Dampak Buruk Kerusakan Gigi pada Stabilitas Mental Anak

Kamis, 02 Juli 2026 | 03:56:31 WIB
Hubungan Mengejutkan Kebersihan Gigi dan Kesehatan Mental Anak [FOTO: NET].

JAKARTA - Perawatan kebersihan gigi dan mulut sepanjang ini lazimnya cuma dikaitkan dengan fenomena gigi berlubang atau tingkat kesegaran napas semata. Padahal, kondisi higienitas gigi ternyata juga memiliki sangkut paut dengan ranah kesehatan mental.

C.S. Mott Children’s Hospital National Poll on Children’s Health pada tahun 2025 melangsungkan riset yang melibatkan sebanyak 1.801 orang tua yang memiliki anak berumur 4 sampai 17 tahun. 

Riset ini menyoroti perihal bagaimana kebiasaan harian memberikan imbas langsung terhadap kesehatan mulut mereka. Rekaman data memperlihatkan bahwa 36 persen anak mendapati gangguan seperti gigi berlubang, perubahan warna gigi, rasa nyeri, hingga problem gusi dalam kurun waktu dua tahun belakangan. 

Fakta yang mencengangkan, cuma tiga dari lima orang tua yang memastikan buah hatinya rutin membersihkan gigi dua kali dalam sehari.

Anak dengan jenis kelamin laki-laki pun terdata memiliki kecenderungan lebih malas menggosok gigi atau memanfaatkan benang gigi secara rutin jika dikomparasikan dengan anak perempuan.

Di samping itu, keluhan perihal bau mulut pada anak kerap kali dilewati begitu saja. Kendati lebih dari sepertiga orang tua mengerti bahwa napas anaknya kurang sedap, mayoritas hanya menilainya sebagai aroma mulut yang lumrah ketika baru bangun tidur. Padahal, indikasi ini bertalian sangat erat dengan minimnya rutinitas pemeliharaan gigi.

Komplikasi yang bisa timbul dari masalah gigi

Tatkala kebersihan gigi serta mulut dibiarkan terbengkalai, rentetan komplikasi medis telah bersiap mengintai.

"Gigi berlubang adalah masalah nomor satu, diikuti oleh radang gusi, erosi enamel, dan apa yang saya sebut sebagai ketidakseimbangan mikrobioma," kata dokter gigi Kami Hoss.

Adapun problem ketidakseimbangan mikrobioma ini termanifestasi sebagai aroma mulut kronis, kasus gigi berlubang yang berulang bahkan pada anak-anak yang rajin menggosok gigi, hingga gejala gangguan gusi dini.

Dampak buruk kerusakan gigi pada stabilitas mental dan perilaku

Imbas negatif dari kerusakan organ gigi nyatanya tidak berhenti pada aspek fisik semata, melainkan dapat merembet hingga menyentuh urusan stabilitas mental. Riset pada tahun 2013 mendapati hasil bahwa kondisi gigi merupakan celah utama yang paling sering diincar oleh para pelaku perundungan di lingkungan sekolah. 

Anak yang berulang kali diejek akibat bentuk senyuman atau struktur giginya, mempunyai kecenderungan merasa rendah diri sekaligus enggan untuk berangkat ke sekolah. Pada titik akhir, aksi perundungan ini memicu terjadinya isolasi sosial hingga gangguan depresi.

Bukan hanya rentan menjadi sasaran ejekan, rasa nyeri yang tidak ditanggulangi akibat pembusukan gigi juga sanggup mengusik stabilitas emosional anak secara drastis.

"Seorang anak dengan gigi berlubang yang tidak dirawat mungkin hidup dengan rasa sakit ringan setiap hari," ujar dr. Hoss.

Lantaran menahan rasa sakit secara terus-menerus, watak anak dapat bergeser menjadi lebih temperamental.

"Mereka tidak bisa berkonsentrasi. Mereka mudah marah. Saya pernah melihat anak-anak salah didiagnosis dengan gangguan perilaku ketika masalah sebenarnya adalah sakit gigi yang belum pernah diatasi," tambah dia.

Pengaruh gaya hidup dan ekspektasi media sosial

Kabar baiknya, tingkat kesadaran dari orang tua modern terkait pemeliharaan mulut berangsur membaik. Dokter Hoss memaparkan, mereka kerap melempar pertanyaan seputar kandungan pada pasta gigi, mikrobioma, serta bagaimana area mulut terkoneksi dengan bagian tubuh yang lain.

Kendati demikian, anak-anak zaman sekarang justru dihadapkan pada pola makan yang kurang sehat. Tingginya konsumsi makanan olahan, kebiasaan mengemil, hingga jenis minuman asam, memiliki risiko besar merusak lapisan pelindung gigi mereka.

Di sisi lain, paparan jagat maya berhasil memperparah rasa tidak percaya diri terhadap penampilan fisik mereka sendiri.

"Media sosial membuat anak-anak sangat sadar akan penampilan mereka pada usia yang lebih muda. Saya memiliki pasien yang baru berusia 8 tahun menanyakan tentang pemutihan gigi," ungkap dr. Hoss.

Ekspektasi yang tidak realistis sebagai imbas dari media sosial ini memicu lahirnya fenomena yang memprihatinkan.

Terkini