Dampak Libur Sekolah Bikin Harga Cabai dan Tomat di Pati Kompak Turun

Kamis, 02 Juli 2026 | 21:51:32 WIB
Ilustrasi Cabai.

JAKARTA - Libur sekolah yang membuat operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berhenti untuk sementara waktu mulai memberikan dampak terhadap stabilitas harga sejumlah komoditas bahan pokok di pasar tradisional.

Menurunnya tingkat penyerapan bahan pangan demi pemenuhan kebutuhan dapur MBG menyebabkan harga cabai, tomat, sampai bermacam-macam jenis sayuran mengalami penurunan dalam kurun beberapa pekan belakangan.

Situasi tersebut dirasakan secara langsung oleh para pedagang di Pasar Puri Baru, Kabupaten Pati.

Salah seorang pedagang sayur bernama Siti Zulaikah menyampaikan bahwa mayoritas komoditas hortikultura sekarang ini sedang menghadapi penurunan harga bila disandingkan dengan beberapa pekan lalu.

"Cabai, sayur-sayuran pada turun semua," ujarnya saat ditemui di Pasar Puri Baru, Kamis (2/7/2026).

Menurut penuturannya, harga cabai merah yang mulanya sempat menginjak kisaran Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogram, kini melorot menjadi kisaran Rp35.000 per kilogram. Penurunan ini mulai dirasakan sejak sekitar dua sampai tiga minggu terakhir.

Walaupun harga komoditas menjadi lebih murah, situasi di pasar terpantau masih tergolong sepi. Kendati begitu, pola belanja masyarakat mengalami pergeseran lantaran harga yang menjadi semakin terjangkau.

"Kalau sekarang pembeli biasanya langsung beli lebih banyak, seperempat kilogram sekalian karena harganya lebih murah," katanya.

Bukan cuma cabai, harga jual bawang merah pun mulai memperlihatkan adanya koreksi. Jika sebelumnya sempat menyentuh angka Rp50.000 hingga Rp60.000 per kilogram, kini harganya berada di kisaran Rp40.000 per kilogram.

Di sisi lain, harga tomat turut merosot dengan cukup signifikan. Dari yang tadinya menembus kisaran Rp18.000 per kilogram, kini dipasarkan antara Rp13.000 hingga Rp15.000 per kilogram, tergantung pada kualitas barang.

Namun demikian, tidak seluruh komoditas pangan mengalami penurunan harga. Zulaikah menuturkan bahwa harga untuk komoditas wortel serta kentang terpantau masih relatif tinggi.

"Wortel masih sekitar Rp 17.000 per kilogram, kentang Rp 18.000. Belum ada penurunan berarti," jelasnya.

Guna mengantisipasi kerugian karena barang dagangan tidak laku terjual, para pedagang saat ini memilih untuk lebih berhati-hati ketika menyetok barang.

"Kalau barang masih ada ya belinya sedikit. Kalau sudah habis baru ambil banyak," tuturnya.

Secara terpisah, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Pati, Indyah Tri Astuti, memaparkan bahwa kemerosotan harga bahan pokok ini disulut oleh dua faktor utama.

Faktor pertama yaitu saat ini masih berada dalam momen bulan Muharam, yang mana secara tradisi masyarakat Jawa dinilai relatif jarang melangsungkan hajatan besar sehingga permintaan pasar terhadap bahan pangan otomatis berkurang.

"Kondisi ini memang menjadi pola yang hampir terjadi setiap tahun pada bulan Muharam," katanya.

Faktor kedua ialah berhentinya operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk sementara waktu akibat masa libur sekolah. Dampaknya, keperluan bahan baku untuk Program Makan Bergizi Gratis ikut menyusut sehingga penyerapan komoditas pangan di pasar menurun.

Menurunnya angka permintaan tersebut menjadikan ketersediaan pasokan di pasar menjadi lebih longgar, sehingga mendorong harga berbagai komoditas hortikultura merosot dalam beberapa pekan terakhir.

Terkini