Kenali Empat Kebiasaan Malam yang Memicu Risiko Penyakit Jantung

Kamis, 09 Juli 2026 | 05:19:31 WIB
Ilustrasi Begadang.

JAKARTA - Pola aktivitas harian yang dilakukan secara berulang memiliki andil besar dalam memengaruhi tingkat risiko serangan penyakit jantung.

Hal ini termasuk juga sejumlah kebiasaan buruk yang kerap kali dieksekusi oleh sebagian orang ketika memasuki waktu malam hari.

Jantung sendiri memegang peranan vital sebagai organ pemompa darah yang menjamin organ tubuh lainnya dapat berfungsi secara maksimal.

Sangat disayangkan, masih banyak individu yang kurang menyadari bahwa kualitas hidup yang merosot bersumber dari kekeliruan aktivitas malam.

Beberapa contoh nyata dari tindakan tersebut meliputi kebiasaan begadang, paparan cahaya lampu kamar yang benderang, hingga pola tidur berantakan.

Merangkum rilis data ilmiah Harvard Health Publishing, paparan sinar lampu malam hari terbukti mengacaukan kualitas istirahat sekaligus merusak jantung.

Dalam laporan studi JAMA Network Open, individu yang terpapar cahaya lampu benderang pada pukul 00.30 hingga 06.00 memiliki kerentanan tinggi.

Mereka dilaporkan lebih rentan terserang penyakit arteri koroner, stroke, gangguan fibrilasi atrium, hingga risiko fatal berupa gagal jantung.

Fenomena ini dipicu oleh terganggunya ritme sirkadian tubuh yang berujung pada penurunan drastis sistem kerja organ kardiovaskular manusia.

Oleh sebab itu, sangat disarankan untuk meredupkan lampu kamar serta menjauhkan gawai sebelum memejamkan mata agar istirahat berjalan optimal.

Tindakan menunda waktu tidur hingga larut malam juga menjadi faktor krusial yang memperburuk kondisi kesehatan jantung seseorang.

Kelompok orang dengan kecenderungan beraktivitas malam (night owl) mencatatkan rekam medis jantung yang lebih rapuh dari orang normal.

Kondisi tersebut lahir akibat jam biologis internal tubuh dipaksa berjalan tidak selaras dengan ritme rutinitas sosial di siang hari.

Ketidaksesuaian ini secara perlahan merusak sistem metabolisme yang memegang mandat penting dalam menjaga stabilitas kinerja jantung.

Di samping durasi yang kurang, fluktuasi jadwal tidur yang selalu berubah setiap hari juga mendatangkan efek buruk bagi tubuh.

Seseorang yang mempraktikkan jam tidur dan jam bangun secara acak akan mengalami disorientasi pada sistem ritme sirkadian mereka.

Dalam jangka panjang, kekacauan waktu istirahat ini memicu lonjakan tekanan darah tinggi hingga penumpukan sumbatan pembuluh darah.

Faktor pemicu yang tidak kalah berbahaya adalah bertahannya kebiasaan mengonsumsi makanan berat saat malam telah larut.

Langkah ini tidak sekadar memicu obesitas, tetapi juga memicu lonjakan kadar gula darah, kolesterol jahat, serta hipertensi.

Apabila rentetan aktivitas malam yang keliru ini dapat ditekan, peluang untuk terhindar dari penyakit mematikan ini akan terbuka lebar.

Terkini