Waspada Perdarahan Setelah Menopause Gejala Kanker Lapisan Rahim

Kamis, 02 Juli 2026 | 05:55:31 WIB
Ilustrasi organ reproduksi perempuan.

JAKARTA - Perdarahan yang muncul setelah masa menopause kerap kali dianggap sebagai bagian dari transisi hormonal yang wajar. Padahal, kondisi ini dapat menjadi indikasi awal hadirnya kanker endometrium, yaitu kanker pada bagian lapisan dalam rahim.

Sayangnya, banyak kaum perempuan mengabaikan tanda tersebut lantaran mengiranya sebagai gangguan menstruasi biasa atau proses alamiah semata. Keluhan ini sering dilewati begitu saja tanpa adanya pemeriksaan medis yang mendalam.

"Perdarahan di usia masuk kepala lima sering dianggap sebagai 'darah penghabisan' sebelum menopause. Padahal, setiap perdarahan pasca menopause harus dievaluasi. Memang belum tentu kanker, tapi tetap perlu dicek," kata dr. Renny Anggia Julianti, Sp. O.G, Subsp. Onk di acara temu media yang diadakan RS Pondok Indah Group (30/6/2026).

Ia memaparkan, kanker endometrium menjadi salah satu jenis kanker yang kerap menyerang wanita usia menopause, walau tidak menutup peluang terjadi pada usia lebih muda. Pada perempuan usia subur, indikasi yang patut diwaspadai adalah siklus haid yang tidak menentu.

"Gejala lain antara lain keputihan bercampur darah, nyeri panggul dan perut bawah, sakit saat berhubungan, atau ukuran rahim membesar," paparnya.

Ia menegaskan, problem haid wajib dikonsultasikan ke dokter. Walau mayoritas dipicu oleh faktor hormon, apabila keluhan tidak membaik setelah diobati, maka investigasi medis lanjutan perlu dijalankan.

Berdasarkan penjelasan dr. Renny, di Indonesia kanker endometrium menduduki peringkat 3 dalam kategori kanker reproduksi perempuan, tepat di bawah kanker serviks dan ovarium. Kasus ini berkaitan erat dengan ketidakseimbangan hormon tubuh.

"Endometrium sangat sensitif pada hormon. Karena itu konsumsi obat yang mengandung estrogen bisa meningkatkan faktor risiko," ujar dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis onkologi ginekologi dari RS Pondok Indah – Bintaro Jaya ini.

Di samping masalah hormon, pemicu lainnya adalah obesitas, minimnya aktivitas fisik, gangguan kesuburan, hingga penyakit metabolik. Penyakit tersebut meliputi diabetes melitus, hipertensi, serta kadar kolesterol yang tinggi.

Menu makanan tidak sehat yang tinggi gula juga patut diwaspadai lantaran sanggup merusak stabilitas hormon dalam tubuh wanita.

"Pola makan tinggi gula, tepung-tepungan, dapat memengaruhi siklus haid, sehingga haid terganggu karena endometriumnya tebal terus. Selain itu, pola makan tidak sehat juga bisa menyebabkan penumpukan sel lemak yang dapat memproduksi estrogen," kata dr. Renny.

Deteksi kanker endometrium umumnya dimulai lewat sesi wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Dokter juga dapat menganjurkan tes pendukung seperti USG atau MRI guna memantau kondisi rahim.

"Untuk diagnosis pasti bisa dilakukan histopatologi untuk mengambil sampel jaringan atau biopsi," katanya.

Data dari pemeriksaan histopatologi tersebut yang nantinya dijadikan landasan utama dalam menentukan diagnosis serta metode penanganan yang paling pas.

Dipaparkan oleh dr. Renny, opsi pengobatan kanker ini meliputi operasi pengangkatan rahim, radioterapi, kemoterapi, hingga terapi hormonal. Bagi pasien usia subur yang masih mendambakan momongan, dokter bisa memberikan opsi terapi penyelamatan kesuburan.

"Bisa tidak angkat rahim tapi disarankan untuk segera program kehamilan. Tapi syaratnya adalah berusia kurang dari 40 tahun dan kankernya masih stadium 1A," kata dr. Renny.

Sampai sekarang, belum tersedia metode skrining khusus untuk mendeteksi penyakit ini. Oleh sebab itu, jangan pernah menyepelekan perubahan siklus haid yang terjadi pada usia menopause.

Terkini