Kebiasaan Mengucek Mata Berisiko Buat Silinder Bertambah

Kamis, 25 Juni 2026 | 22:03:32 WIB
Ilustrasi Orang Sedang Mengucek Mata.

JAKARTA -- Mengucek mata sering kali menjadi sebuah respons spontan bagi seseorang ketika area mata terasa gatal, perih, atau tidak nyaman. Tindakan refleks tersebut lumrah dijumpai pada aktivitas kehidupan masyarakat sehari-hari.

Padahal, aktivitas menggosok atau mengucek kelopak mata secara berulang-ulang dengan tekanan yang keras berisiko buruk. Tindakan kurang tepat itu dapat memberikan dampak negatif yang signifikan pada kesehatan organ penglihatan.

Dokter Konsultan Spesialis Mata Mayapada Eye Centre, dr. Zoraya Ariefia Feranthy, Sp.M, memberikan sebuah peringatan penting terkait hal ini. Dirinya mengimbau masyarakat agar tidak menyepelekan kebiasaan mengucek kelopak mata.

Hal tersebut dikarenakan aktivitas mekanis kasar itu dapat berkontribusi memicu perubahan kondisi mata silinder atau astigmatisme. Kerusakan struktur bola mata dapat menjadi konsekuensi logis dari tindakan yang tidak disadari ini.

Berdasarkan pemaparan dr. Zoraya, salah satu dampak krusial yang wajib diwaspadai dari kebiasaan buruk ini ialah perubahan kelainan silinder. Bentuk kornea yang semula normal dapat mengalami distorsi bentuk akibat tekanan eksternal.

Penyakit astigmatisme atau mata silinder sendiri merupakan gangguan penglihatan yang terjadi akibat permukaan kornea tidak berbentuk simetris sempurna. Imbasnya, berkas cahaya masuk gagal difokuskan secara optimal menuju retina.

“Kebiasaan mengucek-ngucek mata bisa bikin silinder kami berubah-ubah, bahkan bisa cenderung ke arah nambah,” jelas dr. Zoraya dalam Media Gathering bersama Mayapada Eye Centre (MEC), di Jakarta Pusat, Sabtu (20/6/2026).

Fenomena pergeseran bentuk struktur tersebut tentu tidak terjadi begitu saja tanpa adanya hukum sebab akibat yang mendasarinya. Kerusakan fisik kornea dipicu oleh adanya energi kinetik kasar yang dihantarkan tangan secara konsisten.

Ketika seseorang menggosok mata berulang kali secara agresif, organ mata akan menerima dampak benturan atau tekanan langsung. Paparan tekanan eksternal berkala inilah yang perlahan merusak integritas arsitektur jaringan kornea.

“Hal ini disebabkan karena adanya direct trauma akibat mengucek mata dengan kasar dan dalam jangka yang menerut,” ujarnya.

Oleh karena itu, aktivitas yang sekilas terlihat sepele dan lumrah ini menyimpan potensi ancaman kesehatan jangka panjang. Risiko fatal mengintai apabila kebiasaan tersebut terus diulang tanpa adanya kesadaran proteksi diri.

Komponen kornea sendiri merupakan lapisan jaringan bening di area terdepan mata yang mengemban tugas memfokuskan cahaya ke retina. Lapisan tipis ini wajib mempertahankan bentuk kelengkungan yang stabil demi penglihatan jernih.

Hantaran tekanan mekanis secara langsung dari jari tangan akibat mengucek dapat memicu deformasi pada permukaan kornea. Jika intensitasnya tinggi, kualitas dan ketajaman daya penglihatan seseorang dipastikan bakal merosot tajam.

“Tekanan secara langsung itu menyebabkan iregulatitas di kornea mata dan juga kelemahan pada kornea,” kata dr. Zoraya.

Kondisi kornea yang telah mengalami perubahan geometri spasial berakibat pada kegagalan pemfokusan berkas cahaya secara presisi. Kelemahan struktural ini merusak kemampuan refraksi alami dari bola mata manusia.

Dampaknya, pandangan mata seseorang akan berubah menjadi buram, kabur, atau kehilangan ketajaman fokus. Efek buruk ini tetap terjadi sekalipun pasien bersangkutan telah memakai alat bantu kacamata dengan ukuran lensa yang sesuai.

Di samping itu, paparan tekanan mekanis yang konstan juga berpotensi memperparah anomali kornea pada pasien berisiko tinggi. Kelompok dengan riwayat kelainan jaringan ikat mata menjadi pihak yang paling rentan mengalami perburukan.

Oleh sebab itu, kesadaran dalam memelihara pola kebiasaan harian yang berkorelasi dengan kesehatan mata menjadi poin krusial. Perlindungan preventif harus dikedepankan demi menjaga kualitas hidup harian yang optimal.

Dokter Zoraya menegaskan bahwa protokol utama yang wajib dieksekusi saat mata didera rasa gatal bukanlah dengan cara menguceknya. Langkah krusial pertama ialah mengidentifikasi faktor pemicu utama yang melandasi gangguan tersebut.

“Paling penting untuk cari tahu penyebab gatalnya apa. Terkadang kami sibuk cari jalan pintas untuk mengobatinya padahal yang penring itu mengetahui sebabnya dulu,” tutur dia.

Sensasi gatal pada organ mata dapat distimulasi oleh aneka rupa faktor lingkungan maupun klinis. Pemicunya mulai dari reaksi alergi, polusi, kondisi mata kering (dry eye), hingga gejala penyakit medis internal tertentu.

Mengingat spektrum faktor penyebabnya terhitung sangat luas, maka metodologi penanganan klinisnya juga tidak dapat disamaratakan. Pengobatan wajib disesuaikan dengan akar masalah agar tidak memicu komplikasi infeksi sekunder.

Sebagai langkah penanganan darurat yang aman, pihak medis menyarankan pengaplikasian metode kompres dingin pada mata. Opsi ini dinilai efektif meredakan rasa tidak nyaman tanpa memicu trauma tekanan pada bola mata.

“Jika merasa gatal di area mata, sebaiknya kompres dingin. Pastikan pakai air matang yang dingin dan kompres menggunakan kapas, jangan dikucek,” kata dia.

Meskipun demikian, terapi kompres air dingin ini tidak serta-merta melenyapkan seluruh keluhan gatal hanya dalam satu kali sesi tindakan. Pasien membutuhkan proses perawatan berkala yang telaten di rumah.

“Tentu tidak bisa hanya satu kali, harus ada beberapa kali pengulangan. Tapi kalau masih begitu juga, berarti ada penyebab lain, bisa jadi peradangan, infeksi, atau ada benda asing yang sudah lama di dalam mata,” terang dr. Zoraya.

Apabila indikasi mata gatal tersebut terus berlanjut dalam durasi lama atau disertai tanda bahaya lain, penanganan medis formal wajib diambil. Gejala penyerta seperti mata merah, rasa nyeri mendalam, dan penurunan tajam penglihatan harus diwaspadai.

Segera jadwalkan pemeriksaan klinis secara komprehensif ke dokter spesialis mata terdekat guna mendapatkan diagnosis akurat. Deteksi dini yang tepat menjamin kesembuhan total pasien tanpa memicu risiko kerusakan permanen pada kornea.

Terkini