Aktivitas IPO di BEI Cerminkan Optimisme Pelaku Usaha Menurut Menko

Kamis, 09 Juli 2026 | 06:34:01 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan, maraknya aktivitas penawaran umum perdana (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi sebuah indikator positif bagi perkembangan iklim investasi.

Untuk mendukung tren tersebut, pihak eksekutif terus mengupayakan pendalaman pasar modal sebagai salah satu alternatif opsi pembiayaan jangka panjang demi memperkokoh lini dunia usaha sekaligus mengawal momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

"Selamat dan pecah telur bagi Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) yang baru, ini IPO pertama kali (sejak menjabat)," ujar Menko Airlangga pada acara Pembukaan Perdagangan BEI, dikutip di Jakarta, Kamis.

Langkah IPO kali ini dinilai sangat spesial lantaran menjadi aksi pencatatan saham perdana kedua di Indonesia pada tahun 2026 yang terlaksana di tengah tingginya volatilitas pergerakan pasar saham.

Kendati demikian, menurut Airlangga, konsistensi aktivitas emiten masuk bursa ini turut merefleksikan adanya optimisme yang tinggi dari pelaku bisnis terhadap prospek perekonomian domestik yang terus terjaga.

Pada triwulan I tahun 2026, laju perekonomian Indonesia dilaporkan sukses tumbuh menyentuh angka 5,61 persen, sebuah pencapaian yang memperlihatkan resiliensi kokoh di tengah terpaan dinamika ekonomi dunia.

Airlangga menambahkan, performa impresif tersebut ditopang oleh tingkat konsumsi masyarakat domestik yang stabil, kenaikan realisasi kegiatan investasi, serta bermacam program reformasi yang konsisten dijalankan pemerintah untuk memperkuat iklim usaha.

Salah satu bidang usaha yang menjadi tiang penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional tersebut ialah industri makanan dan minuman.

Pada triwulan I tahun 2026, bidang usaha ini menyumbang kontribusi sebesar 7,31 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, mencatatkan kenaikan jika dikomparasikan dengan periode serupa di tahun sebelumnya yang berada pada angka 7,20 persen.

Industri makanan dan minuman ini juga sukses membukukan pertumbuhan sebesar 7,04 persen, di mana capaian tersebut dipicu oleh melesatnya angka permintaan pasar sepanjang momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Ditinjau dari aspek penanaman modal, sektor makanan dan minuman terus mempertontonkan kinerja positif.

Pada triwulan I tahun 2026, nilai realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) pada bidang usaha tersebut menyentuh Rp10,48 triliun, sementara untuk instrumen Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sukses mencapai Rp16,34 triliun.

Airlangga menyebutkan, raihan ini mencerminkan tingginya ketertarikan para investor terhadap sektor riil sekaligus membuktikan bahwa pasar domestik Indonesia tetap kompetitif, daya beli masyarakat kokoh, dan iklim investasi nasional berada di koridor yang tepat.

Pihak otoritas juga terus melanjutkan penataan regulasi di sektor pasar keuangan guna menjaga kepercayaan pemilik modal serta menaikkan daya saing pasar modal domestik.

Langkah dari lembaga penyedia indeks global MSCI yang kembali menempatkan posisi Indonesia dalam kelompok Emerging Market pada evaluasi Juni 2026 menjadi bukti nyata kokohnya fundamental ekonomi nasional sekaligus meningkatkan kredibilitas bursa saham Indonesia di mata investor global.

Berlanjutnya aktivitas melantai di bursa ini diharapkan mampu mempertegas peran pasar modal sebagai wadah pencarian modal jangka panjang untuk keberlangsungan dunia usaha.

Melalui pendanaan yang dikumpulkan dari masyarakat, perusahaan dapat melakukan akselerasi perluasan bisnis, mendongkrak kapasitas produksi serta inovasi, hingga menciptakan lapangan kerja baru, sehingga berkontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional.

Ke depan, Menko Perekonomian menegaskan bahwa pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) akan senantiasa memperkuat tata kelola pasar modal melalui transparansi dan proteksi bagi investor.

Upaya ini diproyeksikan mampu memperdalam likuiditas pasar modal Indonesia, memperlebar akses pendanaan bagi korporasi, serta mengokohkan peran sektor finansial demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif sekaligus berkelanjutan.

"Jadi ada enam emiten yang selanjutnya akan mencatatkan saham perdananya," tutup Menko.

Terkini