Ekspansi di Asia Tenggara, GCL ET Lirik Pasar Pusat Data AI RI

Selasa, 30 Juni 2026 | 03:09:31 WIB
GCL ET Gandeng Mitra Lokal Kembangkan Pusat Data AI Indonesia [FOTO: NET].

JAKARTA - Perusahaan energi terbarukan asal China, GCL Energy Technology alias GCL ET, tengah menelisik peluang pembangunan pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Indonesia sebagai bagian dari rencana ekspansi global perusahaan di kawasan Asia Tenggara.

"Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan utama dalam strategi internasional pusat data AI GCL ET, terutama Malaysia, Indonesia, dan Thailand," kata Head of Strategic Development Center GCL Energy Technology, Fanzhong Zeng, dalam keterangan tertulis kepada ANTARA di Beijing, Senin (29/6).

Fanzhong menguraikan bahwa Indonesia menjadi salah satu pasar yang menarik atensi perusahaannya, di samping Malaysia dan Thailand, lantaran posisinya yang dekat dengan Singapura, kemajuan ekonomi digital, serta limpahan potensi sumber daya energi yang menunjang.

Menurut dia, kedudukan Singapura sebagai pusat infrastruktur digital sekaligus pusat data di Asia memicu pengerjaan proyek-proyek baru di negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, menyusul adanya keterbatasan lahan dan daya tampung listrik di Singapura.

Fanzhong membeberkan bahwa perusahaan yang berbasis di Suzhou, Provinsi Jiangsu tersebut, gencar menjejaki prospek bisnis pusat data AI di Malaysia dan Indonesia bersama dengan mitra lokal demi menyokong kemajuan industri ini.

Peluang mendirikan pusat data AI, tutur Fanzhong, bukan cuma berkelindan dengan keperluan komputasi, melainkan juga terkait pasokan energi yang stabil, ramah lingkungan, serta efisien.

"Setiap pasar memiliki struktur energi, kebutuhan pelanggan, dan ekosistem industri yang berbeda. Karena itu, kami tidak akan sekadar menyalin satu model yang sama, tetapi bekerja dengan mitra lokal untuk mencari model kerja sama yang sesuai dengan kondisi pasar setempat," kata dia lagi.

GCL ET, ucap Fanzhong, meramu solusi terintegrasi bagi proyek pusat data AI lewat metode yang menyatukan energi angin, surya, penyimpanan energi, pembangkit gas, serta infrastruktur komputasi ke dalam sebuah sistem terpadu.

Fanzhong menyebutkan skema tersebut dimaksudkan demi menjawab tantangan dalam pengembangan pusat data AI, khususnya di area dengan kapasitas jaringan listrik yang belum sepenuhnya mampu meladeni kebutuhan pusat data berskala raksasa secara kilat.

Menurut dia, ledakan AI di tingkat global memicu kebutuhan daya komputasi yang terus melonjak. Oleh sebab itu, korporasi melihat kaitan antara energi dan komputasi kini kian erat.

"Gelombang AI saat ini sejalan dengan strategi kami untuk mengintegrasikan energi dan daya komputasi," kata Fanzhong lagi.

Di samping itu, ada dua haluan utama dalam strategi integrasi energi dan daya komputasi. Pertama, "powering computing" di mana GCL ET mendayagunakan kemampuan di bidang pembangkitan energi, manajemen energi, serta perdagangan listrik demi memasok solusi energi yang lebih terjangkau, tepercaya, dan bersih untuk pusat data AI.

Haluan kedua ialah "empowering energy with AI", yakni pemanfaatan AI guna mendongkrak efisiensi di sektor energi, termasuk dalam tata kelola pembangkit energi terbarukan, stasiun pengisian daya kendaraan listrik, sistem perdagangan listrik, hingga tata pengaturan beban energi.

"Dengan menggabungkan dua pendekatan tersebut, kami membangun ekosistem tertutup antara energi dan daya komputasi," ujar dia.

GCL ET semenjak 2023 sudah mulai menanamkan investasi pada layanan daya komputasi dengan taksiran nilai berkisar 800 juta RMB (setara Rp2,1 triliun), termasuk untuk penyediaan infrastruktur komputasi AI yang berbasis sistem NVIDIA A800 dan H800.

GCL ET sejatinya sebelum ini lebih familier sebagai perusahaan investasi dan layanan energi. Kendati begitu, perusahaan tersebut saat ini melebarkan sayap bisnisnya menjadi penyedia layanan berbasis teknologi yang menyatukan aspek energi, komputasi, sekaligus perdagangan listrik.

Terkini