Kapasitas Tambang Membaik, Setoran Freeport untuk RI Naik di 2027

Selasa, 14 Juli 2026 | 23:00:02 WIB
PT Freeport Indonesia.

JAKARTA - PT Freeport Indonesia memperkirakan kontribusi finansialnya kepada negara pada tahun 2027 bakal melonjak hingga 4,7 miliar dolar AS, angka ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan estimasi setoran untuk negara pada tahun 2026 yang berada di angka 2,6 miliar dolar AS.

“Kami lihat proyeksi tahun 2027 jika sesuai dengan peningkatan produksi kami, itu penerimaan negara akan bisa mencapai 4,7 miliar dolar AS,” ucap Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII di DPR RI, Jakarta, Selasa.

Tony memaparkan lonjakan tersebut didorong oleh volume operasional tambang Freeport yang diprediksi mulai pulih pada 2027, setelah sempat terdampak insiden runtuhnya material tanah di kawasan tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC), Mimika, Papua Tengah, pada 8 September 2025.

Peristiwa itu mengakibatkan operasional tambang bawah tanah GBC terhenti total. GBC sendiri merupakan satu dari beberapa klaster tambang bawah tanah yang dioperasikan oleh Freeport. Sementara itu, wilayah operasional penambangan lain yang dikelola oleh pihak Freeport meliputi DMLZ serta Big Gossan.

Merujuk pada publikasi berkas resmi Freeport, output konsentrat dari GBC berkisar 133.800 ton per hari, DMLZ berkisar 64.900 ton per hari, dan Big Gossan berkisar 8.000 ton per hari. Melalui data tersebut, kontribusi produksi GBC menyumbang sekitar 64 persen dari total kapasitas operasional Freeport Indonesia.

Mandeknya aktivitas eksploitasi di tambang GBC mengakibatkan estimasi pendapatan negara pada tahun 2026 melosot ke level 2,6 miliar dolar AS, dari catatan perolehan sebelumnya yang mencapai 4,3 miliar dolar AS pada tahun 2025.

Tony menguraikan bahwa sepanjang paruh pertama tahun 2026, tingkat produktivitas tambang GBC pascakejadian longsor baru menyentuh kisaran 50 persen dari volume reguler. Selanjutnya, diproyeksikan pada paruh kedua tahun 2026, level produksi bakal merangkak naik ke posisi 65 persen.

Lebih jauh lagi, memasuki paruh pertama tahun 2027, target produktivitas diharapkan mulai membaik hingga menyentuh 75 persen, sebelum akhirnya merujuk pada pemulihan total 100 persen di sepanjang paruh kedua.

“Masuk ke kapasitas produksi penuh (pada 2028), penerimaan negara akan bisa melebihi 7 miliar dolar AS per tahun. Kalau dirupiahkan, itu kira-kira sekitar Rp120 triliun per tahun,” kata Tony.

Kalkulasi finansial tersebut disusun dengan memanfaatkan indikator asumsi nilai jual tembaga sebesar 6 dolar AS per pon serta nilai jual emas di angka 4.500 dolar AS per ons.

Terkini