Studi Ungkap 64 Persen Orang Indonesia Punya Profil Kulit Berminyak

Jumat, 18 September 2026 | 22:49:02 WIB
Ilustrasi Kulit Berminyak.

JAKARTA - Kulit berminyak menjadi salah satu gangguan kesehatan kulit yang paling mendominasi di Indonesia. Berdasarkan hasil riset, kurang lebih 64 persen penduduk Indonesia memiliki jenis kulit berminyak yang umumnya memicu tampilan pori-pori membesar serta permukaan wajah mengkilap.

Dokter spesialis kulit, dr. Stanley Setiawan, mengungkapkan bahwa kondisi kulit berminyak ini mayoritas dijumpai pada kelompok usia 15 hingga 39 tahun. Masalah tersebut dipicu oleh produksi sebum yang berlebih akibat berbagai faktor, seperti pengaruh hormon, jenis kelamin, faktor genetik, kondisi iklim, hingga pola tidur. Apabila kadar sebum tidak dikelola dengan baik, pori-pori akan makin tampak besar, wajah terkesan greasy, serta rentan memicu timbulnya jerawat.

Kendati demikian, dr. Stanley menekankan agar masyarakat tidak hanya sekadar fokus menghapus minyak dari permukaan kulit luar saja, misalnya melalui eksfoliasi berlebih atau pemakaian kertas minyak secara terus-menerus. Metode tersebut sekadar menekan minyak yang telah muncul di atas permukaan.

"Kulit itu ibarat mesin yang memproduksi minyak. Bukan berarti mesinnya harus dimatikan, tapi produksinya yang harus dikendalikan," kata dr. Stanley di Jakarta, Kamis (17/9).

Pada hakikatnya, minyak tetap diperlukan oleh tubuh untuk memproteksi kulit dari dehidrasi sekaligus berperan sebagai antimikroba guna mencegah timbulnya infeksi. Oleh sebab itu, dr. Stanley mengimbau agar masyarakat mengalihkan fokus pada penguatan pertahanan kulit (skin barrier) guna mengatasi produksi minyak berlebih.

Terobosan paling mutakhir untuk menangani persoalan kulit berminyak ini memanfaatkan teknologi Supramolecular yang ditemukan oleh tiga pakar kimia peraih Nobel Prize. Inovasi yang telah dipatenkan oleh La Roche Posay ini hadir dalam produk Pelembab Effaclar Supramolecular. Berbeda dibanding formula pada umumnya, teknologi Supramolecular sanggup menyatukan dua zat aktif, yaitu Salicylic Acid dan Niacinamide, lewat mekanisme temporary bonding agar mampu berkolaborasi secara sinergis dan maksimal. Berukuran nano, teknologi ini dapat bekerja amat presisi pada titik pusat produksi sebum.

Data pengujian klinis membuktikan bahwa teknologi Supramolecular berdaya guna memangkas kadar minyak hingga 45 persen, sekaligus 40 persen lebih lembut bagi kulit.

"Dengan teknologi ini, bahan aktifnya bekerja lebih presisi di area produksi sebum untuk mencegah minyak berlebih di wajah dari sumbernya, sekaligus menjaga hidrasi kulit," imbuh Pandu Brodjonegoro, Marketing Director L'Oréal Dermatological Beauty Indonesia.

Tags

Terkini