JAKARTA - Aksi pembelian saham oleh jajaran direksi kerap menjadi perhatian pelaku pasar karena sering dibaca sebagai sinyal keyakinan manajemen terhadap prospek perusahaan.
Hal itu pula yang terlihat pada PT Bank JTrust Tbk. (BCIC), ketika sejumlah anggota direksi perseroan tercatat kompak menambah kepemilikan saham dalam satu hari transaksi.
Langkah serentak tersebut menambah sorotan terhadap pergerakan saham emiten perbankan ini, terlebih di tengah performa saham yang dalam setahun berjalan masih terpantau melemah.
Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), disebutkan bahwa sejumlah direksi PT Bank JTrust Tbk. melakukan pembelian saham perseroan pada 26 Maret 2026. Total saham yang diborong mencapai 203.100 lembar dengan tujuan investasi.
Meski aksi ini dilakukan oleh beberapa anggota direksi sekaligus, perseroan menegaskan bahwa perubahan kepemilikan saham tersebut tidak ditujukan untuk mengambil ataupun mempertahankan pengendalian perseroan.
Transaksi ini dilakukan oleh empat anggota direksi, yakni Direktur Utama Bank JTrust Ritsuo Fukadai, Direktur Felix Istyono Hartadi, Direktur Helmi Arif Hidayat, serta Direktur R. Djoko Prayitno.
Masing-masing melakukan pembelian dengan jumlah dan harga yang berbeda, tetapi seluruhnya tetap mengarah pada peningkatan kepemilikan saham pribadi di emiten berkode BCIC tersebut.
Secara akumulatif, total dana yang dikucurkan jajaran direksi dalam aksi pembelian saham ini mencapai sekitar Rp25,00 juta. Nilai transaksi memang tidak tergolong besar jika dibandingkan kapitalisasi pasar emiten, namun aksi borong saham oleh direksi tetap menjadi sinyal yang diperhatikan investor.
Terlebih, langkah itu dilakukan ketika kinerja saham BCIC dalam periode year to date masih mencatat penurunan, meski dalam sepekan terakhir justru bergerak menguat.
Direksi Bank JTrust Serentak Tambah Kepemilikan Saham
Sejumlah direksi PT Bank JTrust Tbk. (BCIC) kompak menambah kepemilikan saham perseroan dengan total pembelian mencapai 203.100 lembar pada 26 Maret 2026 dengan tujuan investasi.
Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), perubahan kepemilikan saham yang dimiliki sejumlah anggota Direksi Bank JTrust tidak bertujuan untuk mengambil ataupun mempertahankan pengendalian perseroan.
Penegasan tersebut menjadi penting karena aksi pembelian saham oleh manajemen kerap dikaitkan dengan perubahan struktur kepemilikan. Namun dalam kasus ini, perseroan memastikan transaksi yang dilakukan murni bersifat investasi pribadi dan tidak mengubah posisi pengendalian perusahaan.
Aksi pembelian yang dilakukan serentak oleh beberapa direksi ini tetap menarik perhatian pasar karena dapat mencerminkan adanya kepercayaan internal terhadap prospek saham maupun kinerja perseroan ke depan.
Meski demikian, secara formal perusahaan menegaskan tidak ada perubahan signifikan dalam struktur kendali setelah transaksi dilakukan.
Ritsuo Dan Felix Borong Saham Di Harga Rp127
Direktur Utama Bank JTrust Ritsuo Fukadai dan Direktur Bank JTrust Felix Istyono Hartadi membeli saham perseroan di harga Rp127 per saham.
Secara detail, Ritsuo Fukadai memborong 3.900 lembar saham sehingga nilai transaksi yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp495.300. Dengan demikian, jumlah saham yang dimiliki Ritsuo bertambah dari 135.200 lembar saham menjadi 139.100 lembar saham.
Sementara itu, Felix Istyono Hartadi menambah kepemilikan saham sebanyak 39.200 lembar saham dengan nilai transaksi senilai Rp4,59 juta. Kepemilikannya meningkat menjadi 1,42 juta lembar saham dari sebelumnya 1,38 juta lembar saham.
