BERITASELA.ID — Thailand menghidupkan kembali rencana pembangunan jalur pintas penghubung Samudra Hindia dan Pasifik yang ditaksir menelan biaya sekitar 1 triliun baht atau setara Rp547 triliun. Proyek bernama Land Bridge ini digadang menjadi alternatif pelayaran Selat Malaka yang selama ini jadi jalur utama perdagangan Asia Timur ke Timur Tengah dan Eropa.
Pemerintah Thailand menilai proyek Jembatan Darat itu semakin relevan menyusul ketegangan di Timur Tengah. Kekhawatiran utama mereka: Selat Malaka bisa berubah menjadi "Hormuz berikutnya" jika situasi geopolitik memburuk.
Juru bicara pemerintah Thailand, Rachada Dhanadirek, menyebut Perdana Menteri Anutin Charnvirakul melihat proyek ini sebagai peluang ekonomi besar. "Dia melihatnya sebagai peluang ekonomi bagi Thailand dan bagi investor asing, jika proyek itu bisa dijalankan," kata Rachada pada April lalu, dikutip Reuters.
Dua Pelabuhan Laut Dalam dan Jalur 90 Kilometer
Dalam bayangan pemerintah, Land Bridge akan menggabungkan dua pelabuhan laut dalam. Satu di Ranong yang menghadap Laut Andaman, satu lagi di Chumphon di sisi Teluk Thailand.
Kedua titik itu akan dihubungkan jalan dan rel sepanjang 90 kilometer. Infrastruktur energi seperti jaringan pipa juga disiapkan untuk menopang operasional.
Rute ini diproyeksikan menjadi jalur terpendek dari Asia Timur menuju Timur Tengah dan Eropa. Kapal tak perlu lagi memutar melalui Selat Malaka yang selama ini menjadi choke point perdagangan global.
Gagal Sekali, Kini Dihidupkan Lagi
Pemerintah Thailand sebelumnya sudah menyusun undang-undang Jembatan Darat. Proposal itu gagal di tengah gejolak politik yang melanda negara tersebut.
Penolakan warga menjadi salah satu penghambat utama. Selain itu, sidang publik dan penilaian dampak lingkungan serta kesehatan dinilai belum lengkap.
Kini pembahasan proyek itu dihidupkan kembali. Situasi di Timur Tengah dan ketegangan di Selat Hormuz menjadi pemicunya.
Selat Hormuz dan Bayang-Bayang Malaka
Selat Hormuz masih memanas akibat perang Amerika Serikat dan Iran. Rute itu disebut ditutup buntut serangan AS dan sekutu dekatnya, Israel, ke negara Timur Tengah tersebut.
Thailand tidak ingin nasib serupa menimpa Selat Malaka. Jalur pelayaran yang sempit dan padat itu menjadi nadi perdagangan bagi banyak negara Asia, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Jika Land Bridge terwujud, kapal-kapal dari Asia Timur bisa memangkas waktu dan jarak tempuh. Dampaknya terasa pada biaya logistik yang selama ini membengkak akibat kemacetan di Malaka.
Dampak bagi Indonesia dan Kawasan
Bagi Indonesia, proyek ini bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, alternatif rute mengurangi ketergantungan pada Selat Malaka yang rawan geopolitik.
Di sisi lain, jika kapal beralih ke Land Bridge, trafik di Selat Malaka berpotensi menurun. Negara-negara yang selama ini diuntungkan posisi strategisnya perlu menghitung ulang dampak ekonominya.
Thailand sendiri masih harus menuntaskan sejumlah pekerjaan rumah. Mulai dari persetujuan warga, kajian lingkungan, hingga kepastian investor asing yang bersedia menanam modal di proyek senilai Rp547 triliun itu.