat muncul pada kulit, saluran cerna, maupun saluran napas, seperti ruam, gatal, muntah, diare, kolik, konstipasi, batuk, pilek alergi, atau napas berbunyi.

"Kami hanya men-screening gejala awal, mencoba menilai gejala awalnya. Setelah gejalanya mulai muncul, itu untuk laporan ke dokter," kata Ray.

Mencari informasi di internet memang diperbolehkan sebagai wawasan, tetapi jangan sampai orang tua mendiagnosis sendiri kondisi anak hanya berdasarkan bacaan atau pengalaman orang lain.

Ray mengingatkan bahwa data di internet tidak selalu sesuai dengan kondisi personal setiap anak, sehingga jangan dijadikan dasar untuk mengganti nutrisi tanpa konsultasi.

Orang tua wajib memastikan sumber pemicu alergi anak melalui prosedur pemeriksaan dokter, bukan dengan cara mencoba-coba produk secara mandiri atau trial and error.

"Kalau sudah memastikan sumber alergennya apa, itu berdasarkan dokter atau hasil screening, jangan trial and error lagi," kata Ray.

Langkah paling aman tentu saja dengan segera berkonsultasi ke dokter, terutama jika gejala dirasa muncul berulang atau orang tua semakin curiga anak mengalami alergi.

Dokter akan membantu memastikan apakah keluhan anak berkaitan dengan alergi, menilai tingkat keparahannya, serta menentukan strategi kebutuhan nutrisi yang tepat bagi sang anak.

Terkini