BPS Prediksi Produksi Jagung Nasional Melambat Semester 2 Tahun 2026

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:42:01 WIB
Ilusytasi Produksi Jagung.

JAKARTA - Prospek produksi jagung nasional terindikasi mulai kehilangan momentum saat memasuki periode semester II/2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan area panen beserta hasil produksi jagung sepanjang Juni–Agustus akan menyusut dari tahun lalu, sehingga laju pertumbuhan produksi periode Januari–Agustus terpantau hampir jalan di tempat.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono memaparkan luas lahan panen jagung pipilan pada Mei 2026 berada di angka 0,21 juta hektare, atau naik jika dibandingkan capaian Mei 2025 yang tercatat sebesar 0,17 juta hektare.

Kendati demikian, potensi area panen sepanjang Juni sampai Agustus diperkirakan hanya menyentuh 0,72 juta hektare, alias merosot 2,36 persen jika disandingkan dengan kurun waktu yang sama di tahun lalu.

Melihat dinamika itu, akumulasi luas lahan panen jagung pipilan selama Januari–Agustus 2026 diperkirakan berada di angka 1,97 juta hektare, atau melorot berkisar 0,49 persen daripada periode yang sama pada 2025.

Selaras dengan hal itu, volume produksi untuk jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen sepanjang Mei diprediksi menyentuh 1,18 juta ton, jumlah yang lebih tinggi dari realisasi Mei tahun lalu sebesar 0,99 juta ton.

Namun demikian, potensi hasil panen pada Juni–Agustus diproyeksikan hanya sebesar 4,23 juta ton, yang berarti mengalami penurunan sekitar 4,39 persen secara tahunan.

Secara akumulatif, hasil produksi jagung pipilan kering sepanjang Januari–Agustus 2026 diperkirakan mencapai 11,43 juta ton, angka yang cuma bertambah sekitar 0,002 juta ton atau 0,02 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Ateng menerangkan bahwa seluruh kalkulasi tersebut statusnya masih bersifat sementara serta sangat dinamis mengikuti perkembangan kondisi area pertanaman secara langsung di lapangan.

"Potensi luas panen ini masih dapat berubah bergantung pada kondisi di lapangan, termasuk serangan hama, organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, maupun perubahan waktu panen oleh petani," ujarnya dalam rilis data BPS Juni 2026, Rabu (1/7/2026).

Gejala perlambatan hasil produksi di paruh kedua tahun ini memperlihatkan bahwa tren kenaikan panen di awal tahun belum sanggup mempertahankan laju pertumbuhan sampai akhir musim tanam.

Di kala ancaman musim kemarau serta risiko El Nino kian menguat, keberhasilan dalam mengawal produktivitas tanaman jagung akan menjadi kunci utama dalam menjaga pasokan dalam negeri, khususnya demi memenuhi kebutuhan industri pakan ternak.

Terkini