Kenali 7 Tanda Seseorang Terlalu Bergantung pada Pasangan Emosional

Selasa, 07 Juli 2026 | 05:38:01 WIB
Ilustrasi Pasangan.

JAKARTA - Merasa saling membutuhkan satu sama lain merupakan hal yang wajar sekaligus menjadi pilar krusial dalam membina sebuah hubungan asmara yang harmonis.

Namun, keinginan untuk terus bersama atau memperoleh perhatian secara konstan tidak jarang bergeser menjadi ketergantungan emosional yang berlebih. Jika sudah berada di fase ini, seseorang bakal sulit merasa tenang, kehilangan rasa percaya diri, hingga menjadi posesif.

Berdasarkan data dari situs Healthline, keadaan seperti ini dikenal dengan istilah emotional dependency atau ketergantungan emosional di dalam hubungan.

Kondisi tersebut dapat memicu masalah karena saat seluruh kebahagiaan dan rasa aman diserahkan penuh kepada kekasih, beban dalam hubungan akan menjadi semakin berat.

Pihak yang menjadi sandaran akan merasa terbebani lantaran harus terus memberikan kepastian, sedangkan pihak lainnya kian sulit memupuk rasa percaya diri dari dalam dirinya.

Apabila situasi ini terus dibiarkan, lambat laun konflik akan mudah tersulut, memicu kelelahan emosi, hingga membuat hubungan tidak lagi berjalan dengan sehat.

Lantas, apa saja gejala seseorang sudah terlampau bergantung? Ciri pertama adalah kerap meminta validasi karena terus merasa cemas dan butuh kepastian bahwa dirinya dicintai melalui pertanyaan seperti:

"Kamu cinta aku, nggak?" "Beneran kan, kamu ingin menghabiskan waktu bersamaku hari ini?" "Bagaimana penampilanku? Cantik, nggak?" "Kamu nggak pengin putus, kan?"

Merujuk informasi dari Inspired Life Chico, ciri kedua yaitu munculnya rasa cemas berlebihan sewaktu sedang terpisah jarak atau saat pasangan terlambat membalas pesan teks.

Selanjutnya, sebagaimana dirilis Cape Coral Counselor, mereka juga sulit memiliki kehidupan lain di luar hubungan karena mulai melupakan hobi serta lingkaran pertemanan lamanya.

Tanda berikutnya adalah kesulitan dalam menentukan pilihan sendiri, rela mengorbankan segala keperluan pribadi demi kesenangan pasangan, serta dihantui ketakutan besar akan ditinggalkan.

Terakhir, mereka merasa kebahagiaan hidupnya bertumpu penuh pada pasangan, padahal komitmen yang sehat tetap memberikan ruang bagi tiap individu untuk memiliki identitas masing-masing.

Terkini