JAKARTA - Menjelang penguatan peran Indonesia dalam misi stabilisasi internasional di Gaza, diplomasi tingkat tinggi antara Indonesia dan Yordania kembali menegaskan pentingnya koordinasi kawasan. Dalam pertemuan bilateral di Amman, dukungan Yordania muncul sebagai penopang krusial bagi rencana pengiriman pasukan Indonesia.
Langkah ini dipahami bukan semata kerja sama militer, tetapi bagian dari ikhtiar kolektif negara-negara yang memiliki kepedulian terhadap stabilitas kemanusiaan di Palestina.
Hubungan Indonesia–Yordania yang telah lama terjalin menjadi fondasi pembicaraan strategis tersebut. Di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah, kedua negara memandang bahwa kerja sama lintas negara dibutuhkan untuk memastikan misi stabilisasi dapat berjalan efektif, aman, dan berorientasi pada perlindungan warga sipil.
Pemerintah Indonesia menempatkan diplomasi sebagai pintu awal sebelum langkah operasional diambil. Pertemuan bilateral ini menandai penguatan keselarasan pandangan, sekaligus kesiapan teknis yang akan dibutuhkan ketika Indonesia mulai mengirimkan personel ke Gaza bersama Pasukan Stabilisasi Internasional.
Isu kemanusiaan dan keamanan kawasan juga menjadi latar kuat pembicaraan. Kekhawatiran atas eskalasi di Tepi Barat turut mengemuka, karena setiap ketegangan baru berpotensi menghambat proses yang sedang diupayakan di Gaza. Dengan demikian, dukungan Yordania dinilai strategis untuk menjaga kesinambungan misi perdamaian.
Dukungan Yordania Dalam Misi Stabilisasi Gaza
Menteri Luar Negeri RI Sugiono menjelaskan pemerintah dan militer Yordania siap mendukung Indonesia saat nantinya mengirimkan pasukan ke Gaza, Palestina, untuk bertugas bersama Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) bentukan Dewan Perdamaian (BoP) Gaza.
Dukungan itu disampaikan oleh Raja Kerajaan Yordania Hasyimiah, Raja Abdullah II ibn Al-Hussein, kepada Prabowo Subianto saat pertemuan bilateral antara Pemerintah Republik Indonesia–Pemerintah Kerajaan Yordania Hasyimiah di Istana Basman, Kota Amman, Yordania, Rabu.
“Intinya bahwa Yordania siap memberikan dukungan dan support-nya kepada Indonesia pada saat nanti kita mengirimkan pasukan. Kemudian, beberapa hal yang sifatnya teknis dari segi militer juga akan saling bantu,” kata Sugiono.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa dukungan Yordania tidak hanya bersifat politik, tetapi juga menyentuh aspek teknis militer. Sinergi teknis ini dipandang penting agar pelaksanaan tugas di lapangan berjalan sesuai mandat misi stabilisasi dan tetap mengedepankan keselamatan personel.
Kerja sama yang dibangun juga mencerminkan kesamaan pandangan kedua negara dalam memandang isu Palestina sebagai persoalan kemanusiaan yang membutuhkan kontribusi nyata dari komunitas internasional.
Pertemuan Bilateral Perkuat Koordinasi Kawasan
Pertemuan bilateral di Istana Basman hari ini dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto dan Raja Yordania, diikuti oleh Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Sementara itu, Raja Yordania didampingi oleh Putra Mahkota Pangeran Hussein bin Abdullah al-Hashimi, Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi, dan beberapa pejabat negara lainnya serta petinggi dari militer.
Komposisi delegasi yang lengkap mencerminkan keseriusan kedua pihak dalam membahas isu-isu strategis kawasan, khususnya terkait peran negara masing-masing dalam mendukung stabilitas di Palestina.
Koordinasi lintas sektor menjadi kunci karena misi stabilisasi melibatkan aspek diplomatik, keamanan, dan kemanusiaan. Pertemuan ini sekaligus memperkuat jalur komunikasi resmi antar-pemerintah dalam mengantisipasi dinamika yang dapat berkembang di lapangan.
Dengan adanya keterlibatan para pemangku kepentingan utama, pertemuan bilateral diharapkan menjadi titik temu untuk menyelaraskan langkah-langkah lanjutan yang diperlukan menjelang pengiriman pasukan Indonesia.
Kekhawatiran Situasi Tepi Barat Mengemuka
Dalam pertemuan itu, Menlu Sugiono menjelaskan Presiden Prabowo sempat mengungkapkan kekhawatirannya terhadap aksi Zionis Israel terhadap rakyat Palestina di Tepi Barat.
“Kami sangat khawatir terhadap insiden-insiden yang terjadi di Tepi Barat. Kami merasa insiden itu dapat menghambat keberhasilan apapun upaya yang tengah kita sama-sama coba lakukan di Gaza,” kata Presiden Prabowo kepada Raja Yordania.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa upaya stabilisasi di Gaza tidak dapat dipisahkan dari kondisi kawasan yang lebih luas. Ketegangan di Tepi Barat dipandang berpotensi mengganggu efektivitas misi kemanusiaan dan stabilisasi yang sedang dipersiapkan.
Kekhawatiran ini juga menegaskan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam menangani konflik Palestina, agar upaya di satu wilayah tidak tereduksi oleh eskalasi di wilayah lain.
Dengan mengangkat isu Tepi Barat dalam pertemuan bilateral, Indonesia menegaskan posisinya bahwa stabilitas kawasan harus diupayakan secara paralel dan terkoordinasi.
Komitmen Kerja Sama Menghadapi Dinamika Gaza
Oleh karena itu, Prabowo menyatakan Pemerintah Republik Indonesia siap bekerja sama dengan Pemerintah Kerajaan Yordania untuk mencari jalan menghadapi masalah-masalah tersebut.
“Kami ingin memperkuat dan meningkatkan kerja sama ini, dan saya pikir tim saya akan bekerja erat dengan tim Yang Mulia, jadi kita selalu mengantisipasi segala situasi yang ada. Kita sama-sama tahu apa yang akan terjadi,” kata Presiden Prabowo kepada Raja Abdullah II.
Komitmen ini mencerminkan kesiapan Indonesia untuk terlibat aktif dalam kerangka kerja sama regional dan internasional, dengan Yordania sebagai mitra strategis di kawasan.
Kolaborasi yang direncanakan tidak hanya berfokus pada momen pengiriman pasukan, tetapi juga pada pengelolaan dinamika pasca-penugasan agar tujuan stabilisasi dapat tercapai secara berkelanjutan.
Dengan demikian, pertemuan bilateral ini menjadi pijakan penting dalam membangun arsitektur kerja sama yang lebih solid demi mendukung misi stabilisasi internasional di Gaza.