Sosiolog Tegaskan Mindfulness Harus Berkembang Jadi Kesadaran Sosial

Rabu, 16 September 2026 | 22:12:31 WIB
Ilustrasi Mindfulness.

JAKARTA - Konsep mindfulness atau kesadaran penuh kini semakin populer di tengah kehidupan masyarakat modern yang serba cepat dan penuh tekanan. Banyak orang berlomba-lomba mempraktikkannya dengan tujuan utama mencari ketenangan batin di tengah tuntutan hidup yang tak kunjung usai.

Namun, dalam penerapannya, tidak sedikit yang justru terjebak pada pemahaman keliru dengan mengabaikan berbagai realitas sosial yang memprihatinkan. Ketenangan diri sering kali disalahartikan sebagai alasan untuk menutup mata dari berbagai penderitaan, kesulitan ekonomi, maupun ketidakadilan di lingkungan sekitar.

Menyikapi fenomena tersebut, pemahaman dasar mengenai praktik kesadaran penuh ini perlu diluruskan kembali agar masyarakat tidak terjebak dalam sikap acuh tak acuh berkedok pencarian kedamaian mental.

Sosiolog sekaligus Dosen di Universitas Negeri Medan, Sry Lestari Samosir, M.Sos., memberikan pandangannya terkait miskonsepsi yang banyak beredar di tengah masyarakat luas saat ini.

“Mindfulness bukan cara untuk menjadi tenang terhadap apa pun yang terjadi, tetapi sebagai cara untuk menjadi lebih sadar terhadap apa yang sedang terjadi di sekitar kami,” jelas Sry.

Sering kali, dorongan masyarakat modern untuk selalu bersikap positif justru menumpulkan empati seseorang terhadap penderitaan orang lain yang kurang beruntung.

“Ketika kami melihat berita tentang PHK, kekerasan, konflik, ketidakadilan, lingkungan yang rusak, jangan langsung seolah-olah menganggap itu akan berlalu dan meminta semua orang untuk tetap positif,” tegasnya.

Merespons berbagai bentuk ketidakadilan sosial dengan emosi marah bukanlah sesuatu yang salah. Sry menekankan, kami wajar marah untuk melihat ketidakadilan yang terjadi di tengah masyarakat. Kemarahan tersebut pada dasarnya adalah bentuk kewarasan dan empati yang masih berfungsi dengan baik.

Namun, yang membedakan individu yang benar-benar sadar penuh adalah bagaimana ia mengelola dan menyalurkan kemarahan tersebut ke arah yang konstruktif.

“Jangan hanya marah-marah di sosial media dan menyebarkan energi negatif ke komen-komen yang buruklah, tetapi mengarahkan kemarahan itu untuk mencari informasi yang benar, memahami persoalan yang ada, lalu mendukung orang-orang yang terdampak,” paparnya.

Pada akhirnya, ketenangan personal tidak boleh menjadi titik henti dari sebuah perjalanan kesejahteraan mental. Sry menggarisbawahi pentingnya membawa praktik kesadaran diri ini menembus batas individu menuju ranah komunal.

“Mindfulness harusnya tidak berhenti pada kesadaran diri, tapi berkembang menjadi kesadaran sosial, sehingga terjadi perubahan yang bisa kami lakukan untuk masyarakat,” ungkap Sry.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah merasa puas dan buta terhadap sekelilingnya hanya karena masalah pribadinya telah teratasi melalui perenungan mental semata.

“Kami sibuk untuk membuat tenang, seolah-olah kalau kami tenang, persoalannya selesai dan kami lupa pada realitas yang ada. Ini keliru,” tambahnya.

Sikap apatis yang dibalut kedamaian batin justru berpotensi melanggengkan berbagai masalah struktural di luar sana.

“Ketenangan diri sendiri tidak otomatis berarti dunia ini baik-baik saja. Jangan sampai merasa tenang, tapi ketidakadilan di seberang sana masih terjadi,” tutup Sry.

Tags

Terkini