Pembelian yang dilakukan oleh dua direksi ini menunjukkan adanya langkah konsisten untuk menambah eksposur terhadap saham perseroan.
Meski nilai transaksi masing-masing tidak terlalu besar, penambahan saham oleh Direktur Utama dan salah satu direktur tetap menjadi catatan penting dalam dinamika kepemilikan internal perusahaan.
Bagi pelaku pasar, aksi seperti ini biasanya dibaca sebagai bentuk optimisme manajemen terhadap fundamental atau potensi pergerakan saham ke depan.
Namun, karena tujuan transaksi telah ditegaskan sebagai investasi, fokus utamanya tetap pada penambahan kepemilikan pribadi para direksi.
Helmi Dan Djoko Ikut Menambah Porsi Saham BCIC
Selain Ritsuo dan Felix, dua direktur Bank JTrust lainnya juga tercatat menambah kepemilikan saham BCIC pada 26 Maret 2026.
Direktur Bank JTrust Helmi Arif Hidayat menambah 81.100 lembar saham BCIC di harga Rp123 per saham sehingga nilai transaksi mencapai sekitar Rp9,97 juta. Total saham yang digenggam Helmi meningkat dari 2,84 juta lembar menjadi 2,92 juta lembar saham.
Terakhir, ada Direktur Bank JTrust R. Djoko Prayitno yang menambah kepemilikan saham BCIC sebanyak 78.900 di harga Rp126 per saham dengan nilai transaksi sebesar Rp9,94 juta. Dengan demikian, saham BCIC yang dikuasai Djoko meningkat dari semula 2,83 juta lembar menjadi 2,91 juta lembar saham.
Jika dibandingkan dengan dua direksi sebelumnya, pembelian oleh Helmi dan Djoko menjadi yang paling besar dari sisi jumlah lembar saham maupun nilai transaksi. Keduanya sama-sama mengalokasikan dana mendekati Rp10 juta untuk menambah kepemilikan saham perseroan.
Dari total akumulasi pembelian tersebut, terlihat bahwa jajaran direksi memilih menambah kepemilikan di rentang harga Rp123 hingga Rp127 per saham.
Rentang harga ini menjadi salah satu detail yang menarik untuk dicermati karena menggambarkan level harga saat para direksi memutuskan masuk lebih banyak ke saham BCIC.
Aksi Borong Saham Jadi Sorotan Di Tengah Kinerja BCIC
Jika diakumulasi, total dana yang dikucurkan jajaran direksi dalam aksi borong saham tersebut mencapai sekitar Rp25,00 juta.
Adapun perseroan menegaskan kepada regulator bahwa para direksi bukan pemegang saham pengendali dan tidak ada perubahan struktur pengendalian setelah transaksi dilakukan.
Dalam sepekan, harga saham BCIC naik 6,50% atau 8 poin. Kenaikan ini memberi gambaran bahwa saham Bank JTrust sempat menunjukkan pergerakan positif dalam jangka pendek.
Namun, sepanjang tahun berjalan, kinerja saham BCIC masih berjalan loyo dengan turun 16,56% (year to date/YtD) atau 26 poin. Kondisi ini menandakan bahwa meskipun ada penguatan dalam sepekan terakhir, tekanan harga saham secara tahunan masih cukup terasa.
Kombinasi antara pelemahan kinerja year to date dan aksi beli oleh direksi membuat saham BCIC menjadi sorotan tersendiri. Di satu sisi, pasar melihat adanya tekanan harga dalam jangka menengah.
Di sisi lain, pembelian oleh manajemen bisa dibaca sebagai sinyal keyakinan terhadap potensi pemulihan atau prospek perseroan ke depan.
Meski begitu, perseroan telah menegaskan bahwa transaksi ini murni bertujuan investasi dan tidak mengubah struktur pengendalian perusahaan.
Karena itu, aksi borong saham oleh direksi Bank JTrust tetap menjadi perhatian penting bagi investor yang memantau dinamika internal emiten perbankan ini.