Menilik Keunikan Motif dan Warna Batik Betawi dari Kampung Gandaria

Senin, 29 Juni 2026 | 00:13:01 WIB
Ilustrasi Batik Betawi.

JAKARTA - Setiap wilayah di Jakarta memiliki motif batik Betawi dengan ciri khas tersendiri. Di Jakarta Selatan, keunikan corak lokal tersebut salah satunya dapat ditemukan melalui karya rumah produksi Gandaria Batik Betawi.

Usaha yang berlokasi di Gandaria Selatan, Cilandak, ini mulai dirintis pada tahun 2012. Keahlian membatik di keluarga ini bermula dari rekam jejak sang ibu yang pada masa mudanya sempat menjadi pembuat wastra.

"Sebenarnya seni dari orangtua, tapi pengembangan dari pembinanya itu sendiri Ibu Sumiati," ungkap Nur, Pemilik Gandaria Batik Betawi, di mal Gandaria City, Jakarta Selatan, Senin (29/6/2026).

Sumiati merupakan perajin asal Bekasi yang memberikan pembinaan awal untuk mempertajam kemampuan Nur. Setelah tiga bulan mendalami teknik membatik, Nur sukses merilis berbagai desain orisinal yang memiliki identitas kuat.

Pemilihan nama merek ini merujuk pada sejarah tempat kelahiran Nur di Kampung Gandaria. Awalnya, ragam motif yang diciptakan sangat kental dengan unsur lokal seperti buah gandaria, alat musik gambus, hingga ornamen gigi balang.

Desain tersebut berkembang setelah usahanya bergabung dengan Dekranasda Provinsi DKI Jakarta yang mewajibkan adanya unsur flora dan fauna. Arahan ini memicu kreativitasnya untuk mengangkat kekayaan alam Jakarta Selatan.

"Karena kan Jakarta Selatan itu kan rambutan ikonnya, rambutan rapiah, dan burung gelatik. Jadi aku bikin motif sendiri," tutur Nur. Ia juga merancang corak bambu sri gunting yang merepresentasikan harapan agar pemakainya hidup makmur.

Sentuhan lokal disematkan pada bagian tumpal kain. Jika pembatik lain umumnya mengisi bagian tersebut dengan bentuk pucuk rebung, ia berkreasi dengan meletakkan gambar ondel-ondel sebagai ciri khas budaya Betawi.

Nur juga menciptakan terobosan motif ceplok yang memadukan berbagai elemen ikonik dalam satu bidang visual. "Awalnya coba pasarannya, 'Gimana nih kalau motif batik saya paduin ceplok-ceplok begini?'. Ternyata orang suka juga," ungkap Nur.

Dalam satu kain, pembeli dapat menemukan perpaduan buah rambutan, burung gelatik, hingga siluet Monumen Nasional (Monas). Ia menambahkan detail garis atau bunga sepatu agar komposisinya tidak terlihat kaku.

Keunikan lain terletak pada palet warna yang berani. Berbeda dengan nuansa sogan ala Jawa, karya Nur didominasi warna merah, oranye, serta hijau terang yang merepresentasikan karakter masyarakat Betawi yang dinamis.

"Memang perpaduan warna yang norak-norak, merah, oren dijadiin satu. Orang jadi lebih mengenalnya kayak, ya memang (orang Betawi) sifatnya seperti itu," pungkas Nur.

Terkini