KLH Gandeng Masyarakat Adat Demi Atasi Degradasi Lahan

KLH Gandeng Masyarakat Adat Demi Atasi Degradasi Lahan
Ilustrasi pertanian, petani.

JAKARTA - Langkah penanganan degradasi lahan kini dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dengan merangkul masyarakat adat. Upaya ini difokuskan pada pemanfaatan kearifan lokal untuk menjaga kelestarian lingkungan Indonesia.

Rasio Ridho Sani selaku Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLH menyatakan, instansinya tengah merancang gerakan pertobatan ekologis nasional. Program ini menjadi wujud kesadaran kolektif dalam menghadapi krisis alam.

Momentum Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia yang jatuh setiap 17 Juni ini, diharapkan menjadi pemantik bagi seluruh elemen masyarakat untuk ikut bergerak bersama.

"Selamat Hari Penanggulangan Degrasi Lahan. Bahwa kami sekarang ini sedang melakukan upaya langkah-langkah ini, seperti yang disampaikan oleh Pak Menteri. Pak Menteri mengingatkan ke kami semua, atas terjadinya kerusakan lingkungan saat ini terjadi," katanya.

Sebagai langkah konkret, KLH menggelar agenda Kick Off Meeting guna menyusun peta jalan terkait perlindungan serta pengembangan tradisi lokal dalam menjaga keanekaragaman hayati.

Kegiatan tersebut diposisikan sebagai ruang diskusi untuk menyerap ilmu dan nilai-nilai luhur dari masyarakat adat yang terbukti efektif merawat ekosistem sekitar.

Rasio Ridho Sani juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada komunitas adat yang konsisten menjaga harmoni alam, bahkan sejak era sebelum kemerdekaan Indonesia.

Pada kesempatan terpisah, Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat menyatakan bahwa krisis ekologi saat ini memerlukan revolusi mental dan perilaku masyarakat lewat aksi tobat ekologis sebagai pilar utama pemulihan lingkungan.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui program penanaman 2 miliar pohon di tanah air, dengan mengoptimalkan tanaman bambu sebagai salah satu solusi berbasis alam yang bernilai strategis.

“Tobat ekologis adalah perubahan cara pandang dan perilaku kami terhadap alam. Kami tidak cukup hanya memahami masalah lingkungan, tetapi harus menjadi bagian dari solusi melalui tindakan nyata,” ujarnya di Bogor, Jawa Barat, Senin (15/6).

Ia memaparkan bahwa proyek masif penanaman 2 miliar pohon merupakan program strategis nasional yang bertujuan memulihkan ekosistem rusak serta memperbaiki lahan-lahan kritis.

Pemilihan bambu dalam program ini didasari atas fungsi ekologisnya yang sangat kaya, mulai dari mengikat cadangan air, mencegah kelongsoran, hingga menjadi penyerap emisi karbon.

Ia menambahkan, tolok ukur kesuksesan aksi ini tidak cuma dihitung dari banyaknya bibit yang tertanam, melainkan dari lahirnya kepedulian jangka panjang masyarakat dalam merawat bumi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index