Presiden Prabowo Cerita Pengalaman Dibantu Petani Masa Muda

Presiden Prabowo Cerita Pengalaman Dibantu Petani Masa Muda
Presiden Prabowo Subianto.

JAKARTA - Peran penting seluruh petani Indonesia wajib untuk selalu diingat oleh setiap prajurit Tentara Nasional Indonesia atau TNI. Langkah tersebut dinilai sangat mendasar mengingat besarnya andil kelompok petani setelah Indonesia berhasil memproklamasikan kemerdekaan.

"Berarti begitu besar cintanya mereka terhadap negara dan bangsa Indonesia. Karena itu saudara-saudara, saya kira setiap prajurit, setiap jenderal harus selalu ingat, dan selalu dalam hatinya ingat peran yang begitu penting dari para petani dan nelayan Indonesia," ujar Prabowo.

Dalam pidatonya tersebut, Prabowo menceritakan memori masa lalunya ketika masih bertugas sebagai seorang prajurit muda, di mana dirinya kerap mendapatkan bantuan makanan dari para petani setempat.

Ia menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan hidup masyarakat tani di pedesaan yang tetap tulus membantu, kendati mereka sendiri berada dalam kondisi serba sulit untuk mendapatkan air bersih serta kayu bakar demi keperluan memasak sehari-hari.

"Saya waktu prajurit muda, waktu saya di desa-desa, saya di gunung-gunung, saya juga merasa dibantu oleh para petani," ujar Prabowo memberikan apresiasinya.

Selain bernostalgia, Prabowo menyentil pandangan usang seorang pakar ekonomi masa lalu yang sempat membandingkan tingkat efisiensi kinerja antara petani dalam negeri dengan petani di Vietnam.

Peristiwa menjengkelkan itu terjadi ketika ia masih aktif memimpin Himpunan Kerukunan Tani Indonesia atau HKTI dan tengah mengadakan pertemuan formal bersama Aburizal Bakrie selaku Menteri Koordinator Perekonomian saat itu.

"Waktu itu banyak pakar-pakar yang pintar, sampai sekarang menganggap dirinya pintar, mengatakan, 'Untuk apa kami membela petani Indonesia kalau petani Indonesia...' ini kata-kata dia, bukan kata Pak Aburizal Bakrie, tapi salah satu penasihatnya (berkata) 'Kalau petani Indonesia tidak efisien', itu kata-kata dia. Kalau Vietnam lebih efisien," ungkap Prabowo.

Mendengar ucapan tersebut, Prabowo mengaku sangat terkejut sekaligus merasa sedih lantaran analisis yang diberikan penasihat tersebut hanya menitikberatkan pada keuntungan komersial tanpa memedulikan nasib jutaan rakyat kecil.

"Saya kaget dan saya sedih saya mengatakan dalam hati saya, ini salah besar. Ini tidak mengerti arti negara, tidak mengerti apa arti bernegara, tidak mengerti kenapa kami mau merdeka," ujar Prabowo.

Adapun tujuan utama Prabowo menemui pihak kementerian pada saat itu ialah untuk menyuarakan penolakan keras atas kebijakan pemerintah yang berencana melakukan aktivitas impor beras dari luar negeri.

Ia mengkhawatirkan jika impor beras tetap dipaksakan berjalan mendekati musim panen raya, maka harga gabah milik petani lokal dipastikan anjlok drastis sehingga menyulitkan mereka untuk sekadar mengembalikan modal usaha.

"Waktu itu saya Ketum HKTI, saya menghadap Menko Perekonomian waktu itu, namanya Aburizal Bakrie. Waktu itu pemerintah mau impor beras. Saya sebagai Ketum HKTI, dan saya mengimbau, 'janganlah mengimpor beras, apalagi mengimpor di saat petani mau panen. Hancur harga untuk petani. Petani kami tidak bisa untung, tidak kembali modal'," ujar Prabowo.

Petani beserta nelayan bagi Prabowo merupakan sosok vital yang memikul tanggung jawab besar sebagai penyedia pasokan pangan bagi seluruh lapisan masyarakat di tanah air.

Ia menambahkan, tidak akan ada satu pun negara di dunia yang mampu berdiri tegak dan bertahan lama tanpa adanya jaminan ketersediaan pangan yang disuplai oleh para petani dan nelayannya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index