Dokter Sebut Perubahan Jam Tidur Anak saat Liburan Picu Social Jetlag

Jumat, 10 Juli 2026 | 23:18:02 WIB
Ilustrasi Anak Tidur.

JAKARTA - Momen libur sekolah kerap kali memicu perubahan pada pola waktu tidur harian anak-anak.

Cukup banyak anak yang mulai terbiasa tidur larut malam, kemudian baru terjaga lebih siang pada keesokan harinya.

Secara sekilas, total durasi istirahat mereka tampaknya masih terpenuhi dengan baik sehingga para orang tua kerap merasa hal tersebut tidak memicu persoalan.

Akan tetapi, kalangan medis menyatakan bahwa durasi tidur yang mencukupi belum tentu menjadi jaminan bahwa mutu tidur anak berada dalam kondisi yang baik.

Bila waktu istirahat tersebut bergeser terlampau jauh dari kebiasaan harian, maka siklus biologis di dalam tubuh anak juga berpotensi ikut mengalami perubahan.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Endokrin Anak dr. Faisal, Sp.A(K), M.Kes, yang juga berprofesi sebagai dosen di FK Unpad, memaparkan fenomena ini lewat kiriman di akun Instagram pribadinya, @dr_faisal_spa, yang disadur Kompas.com atas izin resmi pada Jumat (10/7/2026).

Melalui unggahannya, Faisal memaparkan masih banyak orang tua berasumsi bahwa selama anak beristirahat dalam kuantitas waktu yang cukup, maka masalah kesehatan tidak akan muncul walau jadwal tidur bergeser lebih malam selama masa libur.

Bagi Faisal, cara pandang yang jamak berkembang di lingkungan masyarakat tersebut belum tentu akurat.

"Kalau selama liburan anak tidur jam 11 malam, jam 12 malam, bahkan jam 1 pagi, ada satu hal yang sering luput disadari oleh orangtua. Banyak yang mengira selama durasi tidurnya cukup enggak ada masalah. Padahal belum tentu," ujar dr. Faisal.

Ia menguraikan bahwa pokok permasalahan utamanya bukan sekadar dipicu oleh faktor anak yang beristirahat terlalu larut, melainkan adanya disorientasi pada sistem jam biologis tubuh.

"Masalahnya bukan sekadar anak tidur lebih malam. Masalahnya adalah jam biologisnya ikut berubah," kata dia.

Faisal menjabarkan, andai transformasi jadwal tidur tersebut berlangsung hampir setiap hari sepanjang liburan, fisik anak rentan terpapar gangguan kesehatan yang dikenal dengan istilah social jetlag.

Menurut pandangannya, social jetlag melanda ketika sistem jam biologis internal tubuh tidak lagi seirama dengan pola tidur maupun aktivitas harian yang biasa dilakukan.

"Kalau ini terjadi hampir setiap hari, tubuh anak bisa mengalami kondisi yang disebut dengan social jetlag," ujarnya.

Imbas dari gangguan tersebut, level mutu tidur anak dapat merosot walau secara hitungan jam kuantitas waktu istirahatnya terlihat sudah terpenuhi dengan baik.

"Social jetlag terjadi ketika jam biologis tubuh tidak lagi selaras dengan pola tidur dan aktivitas hariannya. Akibatnya, kualitas tidur bisa menurun, meskipun durasi tidurnya cukup bagus," jelas dr. Faisal.

Faisal menegaskan bahwa ketika seorang anak tengah terlelap, organ tubuh mereka sebenarnya tetap aktif beroperasi mengeksekusi berbagai siklus penting guna mengawal tumbuh kembang.

Oleh karena itu, sisi mutu dari istirahat malam wajib untuk senantiasa dikontrol secara baik, bukan melulu memperhatikan aspek kuantitas lamanya waktu terlelap.

"Yang terlihat memang anak sedang tidur, padahal tubuhnya sedang bekerja keras memperbaiki sel, memperkuat daya ingat, mengatur metabolisme, hingga mendukung pelepasan hormon pertumbuhan," katanya.

Rentetan sistem kerja internal tersebut, bagi Faisal, menjadi dasar utama mengapa pergeseran pola waktu tidur anak sepatutnya tidak dipandang sebelah mata, khususnya bila terulang konstan selama masa liburan.

Kendati demikian, Faisal tidak melarang anak-anak untuk menikmati masa libur sekolah dengan bermain atau menjalankan agenda santai lainnya.

Ia sekadar mengingatkan agar orang tua tetap konsisten menjaga keselarasan jam tidur serta jam bangun anak supaya tidak bergeser terlalu drastis jika disandingkan dengan masa sekolah.

"Jadi selama liburan, silakan anak-anak menikmati waktu bermain, tetapi usahakan jam tidur dan jam bangun tidak bergeser sekitar satu jam dibandingkan hari sekolah," ujar dr. Faisal.

Menurut dokter Faisal, mengawal stabilitas ritme istirahat secara konsisten sangat membantu jam biologis internal tubuh tetap sinkron, sehingga mutu istirahat anak tetap terjaga optimal sepanjang liburan.

"Karena anak boleh libur sekolah, tetapi proses pertumbuhan tidak pernah libur," tutup dr. Faisal.

Terkini