Kenali Dampak Negatif Membentak Anak terhadap Kesehatan Mental

Rabu, 24 Juni 2026 | 23:05:01 WIB
Ilustrasi Ibus Sedang Memarahi Anaknya.

JAKARTA - Anak-anak saat ini masih berada dalam fase belajar untuk memahami emosi, perilaku, serta cara berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Namun, ketika berada dalam situasi yang melelahkan, sebagian orang tua terkadang tidak kuasa menahan diri dan meluapkan emosi melalui bentakan.

Terdapat dampak bentakan pada psikologis anak yang wajib dipahami oleh para orang tua agar tidak mengulang kesalahan yang sama.

Bentakan bukan sekadar membuat anak merasa sedih atau takut sesaat, melainkan jika terjadi secara berulang, hal ini menjadi bentuk kekerasan emosional.

Akibatnya, anak dapat belajar bahwa kemarahan dan suara keras merupakan satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.

Berikut adalah enam dampak bentakan pada psikologis anak yang perlu diketahui oleh orang tua menurut laman Better Help.

Pertama, meningkatkan stres dan kecemasan anak. Saat sering dibentak, tubuh anak merespons dengan meningkatkan hormon stres sehingga mereka merasa selalu waspada.

Kedua, memicu perilaku agresif. Anak banyak belajar melalui contoh, sehingga jika sering melihat kemarahan, mereka menganggapnya sebagai cara berkomunikasi yang wajar.

Ketiga, membuat anak menarik diri. Sebagian anak memilih diam atau menutup diri karena merasa pendapat serta perasaannya tidak pernah dihargai oleh orang tua.

Keempat, menurunkan rasa percaya diri. Anak dapat merasa dirinya tidak cukup baik atau selalu salah, yang berpotensi terbawa hingga mereka tumbuh dewasa.

Kelima, mengganggu kemampuan sosial dan perilaku. Anak yang sering diperlakukan keras akan kesulitan membangun hubungan sehat dan mudah terlibat konflik.

Keenam, meningkatkan risiko masalah kesehatan mental. Kekerasan verbal berulang berisiko tinggi menyebabkan kecemasan, depresi, hingga pandangan negatif terhadap kehidupan.

Pola komunikasi dalam keluarga memiliki peran sangat besar dalam perkembangan mental anak untuk jangka panjang.

Pada akhirnya, anak membutuhkan bimbingan yang membantu mereka dalam memahami kesalahan, bukan justru menanamkan rasa takut akibat bentakan.

Terkini