Tips Melatih Kemampuan Membaca Anak Lewat Aktivitas Sehari-hari

Senin, 06 Juli 2026 | 06:19:31 WIB
Ilustrasi Anak Membaca Buku.

JAKARTA - Rutinitas membaca menjadi salah satu pilar krusial bagi fase perkembangan buah hati, mulai dari mengoptimalkan memori, ketajaman berpikir, hingga melatih kefokusan.

Kendati demikian, mengajak si kecil untuk duduk tenang sembari menatap lembaran buku kerap menjadi tantangan besar bagi orang tua, mengingat anak-anak mudah merasa jenuh atau menganggapnya sebagai beban sekolah.

Guna menyiasati problem tersebut, terdapat beragam strategi edukatif yang bisa diterapkan agar buah hati dapat mengasah kemampuan membaca secara natural lewat agenda harian.

Kiat awal yang dapat dicoba yaitu menyelaraskan aktivitas membaca dengan hobi atau kegemaran personal anak. Mereka biasanya bakal jauh lebih bersemangat jika topik bacaan berkaitan erat dengan hal-hal yang mereka sukai.

Bila si kecil gemar dengan dunia sepak bola, satwa purba, atau seni memasak, jadikan ketertarikan tersebut sebagai jembatan utama untuk mengenalkan dunia literasi.

Direktur Hoboken Public Library, Jennie Pu, memaparkan bahwa membaca tidak selalu berarti membuka novel atau buku cerita.

"Saya memberi tahu anak saya yang sangat menyukai sepak bola bahwa membaca berita tentang tim dan pemain favoritnya juga termasuk membaca. Dan ternyata dia jadi banyak membaca berita olahraga," katanya kepada Parents.com.

Langkah kedua yakni melibatkan buah hati dalam kegiatan di dapur atau saat berbelanja ke supermarket. Area dapur dapat diubah menjadi ruang belajar literasi yang interaktif.

Orang tua bisa mengajak anak untuk ikut mengeja resep masakan, tulisan dalam daftar belanjaan, hingga label pada kemasan bahan pangan sewaktu menyiapkan hidangan.

Berdasarkan data Parents, Information and Digital Services Manager Hoboken Public Library, Aimee Harris, menyebutkan agenda simpel ini sekaligus mengasah anak dalam memahami petunjuk serta berhitung.

"Membaca resep dengan teliti sangat penting agar semua langkah dan bahan tidak terlewat," kata Aimee.

Langkah ketiga berupa mengaktifkan fitur teks terjemahan atau subtitle sewaktu anak menyaksikan tayangan visual. Media film atau acara televisi favorit dapat dialihfungsikan sebagai sarana mengasah kepekaan membaca.

Cukup nyalakan teks di bagian bawah layar agar buah hati terbiasa menyelaraskan pelafalan suara yang didengar dengan susunan alfabet yang muncul.

Interim Assistant Library Director Hoboken Public Library, James Cox, mengutarakan metode ini bahkan sangat dianjurkan bagi anak yang mengidap disleksia.

"Cara ini membantunya menghubungkan kata yang didengar dengan tulisan yang dilihat, sehingga membaca menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari tanpa terasa seperti pekerjaan rumah," ujarnya.

Langkah keempat ialah memanfaatkan aneka permainan interaktif sebagai instrumen belajar. Media seperti permainan papan, kartu edukasi, atau simulasi berburu harta karun dapat dimodifikasi menjadi sarana belajar mengeja.

Sebagai contoh, anak diinstruksikan untuk membaca regulasi permainan terlebih dahulu atau memecahkan teka-teki tertulis sebelum melangkah ke babak selanjutnya.

Director of Education Celebree School, Kristen Miller, menilai strategi semacam ini sukses mengubah persepsi membaca menjadi sebuah tantangan yang seru ketimbang sebuah paksaan harian.

"Strategi kreatif membantu mengubah membaca menjadi permainan, rasa ingin tahu, atau teka-teki yang harus dipecahkan," ucap Kristen.

Langkah kelima dengan membiasakan menuliskan memo atau pesan-pesan pendek di area rumah. Orang tua dapat memupuk kegemaran membaca lewat media kertas catatan ringkas.

Selipkan secarik kertas di dalam wadah bekal makanan, tempelkan tulisan unik di area pintu lemari es, atau buat wadah surat khusus keluarga sebagai sarana bertukar pesan harian.

Guru Montessori sekaligus Executive Director Montessori Preschool, Shara Arora, menegaskan bahwa pelatihan membaca tidak harus selalu dijalankan melalui sesi belajar yang kaku atau formal.

"Kalau anak tidak membawa bekal, Anda tetap bisa membuat kotak surat keluarga untuk saling meninggalkan pesan. Anak-anak senang membuka dan membalas pesan pribadi," tutur Shara.

Langkah keenam, agenda membaca bersama secara konvensional bagaimanapun tetap menjadi opsi yang dinilai berfaedah. Orang tua bisa mengemas agenda ini sebagai momen santai selama beberapa menit tiap harinya tanpa menuntut anak menuntaskan satu buku penuh.

Chief Learning Officer Stride, Inc., Niyoka McCoy, menyampaikan bahwa habituasi ini tidak sekadar mendongkrak kecerdasan literasi, melainkan turut membangun kecerdasan emosional pada anak.

"Membaca juga membantu anak membangun empati, kreativitas, kemampuan berbahasa, dan rasa percaya diri," ungkap Niyoka.

Terkini