JAKARTA - Perkembangan teknologi antariksa kini tidak hanya berkaitan dengan eksplorasi ilmiah, tetapi juga memiliki peran penting dalam pembangunan, keamanan, hingga ekonomi digital suatu negara.
Oleh karena itu, berbagai negara berlomba memperkuat posisi mereka dalam tata kelola ruang angkasa global, termasuk melalui forum internasional yang membahas pemanfaatan antariksa secara damai.
Indonesia menjadi salah satu negara yang aktif memperjuangkan kepentingannya di bidang ini. Melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pemerintah terus memperkuat diplomasi antariksa sekaligus memastikan bahwa Indonesia tetap memiliki akses terhadap sumber daya ruang angkasa yang terbatas.
Langkah tersebut diwujudkan melalui partisipasi aktif dalam berbagai forum internasional, salah satunya dalam pertemuan UN Committee on the Peaceful Uses of Outer Space (UN-COPUOS) 2026 yang berlangsung di Wina, Austria.
Forum ini menjadi wadah penting bagi negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membahas tata kelola pemanfaatan ruang angkasa secara damai serta memastikan akses yang adil bagi seluruh negara.
Peran BRIN Dalam Diplomasi Antariksa Global
Badan Riset dan Inovasi Nasional memiliki peran strategis dalam mengoordinasikan berbagai kegiatan keantariksaan Indonesia. Selain bertanggung jawab dalam pengembangan riset dan teknologi antariksa, lembaga ini juga berperan sebagai perwakilan Indonesia dalam berbagai forum internasional terkait ruang angkasa.
Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN Robertus Heru Triharjanto menegaskan bahwa lembaganya memiliki mandat penting sebagai penyelenggara kegiatan keantariksaan nasional. Selain itu, BRIN juga bertugas mewakili Indonesia dalam berbagai forum global, termasuk dalam hal administrasi dan pendaftaran objek antariksa.
"BRIN juga menjadi rujukan dalam pemanfaatan data penginderaan jauh berbasis satelit untuk mendukung pembangunan di kawasan Asia Pasifik," katanya.
Sebagai lembaga yang memiliki tanggung jawab tersebut, BRIN juga mencatat dan mendaftarkan seluruh objek antariksa milik Indonesia. Objek tersebut tidak hanya berasal dari pemerintah, tetapi juga dari sektor swasta maupun perguruan tinggi yang terlibat dalam pengembangan teknologi satelit.
Peran ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya berpartisipasi dalam diskusi global, tetapi juga aktif dalam pengelolaan dan pemanfaatan ruang angkasa untuk kepentingan nasional.
Pemanfaatan Data Satelit Untuk Berbagai Sektor Strategis
Teknologi antariksa telah memberikan manfaat besar bagi berbagai sektor pembangunan di Indonesia. Pemanfaatan data satelit, khususnya citra penginderaan jauh, telah digunakan dalam berbagai bidang strategis yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Robertus Heru Triharjanto menjelaskan bahwa penggunaan data antariksa di Indonesia telah berlangsung cukup lama dan terus berkembang hingga saat ini. Data tersebut digunakan untuk membantu berbagai aktivitas penting, mulai dari sektor pertanian hingga pengelolaan sumber daya alam.
Citra satelit, misalnya, dimanfaatkan untuk memprediksi hasil panen di sektor pertanian serta memantau kondisi lahan secara lebih akurat. Teknologi ini juga digunakan untuk mendeteksi kebakaran hutan serta membantu pemetaan skala rinci yang dibutuhkan dalam administrasi pertanahan.
Dalam bidang penanggulangan bencana, pemanfaatan data satelit juga memainkan peran yang sangat penting. Teknologi tersebut telah digunakan untuk mendukung berbagai upaya mitigasi dan pemulihan bencana di Indonesia.
