Mengenal Aturan Parenting 5:1 demi Memperkuat Kedekatan dengan Anak

Selasa, 07 Juli 2026 | 06:31:01 WIB
Ilustrasi Orang Tua Bonding dengan Anak.

JAKARTA - Terdapat beragam mekanisme yang dapat diimplementasikan oleh kalangan orang tua demi merajut ikatan emosional yang hangat bersama sang buah hati. Salah satu opsi yang dapat ditempuh ialah mengadopsi formula aturan parenting 5:1, yakni sebuah konsep pola asuh yang dipopulerkan oleh psikolog John Gottman.

Menyitir ulasan yang dipublikasikan oleh Parents, regulasi pengasuhan ini mengarahkan figur ayah dan ibu untuk lebih intensif menghadirkan stimulus interaksi positif ketimbang memberikan tindakan koreksi terhadap tingkah laku anak.

Psikolog klinis dr. Carla C. Allan, PhD, memaparkan bahwa cetak biru aturan 5:1 ini sejatinya berhulu dari proyek penelitian John Gottman yang menguliti seputar dinamika hubungan pernikahan.

Dalam konklusi risetnya, jalinan rumah tangga yang mampu bertahan kokoh pada umumnya mengantongi rasio lima bentuk interaksi positif untuk setiap kemunculan satu interaksi negatif. Fondasi prinsip yang serupa ternyata dinilai sangat kompatibel untuk diimplementasikan pada pola hubungan antara orang tua dan anak.

"Ketika orangtua menerapkan aturan 5:1 secara konsisten, mereka memberi teladan dalam mengelola emosi, mengurangi stres dalam keluarga, serta membantu membangun kepercayaan dan ketangguhan pada anak,” tutur dr. Carla kepada Parents.

Seorang psikolog berlisensi dr. Nina Kaiser, PhD, memberikan perumpamaan yang unik mengenai jalinan kedekatan antara pihak orang tua dan anak yang dianalogikan layaknya sebuah rekening tabungan bank.

"Kami perlu memandang hubungan dengan anak layaknya sebuah rekening bank. Kami harus terus melakukan 'setoran' berupa koneksi yang kuat agar memiliki cukup 'saldo' ketika sesekali perlu melakukan 'penarikan', misalnya dalam bentuk koreksi," jelas dr. Nina, dikutip dari Parents.

Mengaplikasikan formula aturan 5:1 di lingkungan rumah bukan berarti menuntut orang tua untuk menghitung secara matematis dan kaku pada setiap sebaran pujian maupun teguran yang terlontar.

Dalam esensi regulasi ini, poin yang paling mendasar adalah melatih kebiasaan personal untuk mengarahkan fokus perhatian pada setiap spektrum perilaku positif yang ditunjukkan oleh anak.

Dr. Nina mengungkapkan bahwa mayoritas orang tua sering kali secara tidak sadar cenderung lebih responsif mendeteksi kekeliruan anak ketimbang mengapresiasi hal baik yang telah dituntaskan.

"Sering kali kami lebih mudah melihat dan mengomentari hal-hal yang salah atau perlu diperbaiki. Sebaliknya, jauh lebih sulit menyadari hal-hal yang sudah berjalan baik atau perilaku positif yang dilakukan anak," ujarnya.

Skenario contohnya tampak ketika anak kedapatan bermain secara harmonis bersama saudaranya, merapikan kembali wadah mainan tanpa perlu diperintah, atau berjuang menyelesaikan tugas sekolah dengan serius.

Momen-momen berharga seperti ini sangat krusial untuk mendapatkan pasokan apresiasi yang layak dari orang tua agar anak memahami jenis tindakan apa yang sebenarnya diharapkan.

Dr. Carla menambahkan bahwa eksistensi manusia pada dasarnya dibekali dengan kecenderungan negativity bias, yakni sebuah kinerja sistem otak yang jauh lebih sensitif menangkap sinyal masalah dibanding aspek positif.

Oleh karena itu, orang tua dituntut melatih kesadaran emosionalnya agar momentum interaksi positif tidak sirna oleh dominasi kebiasaan mengoreksi kesalahan anak.

Ketika mayoritas porsi interaksi antara pihak orang tua dan anak dikemas dalam atmosfer yang suportif, sang anak dipastikan bakal merasa jauh lebih aman, diakui keberadaannya, serta didukung penuh.

"Hubungan yang kuat dan penuh kasih juga mengurangi kebutuhan anak untuk mencari perhatian melalui perilaku negatif. Ketika perhatian diberikan secara konsisten dan tanpa syarat, kemungkinan perilaku mereka berkembang menjadi upaya mencari perhatian akan jauh lebih kecil,” kata dr. Carla.

Seorang pakar psikoterapis Olivia Bergeron, LCSW menjabarkan bahwa fundamental dari skema 5:1 ini sangat relevan untuk diimplementasikan sejak fase anak masih balita hingga menginjak usia remaja.

Hanya saja, instrumen tata cara dalam mendistribusikan bentuk apresiasi tersebut wajib diselaraskan dengan tahapan grafik perkembangan usia mereka masing-masing.

Selanjutnya, dr. Carla memberikan penegasan bahwa indikator angka 5:1 bukanlah sebuah ketetapan absolut yang wajib diaplikasikan secara kaku dan saklek. Rasio tersebut lebih diposisikan sebagai alarm pengingat agar hubungan domestik keluarga lebih dominan diwarnai oleh kehangatan daripada kepungan kritik.

"Anak usia dini mungkin merespons dengan baik terhadap pujian yang antusias dan terbuka," ungkap dr. Carla.

“Sementara remaja biasanya lebih menyukai pengakuan yang tulus dan tidak berlebihan terhadap usaha atau kemampuan mereka. Prinsipnya tetap sama, tetapi cara menyampaikannya perlu berkembang sesuai tahap perkembangan dan kebutuhan mereka akan kemandirian.”

Terkini