Emiten Produsen INACO JELI Targetkan Kinerja Pendapatan Naik di 2026

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:58:02 WIB
PT Niramas Utama Tbk. (JELI), produsen makanan dan minuman merek Inaco.

JAKARTA — Emiten produsen makanan dan minuman bermerek INACO, PT Niramas Utama Tbk. (JELI) menetapkan target pencapaian laba bersih dan pendapatan yang lebih tinggi sepanjang tahun 2026 setelah sukses melangsungkan pencatatan saham perdana di bursa.

Direktur JELI, Adhi S. Lukman, mengutarakan bahwa pihak perseroan menatap prospek industri makanan serta minuman dengan sikap optimistis, meskipun kondisi aktivitas manufaktur di tingkat nasional saat ini tengah diterpa tekanan.

Ia menambahkan bahwa langkah investasi yang dieksekusi perusahaan merupakan bagian dari rencana jangka panjang korporasi guna memperkokoh fundamental bisnis secara berkelanjutan.

"Kami berharap tahun ini top line tumbuh sekitar 26%. Bottom line juga harusnya lebih tinggi dari tahun lalu. Kami konsisten memperbaiki mutu, menambah SKU, dan tahun ini ada peluncuran beberapa produk baru," ujar Adhi, Selasa (7/7/2026).

Demi menyokong laju pertumbuhan target tersebut, JELI mengagendakan perluasan kapasitas operasional produksi, perilisan varian produk anyar, hingga penguatan penetrasi ke pasar mancanegara melalui jalur ekspor.

Beberapa produk teranyar dijadwalkan bakal resmi diperkenalkan ke publik pada September dan November 2026 sebagai strategi memperlebar portofolio dagang sekaligus memicu lonjakan angka omzet perusahaan.

Pihak internal perseroan merasa yakin bahwa alokasi modal jangka panjang yang bersumber dari dana segar hasil initial public offering (IPO) akan mampu memperkuat stabilitas usaha di tengah tantangan daya beli publik.

Adhi memaparkan bahwa porsi terbesar dari perolehan dana penawaran umum saham perdana tersebut akan dialokasikan sebagai belanja modal (capex) guna mengerek produktivitas pabrik serta efisiensi kerja.

Sebanyak 70 persen modal IPO diplot untuk pos investasi, dengan rincian 51 persen dipakai memperluas cakupan fasilitas dan kategori varian baru, sementara 18 persen hingga 19 persen diarahkan bagi otomatisasi mesin dan logistik.

"Kami melihat investasi ini untuk jangka panjang. Walaupun jangka pendek ada tantangan, kami yakin industri makanan dan minuman masih memiliki potensi yang sangat besar," katanya.

Saat ini manajemen tengah memacu perluasan volume produksi hingga kisaran 26 persen pada tahun 2026 dari total output eksisting yang kini telah mendekati angka 2 miliar kemasan per tahun.

Rantai fasilitas manufaktur milik JELI tersebar di wilayah Bekasi, Pontianak, Pandaan, serta Sukabumi. Adhi memproeksikan lompatan kinerja masif baru akan kelihatan nyata pada tahun 2028 selepas rampungnya instalasi mesin di akhir 2027.

Fokus pengembangan usaha akan dikonsentrasikan pada lini komoditas Gummy Candy dan Jelly. Kedua sektor ini digadang-gadang akan menjadi mesin penggerak profit baru untuk pasar domestik maupun ekspor.

Menurut kalkulasi Adhi, peluang serapan pasar internasional terhadap kedua jenis produk tersebut tergolong menjanjikan. Hingga kini, JELI telah mendistribusikan produknya ke sekitar 30 negara tujuan ekspor.

Kendati sumbangsih ekspor terhadap total neraca penjualan saat ini masih terhitung minim, perusahaan menargetkan penguatan jangkauan pasar ke India, Filipina, Arab Saudi, Jepang, hingga kawasan Eropa dan Amerika Latin.

"Kami melihat potensi ekspor produk baru akan jauh lebih besar sehingga kontribusinya terhadap pendapatan juga akan meningkat," ujarnya.

Dari sudut pandang makro, Adhi menilai masa depan sektor consumer goods ini tetap cerah lantaran pertumbuhan historisnya konsisten berada di atas angka pertumbuhan ekonomi nasional.

Walau demikian, ia tidak menampik adanya hambatan yang perlu diwaspadai, terutama berkaitan dengan tren penurunan daya beli masyarakat dan dinamika ketidakpastian situasi geopolitik global.

"Challengenya memang daya beli dan kondisi geopolitik. Tapi kami yakin masyarakat tetap membutuhkan makanan dan minuman, sehingga prospek industrinya masih sangat baik," katanya.

Keyakinan tersebut kian diperkuat oleh performa positif neraca keuangan internal perseroan selama dua tahun terakhir. Berdasarkan rilis laporan keuangan periode buku tahun 2025, JELI sukses membukukan total omzet penjualan senilai Rp753,05 miiliar.

Meskipun laju penjualan sempat mengalami penyesuaian turun sebesar 6,02 persen pada tahun 2024 dan kembali terkoreksi 4,49 persen pada tahun 2025, emiten ini terbukti andal dalam mendongkrak profitabilitas bersih secara signifikan.

Rapor laba tahun berjalan emiten melesat hingga 592,50 persen sepanjang tahun 2024 dan kembali mencatatkan tren pertumbuhan positif sebesar 235,50 persen pada tahun 2025.

Terkini