Mengenal Penyebab Diare yang Sering Muncul saat Masa Menstruasi

Senin, 29 Juni 2026 | 23:40:31 WIB
Ilustrasi Gangguan siklus menstruasi.

JAKARTA - Dokter kandungan, ginekolog, dan ahli uroginekologi di Rumah Sakit Wanita dan Anak KK (KKH), Jill Lee, menyebut perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh dapat memicu terjadinya diare saat menstruasi.

"Setelah ovulasi, peningkatan kadar progesteron memperlambat pencernaan, yang dapat menyebabkan sembelit," kata Lee dalam siaran Channel News Asia pada Senin (29/6).

Konsultan senior di Departemen Uroginekologi KKH itu menjelaskan bahwa hormon seperti estrogen dan progesteron secara langsung memengaruhi pergerakan usus selama siklus bulanan.

Setelah ovulasi, hormon progesteron meningkat dan kedua hormon tersebut tetap tinggi sebelum menurun jika kehamilan tidak terjadi. Interaksi keduanya dapat menyebabkan perubahan pola buang air besar secara bergantian.

"Tepat sebelum menstruasi, kadar estrogen dan progesteron turun tajam dan ini membuat otot usus berkontraksi lebih cepat, menyebabkan buang air besar lebih cepat," ucapnya.

Beberapa kondisi kesehatan membuat wanita lebih rentan terhadap perubahan tersebut. Salah satunya adalah sindrom iritasi usus (IBS) yang memiliki sensitivitas nyeri tinggi dan sering memburuk selama menstruasi.

Lee mengatakan penelitian menunjukkan bahwa 40 hingga 50 persen wanita dengan IBS mengalami gejala usus yang memburuk seperti kram, gas berlebih, diare, atau sembelit saat menstruasi.

"Wanita dengan penyakit radang usus (IBD) juga sering mengalami gejala usus yang lebih buruk (seperti sakit perut, demam, inkontinensia feses, dan lendir dalam feses) tepat saat menstruasi. sebelum dan selama periode menstruasi kami, dengan diare sebagai gejala yang paling umum muncul," tambahnya.

Di samping itu, konsultan dokter keluarga di Tucker Medical, Dr. June Tan Sheren, menyebut bahwa selama menstruasi terjadi peningkatan senyawa mirip hormon yang dikenal sebagai prostaglandin.

Senyawa ini memiliki banyak fungsi dalam tubuh, termasuk memediasi peradangan, aliran darah, nyeri, serta kontraksi rahim.

"Peningkatan prostaglandin selama menstruasi tidak hanya merangsang kontraksi rahim tetapi juga meningkatkan pergerakan saluran pencernaan, yang menyebabkan buang air besar lebih encer dan lebih sering pada banyak wanita selama menstruasi kami," katanya.

Dr. Sheren menambahkan bahwa stres dan kecemasan dapat meningkatkan sensitivitas usus sehingga memperburuk perubahan yang berhubungan dengan menstruasi.

Gejala sindrom pramenstruasi (PMS) seperti kembung juga merupakan akibat dari perubahan hormonal. Kadar progesteron yang tinggi berkontribusi pada gerak makanan lebih lambat yang mengakibatkan sembelit.

Hormon pada fase pramenstruasi juga menyebabkan retensi cairan dan kongesti pembuluh darah panggul, yang menambah rasa berat di perut bagian bawah serta meningkatkan persepsi kembung.

Terkini