Mengapa Selesainya Situationship Bikin Patah Hati Setengah Mati

Kamis, 02 Juli 2026 | 02:54:31 WIB
Ilustrasi Putus Hubungan.

JAKARTA - Rasa hancur dan patah hati yang paling hebat terkadang tidak bersumber dari runtuhnya sebuah jalinan asmara yang sah, melainkan dari akhir sebuah situationship atau ikatan kedekatan tanpa status yang jelas.

Banyak orang yang didapati mengalami fase kedukaan emosional luar biasa setelah menyudahi kedekatan yang usianya bahkan tergolong masih seumur jagung.

Fenomena psikologis ini kerap kali mendatangkan rasa bingung yang amat sangat, bukan hanya untuk subjek yang menjalani kisah tersebut melainkan juga bagi lingkaran orang-orang terdekat di sekelilingnya.

Anda bisa saja mendadak meneteskan air mata hanya karena ada kawan yang menanyakan kabar perihal keberadaan pria tersebut, dengan sensasi kesedihan mendalam layaknya seseorang yang baru saja bercerai pasca mengarungi biduk rumah tangga selama puluhan tahun.

Lantas, faktor apa saja yang menjadi pemicu di balik timbulnya rasa sakit yang begitu hebat tersebut?

Fase awal pendekatan bersama dengan figur lawan jenis yang sudah lama diidam-idamkan merupakan sebuah ruang yang sangat ideal bagi tumbuhnya jenis asmara yang bersifat adiktif.

Lantaran tidak adanya komitmen kepastian status, aliran perhatian serta curahan kasih sayang yang didapatkan oleh seseorang menjadi sangat fluktuatif, yang pada gilirannya memicu sensasi gejolak emosional naik turun secara ekstrem di dalam otak.

"Ada romansa dan kesenangan yang penuh gairah, lalu beberapa hari berjarak, ada penghindaran, ketidakpastian, dan pesan yang campur aduk pada hari-hari lainnya," ujar terapis Naomi Bernstein, PsyD, menyadur Cosmopolitan, Rabu (1/7/2026).

Kondisi tersebut otomatis memicu seseorang yang sangat mendambakan komitmen akan terus merasa "menagih" pasokan dopamin dosis tinggi yang pernah ia rasakan sewaktu melewati masa-masa indah.

"Dalam penelitian psikologi, ini disebut 'penguatan intermiten' (intermittent reinforcement), dan ini adalah jenis penghargaan yang paling kuat dan membuat kecanduan dari semuanya," lanjut dia.

Maka dari itu tidak mengherankan apabila di saat hubungan tersebut menemui jalan buntu dan berakhir, Anda pada dasarnya tengah merasakan gejala deprivasi emosional yang mirip dengan sakau akibat putus obat.

"Ketika kamu tidak lagi mendapatkan lonjakan dopamin, kamu hancur, karenanya muncul perasaan depresi dan kecemasan atas orang yang memberi rasa mabuk kepayang itu," kata terapis Lindsey Brock.

Terdapat sebuah latar belakang khusus mengapa durasi waktu tiga bulan kerap kali menjelma sebagai titik krusial dalam masa-masa pendekatan dua insan manusia.

Menurut analisis Bernstein, rentang tiga bulan merupakan fase krusial di mana luapan gairah awal semestinya mulai bertransisi menuju fase kelekatan emosional yang lebih mendalam.

Pada titik jenuh inilah, salah satu pihak yang kedapatan sudah menaruh keterikatan hati lebih besar biasanya mulai menyuarakan tuntutan untuk mendapatkan kejelasan status hubungan.

Sering kali, timbulnya desakan komitmen ini justru menjadi bumerang yang memicu akhir tragis dan selesainya jalinan kedekatan tersebut.

Kondisi perpisahan ini terasa seperti dipaksa berhenti melangkah tepat di tengah-tengah berlangsungnya fase bulan madu yang indah.

Sepanjang periode tiga bulan pertama, jalinan kedekatan masih dipenuhi oleh romansa manis dan Anda belum memiliki porsi waktu yang cukup untuk mengidentifikasi sisi buruk atau kelemahan dari karakternya.

Dampaknya, Anda justru terjebak dalam perangkap ekspektasi indah mengenai sosoknya, disertai dengan angan-angan tinggi tentang bagaimana indahnya masa depan hubungan tersebut jika berlanjut.

"Sangat sulit bagi kebanyakan dari kami untuk menoleransi ketidakpastian, yang membuatnya hampir jadi kebiasaan bagi otak kami untuk mengisi kekosongan dari hal-hal yang tidak diketahui dalam hidup," kata Brock.

Padahal menurut pandangan Brock, segala rupa asumsi manis tersebut belum tentu terbukti benar di dunia nyata, dan hal inilah yang membuat proses pemulihan batin pasca putus menjadi berlipat gDouble lebih sukar.

Aspek pamungkas yang mengakibatkan lambatnya proses pemulihan hati adalah adanya kecenderungan dari dalam diri untuk terus-menerus menyangkal perasaan yang sesungguhnya.

Anda mungkin secara sadar berupaya meyakinkan diri sendiri bahwa kisah tersebut bukanlah sebuah jalinan asmara yang nyata, sehingga Anda menganggap diri tidak memiliki hak untuk meratapi kesedihan.

Padahal, tindakan mengabaikan serta meremehkan luapan emosi sedih justru menjadi faktor utama yang membuat fase penyembuhan luka batin menjadi kian tersendat.

"Menghakimi perasaan kami membuatnya makin sulit untuk memproses dan melepaskannya," tegas Brock.

"Hubungan yang singkat masih dapat memicu perasaan sedih, penolakan, atau kekecewaan mendalam yang datang seiring dengan perubahan rencana, impian, atau keinginan masa depan," imbuh dia.

Hanya karena lembaran kisah asmara yang Anda lalui tidak memenuhi standar umum sosial sebagai sebuah relasi yang serius, bukan berarti Anda tidak berhak untuk meratapi rasa kehilangan tersebut.

Terkini