Aktivitas Luar Ruangan Bisa Turunkan Risiko Mata Minus pada Anak

Aktivitas Luar Ruangan Bisa Turunkan Risiko Mata Minus pada Anak
Ilustrasi Mata Minus pada Anak.

JAKARTA – Lonjakan kasus mata minus atau miopia pada kalangan anak-anak terus memicu kekhawatiran mendalam bagi para praktisi medis. Fenomena ini berkembang pesat seiring tingginya durasi pemakaian gawai serta minimnya intensitas bergerak di luar ruangan.

Generasi muda masa kini dilaporkan lebih sering menghabiskan waktu luang mereka di depan layar digital, baik demi kebutuhan edukasi maupun hiburan. Imbasnya, waktu berharga untuk merasakan kehangatan pancaran matahari kian tergerus.

Dokter Konsultan Spesialis Mata Mayapada Eye Centre (MEC), dr. Zoraya Ariefia Feranthy, Sp.M, turut angkat bicara mengenai problem kesehatan ini. Dirinya menekankan bahwa olahraga atau bermain di alam terbuka memegang peranan krusial bagi anak.

Aktivitas tersebut sangat dibutuhkan untuk menjaga kualitas indra penglihatan tetap prima selama masa pertumbuhan fisik anak. Kebiasaan sehat di luar rumah ini terbukti efektif dalam meminimalisasi potensi gangguan penglihatan dini.

Menurut pandangan dr. Zoraya, khasiat dari paparan sinar matahari terhadap kesehatan mata anak bukanlah sekadar mitos belaka. Validitas dari manfaat alamiah tersebut telah dibuktikan lewat berbagai macam laporan riset ilmiah.

Oleh sebab itu, anak-anak sangat dianjurkan untuk tidak melulu menghabiskan energi mereka di dalam sekat dinding ruangan saja. Mereka wajib diberikan kebebasan waktu yang proporsional untuk bermain dan bereksplorasi di alam terbuka.

“Banyak paparan matahari pada anak justru dapat menghambat mata minus. Hal ini terbukti ilmiah dan inilah mengapa anak lebih disarankan berkegiatan di bawah matahari,” kata dr. Zoraya dalam Media Gathering bersama Mayapada Eye Centre (MEC), di Jakarta Pusat, Sabtu (20/6/2026).

Sebuah studi ilmiah yang berbasis di Australia menelurkan fakta yang senada mengenai kebiasaan anak saat sekolah. Kelompok anak yang memanfaatkan jam istirahat untuk bermain di luar terbukti memiliki tingkat miopia yang lebih rendah.

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan kelompok murid yang memilih menghabiskan jeda jam istirahat di dalam area ruang kelas. Mereka cenderung memiliki risiko kelainan refraksi mata yang jauh lebih tinggi.

Data penemuan ini semakin memperkuat asumsi medis bahwa faktor lingkungan makro serta pola kebiasaan harian memegang andil besar. Komponen tersebut mengawal proses pembentukan organ penglihatan anak selama fase tumbuh kembang.

Di samping memangkas durasi kontak mata dengan layar digital atau screen time, sengatan matahari juga menyalurkan stimulasi biologis. Sinar ultraviolet alami ini memicu respons tertentu yang mengontrol laju pemanjangan bola mata.

Hal ini menjadi sangat krusial mengingat dalang utama di balik meroketnya angka mata minus adalah pertumbuhan sumbu bola mata yang berlebih. Jika tidak dikendalikan, maka penglihatan anak akan menjadi semakin kabur.

“Selain screen time berkurang, paparan sinar matahari membuat suatu bagian di dalam bola mata yang akhirnya memberi sinyal untuk berhenti memanjangkan diri,” katanya.

Apabila dimensi bola mata dibiarkan terus memanjang melampaui batas normal, maka derajat miopia dipastikan bakal melonjak drastis. Sebaliknya, bila proses anatomis tersebut bisa ditekan, laju pertambahan minus dapat diperlambat.

“Kalau dia tambah panjang, itu artinya mata minusnya tambah tinggi. Maka, paparan sinar matahari ini seperti memberikan efek rem pada mata,” ujar Zoraya.

Kendati demikian, adanya temuan manfaat medis ini bukan berarti anak harus dibiarkan berjemur sepanjang hari tanpa pengawasan. Poin paling esensial bagi orangtua adalah memastikan sang buah hati bergerak di luar rumah secara konsisten.

Dokter Zoraya menjabarkan, ada rujukan durasi ideal mengenai paparan sinar matahari yang dapat diaplikasikan oleh para orangtua. Semakin rutin kebiasaan ini dijalankan, maka hasil yang didapatkan untuk mata anak akan semakin optimal.

“Durasi yang dianjurkan itu 90 menit dalam sehari dan paling bagus matahari pagi sekitar sebelum jam 10,” ujarnya.

Namun, dirinya juga memaklumi bahwa mayoritas anak-anak terikat jadwal belajar di sekolah dari pagi hingga siang hari. Menyikapi tantangan waktu tersebut, orangtua bisa mengarahkan anak memanfaatkan celah jam istirahat sekolah.

“Jika di waktu tersebut anak sekolah dan berkegiatan di dalam ruangan, silahkan anjurkan anak untuk main di luar selama jam istirahat, paling tidak dia ada waktu 30 menit untuk terkena paparan sinar matahari,” tandas dr. Zoraya.

Para orangtua juga diimbau untuk tidak perlu merasa cemas atau panik apabila mendapati tubuh sang anak basah oleh keringat. Kondisi fisik yang aktif bergerak justru menjadi indikator yang bagus bagi kebugaran tubuh.

Paparan sinar matahari dalam takaran waktu yang wajar dipastikan mendatangkan efek positif yang holistik, termasuk untuk kesehatan mata. Oleh sebab itu, aktivitas fisik di luar rumah ini harus terus didukung.

“Tidak masalah anak berkeringat karena bermain di bawah matahari. Kalau pun hanya bisa mendapatkan waktu 30 menit sehari juga lebih baik daripada tidak sama sekali, jadi dimaksimalkan saja durasinya,” imbuhnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index