Laba Operasional Samsung Diproyeksi Melonjak 19 Kali Lipat pada 2026

Selasa, 07 Juli 2026 | 06:11:01 WIB
Ilustrasi Salah Satu Gerai Samsung.

JAKARTA - Perusahaan raksasa Samsung Electronics memberikan estimasi bahwa perolehan laba operasional mereka bakal melesat hingga hampir 19 kali lipat pada periode kuartal II 2026. Pertumbuhan masif ini disokong penuh oleh tingginya tingkat permintaan pasar terhadap pasokan chip memori untuk mengakomodasi kebutuhan teknologi kecerdasan buatan atau AI.

Raksasa teknologi asal Korea Selatan ini memproyeksikan laba operasional mampu menyentuh angka 89,4 triliun won, atau setara dengan kisaran 58,4 miliar dollar AS yang setara Rp1.050 triliun.

Pencapaian luar biasa tersebut sekaligus mengukir rekor baru sebagai perolehan laba operasional kuartalan ketiga yang diraih secara berturut-turut oleh pihak Samsung. Di samping itu, nilai penjualan mereka juga diproyeksi menembus kisaran 171 triliun won, yang mengindikasikan lonjakan lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama pada tahun lalu.

Layaknya tren umum korporasi besar di Korea Selatan, Samsung merilis estimasi performa finansial ini sebagai panduan awal bagi investor sebelum laporan resmi diterbitkan pada akhir Juli.

Seorang analis dari Counterpoint Research, Marc Einstein, memberikan pandangan bahwa proyeksi ini berpotensi menjadi salah satu catatan kinerja kuartalan paling impresif sepanjang sejarah berdirinya Samsung.

"Ini semua berkaitan dengan booming AI karena perusahaan memori terus menikmati gelombang besar yang didorong oleh pasokan terbatas dan permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya," katanya.

Tren peningkatan keuntungan finansial Samsung ini didorong oleh masifnya kebutuhan pasokan komponen chip memori untuk kebutuhan pusat data maupun basis infrastruktur AI. Keterbatasan stok komponen di pasar global membuat nilai jualnya terus merangkak naik, sehingga mendorong pihak Samsung untuk ikut menyesuaikan harga jual produk memori mereka.

Lembaga analisis International Data Corporation menilai fenomena lonjakan permintaan pasar terhadap perangkat chip AI ini merupakan sesuatu yang sangat masif.

"Berbeda dari apa pun yang pernah dialami industri memori," tulis IDC.

Seorang peneliti dari IDC, Bryan Ma, mengemukakan pandangan bahwa tingginya penyerapan komponen dari pusat data AI kini mulai berimbas pada ketersediaan alokasi chip untuk lini gawai elektronik lainnya.

"Kami memperkirakan pasokan akan ketat hingga tahun depan mengingat permintaan yang tak kunjung reda dari pusat data AI," kata Bryan.

Posisi Samsung sendiri merupakan salah satu produsen manufaktur semikonduktor paling masif di skala global saat ini. Korporasi tersebut bertindak sebagai pemasok rantai komponen untuk berbagai perusahaan teknologi dunia, termasuk menyuplai kebutuhan Nvidia dan Google, selain memproduksi chip mandiri untuk jajaran ekosistem gawai mereka sendiri.

Kendati merilis proyeksi pertumbuhan keuntungan yang sangat tinggi, nilai saham Samsung justru terpantau terkoreksi turun hampir 7 persen pada sesi perdagangan hari Selasa di Bursa Seoul.

Penyusutan nilai saham tersebut ditengarai akibat tingginya ekspektasi para investor yang sebelumnya mengharapkan perolehan laba di angka yang jauh lebih tinggi lagi. Walau begitu, nilai kapitalisasi pasar dari Samsung tercatat sudah berhasil meroket hingga lebih dari dua kali lipat terhitung sejak awal periode tahun 2026.

Pada rentang waktu yang sama, nilai kapitalisasi pasar milik kompetitornya yakni SK Hynix juga dilaporkan ikut melesat tajam hingga menembus angka di atas 200 persen.

Pertumbuhan positif dari rapor kinerja kedua produsen komponen semikonduktor tersebut turut memberikan dampak positif bagi pergerakan indeks Kospi yang terpantau sudah menguat di atas 80 persen sepanjang tahun ini.

Adanya tren popularitas AI ini memicu berbagai negara untuk bergerak lebih agresif dalam mempercepat realisasi investasi mereka pada sektor industri semikonduktor.

Tepat pada bulan Juni 2026, pihak pemerintah Korea Selatan secara resmi mengumumkan kucuran dana investasi minimal sebesar 880 miliar dollar AS atau setara Rp15.817 triliun untuk menyokong sektor chip yang dimotori Samsung dan SK Hynix.

Langkah strategis tersebut sengaja digulirkan demi memperkokoh dominasi serta kapasitas produksi semikonduktor dalam negeri Korea Selatan untuk beberapa tahun ke depan.

Peta kompetisi global dipastikan berjalan semakin ketat seiring dengan langkah korporasi teknologi di Jepang, China, serta Taiwan yang terus memacu pembangunan pabrik chip baru guna menjawab tingginya permintaan dunia.

Terkini