Penggunaan data satelit telah membantu proses penanganan bencana sejak tsunami Aceh tahun 2004 hingga berbagai bencana yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, termasuk banjir di Aceh dan Sumatra Utara pada tahun 2025.
"Bahkan, dengan teknologi radar, pemanfaatan data antariksa kini berkembang untuk mendukung pengawasan perikanan dan deteksi polusi laut," lanjutnya.
Ke depan, BRIN juga berencana untuk terus memperkuat pengembangan teknologi satelit agar mampu mendukung berbagai kebutuhan pembangunan nasional.
Pengembangan Sistem Satelit Untuk Masa Depan
Selain memanfaatkan teknologi yang sudah ada, Indonesia juga berupaya mengembangkan sistem satelit yang lebih canggih untuk mendukung berbagai sektor pembangunan di masa depan.
Salah satu fokus utama yang akan dikembangkan adalah sistem satelit penginderaan jauh yang dapat menjadi sumber utama data pembangunan nasional.
Robertus Heru Triharjanto menjelaskan bahwa BRIN akan terus mengembangkan teknologi satelit untuk mendukung berbagai kebutuhan strategis. Selain penginderaan jauh, pengembangan juga dilakukan pada sistem komunikasi berbasis satelit.
Sistem tersebut nantinya diharapkan dapat mendukung berbagai teknologi modern seperti Internet of Things (IoT), pemantauan lalu lintas, hingga sistem peringatan dini bencana.
Dengan pengembangan teknologi tersebut, Indonesia diharapkan dapat meningkatkan kemandirian dalam pengelolaan data serta memperkuat kapasitas teknologi nasional di bidang antariksa.
Strategi Indonesia Mengamankan Akses Orbit Antariksa
Partisipasi Indonesia dalam forum internasional juga memiliki tujuan strategis yang berkaitan dengan kepentingan nasional di bidang antariksa.
Deputy Chief of Mission (DCM) KBRI Wina, Vitto Rafael Tahar, menjelaskan bahwa Indonesia telah berpartisipasi secara konsisten dalam forum UN-COPUOS sejak tahun 1972.
Dalam forum tersebut, Indonesia menyampaikan berbagai posisi dan kepentingan nasional melalui delegasi yang disiapkan oleh BRIN dan disampaikan oleh KBRI atau PTRI Wina.
Menurut Vitto, konsistensi tersebut telah membuat Indonesia menjadi salah satu simpul penting dalam program UN-SPIDER, yaitu wadah PBB yang menyediakan data satelit untuk penanganan bencana.
"Indonesia bahkan dipercaya untuk membantu pengolahan data penginderaan jauh bagi negara-negara di Asia Tenggara saat terjadi bencana," ujar Vitto.
Ia menambahkan bahwa ruang angkasa kini telah menjadi arena persaingan global yang berkaitan langsung dengan berbagai kepentingan strategis negara. Persaingan tersebut terutama terjadi dalam alokasi orbit satelit dan spektrum frekuensi yang memiliki keterbatasan.
Ketersediaan orbit satelit dan spektrum frekuensi memiliki dampak langsung terhadap perkembangan ekonomi digital, keamanan nasional, serta dinamika geopolitik global.
Karena itu, keterlibatan aktif Indonesia dalam forum UN-COPUOS menjadi sangat penting untuk memastikan negara ini tetap memiliki akses yang adil terhadap sumber daya antariksa.
"Upaya ini sekaligus menjadi langkah strategis dalam mendukung pembangunan ekonomi, meningkatkan daya saing global, serta memperkuat keamanan nasional di era ekonomi dan geopolitik berbasis ruang angkasa," ucap Vitto Rafael Tahar.
Dengan strategi diplomasi antariksa yang kuat serta pengembangan teknologi satelit yang berkelanjutan, Indonesia diharapkan mampu memperkuat posisinya dalam tata kelola ruang angkasa global sekaligus memanfaatkan teknologi tersebut untuk mendukung pembangunan nasional.