Wihaji Sebut 34 Persen Remaja Alami Masalah Mental karena Gawai

Wihaji Sebut 34 Persen Remaja Alami Masalah Mental karena Gawai
Ilustrasi Anak Sedang Rindu Ayahnya.

JAKARTA -- Sebanyak 34 persen generasi muda di Indonesia dilaporkan sedang mengalami dinamika gangguan kesehatan mental. Pada momentum yang bersamaan, fenomena hilangnya andil pengasuhan seorang ayah atau fatherless juga masih menjadi tantangan pelik.

Krisis pengasuhan tersebut jamak dihadapi oleh kelompok anak-anak serta usia remaja di berbagai wilayah domestik. Kondisi ini dinilai memicu kerentanan emosional yang tinggi bagi masa depan generasi penerus bangsa.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, memberikan atensi khusus pada problem ini. Dirinya menilai eksistensi figur ayah dalam pola asuh anak menjadi pilar krusial.

Kehadiran sosok ayah perlu dipertegas kembali demi membentengi sekaligus mendukung kesehatan mental dari para generasi muda. Komitmen kolektif dari lingkungan domestik dinilai menjadi kunci utama penyelesaian masalah.

Pernyataan penting tersebut dipaparkan langsung oleh Wihaji kala menghadiri agenda kunjungan kerja di MAN 1 Yogyakarta pada Kamis (25/6/2026). Agenda ini dilaksanakan dalam rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional ke-33.

Menurut pandangan Wihaji, lini generasi muda saat ini sedang berhadapan langsung dengan dua pilar problematika utama. Masalah tersebut meliputi gangguan kesehatan psikis serta sirnanya atensi figur ayah dalam dinamika harian.

"Generasi masa depan itu harus kita pastikan semoga baik-baik saja, tetapi saat ini rata-rata mereka mengalami dua masalah, yakni kesehatan mental, di mana sekitar 34 persen rata-rata mengalami masalah mental, dan kedua fatherless (kehilangan peran ayah)," ujar Wihaji.

Dirinya menegaskan bahwa potret kondisi tersebut wajib mendapatkan perhatian yang sangat serius dari tatanan lembaga keluarga. Sebab, remaja merupakan klaster yang sedang meniti fase krusial perkembangan psikologis dan sosial.

Lebih lanjut, Wihaji juga menyoroti adanya pergeseran budaya interaksi sosial di dalam tatanan domestik rumah tangga. Berdasarkan hasil data jajak pendapat yang dihimpun, momen sakral makan bersama kini maknanya mulai bergeser.

Agenda berkumpul yang sejatinya berfungsi sebagai wadah merekatkan ikatan emosional justru kerap terasa hambar. Agenda tersebut sering kali diwarnai oleh kebiasaan masing-masing anggota keluarga yang sibuk menatap layar ponsel.

Wihaji memaparkan bahwa mayoritas anak pada dasarnya menyimpan rasa rindu yang mendalam terhadap kehadiran figur orang tua mereka. Khususnya kehadiran sosok ayah dalam bentuk curahan perhatian serta jalinan komunikasi dua arah.

"Jadi, fatherless, mereka sebagai anak-anak sebenarnya rindu, bukan hanya duit, melainkan sentuhan psikologis. Oleh karena itu, bapak-bapak sempatkanlah waktu ngobrol bersama anak, karena kalau tidak, nanti anak dikendalikan handphone," katanya.

Dirinya tidak bosan mengingatkan bahwa pola komunikasi yang sederhana antara orang tua dan anak dapat menjadi ruang aman. Wadah tersebut dapat dimanfaatkan remaja untuk mengutarakan aneka problematika pelik yang dihadapi.

Oleh karena itu, ketika buah hati sedang didera masalah kehidupan, orang tua diminta proaktif merangkul mereka untuk berdialog. Langkah ini penting agar anak tidak mencari pelarian di luar yang berisiko menjauhkan mereka dari keluarga.

Dalam momentum pemaparan tersebut, Wihaji juga mengkritisi dampak negatif dari perkembangan teknologi digital terhadap perilaku remaja. Menurut penilaian dirinya, gawai kini telah bertransformasi menjadi sebuah "keluarga baru".

Gawai dan sistem kecerdasan buatannya dinilai telah menyita mayoritas porsi waktu luang yang dimiliki oleh generasi muda. Fenomena pergeseran sosial ini tentu wajib diantisipasi secara bijaksana oleh para orang tua.

"Tadi kami juga bercerita tentang keluarga baru kami yang namanya gawai dan algoritma. Mental dan perilaku kami kalau tidak berhati-hati dipengaruhi oleh algoritma yang tidak punya hati, karena itu mesin dan teknologi, sementara kami manusia, punya hati," ujarnya.

Wihaji mengungkapkan fakta bahwa rata-rata generasi muda masa kini menghabiskan waktu mengakses ponsel selama 8 hingga 10 jam saban hari. Imbasnya, durasi berkualitas untuk saling bercengkerama dengan keluarga menjadi tergerus.

"Hari ini, algoritma otak kami hampir 60-70 persen dipengaruhi oleh teknologi. Algoritmanya yang ada dalam otak kami, kalau enggak hati-hati, orang tua mereka sekarang bukan kami, tetapi handphone," tutur dia.

Guna menyemarakkan Hari Keluarga Nasional ke-33, pihak Kemendukbangga/BKKBN konsisten mengampanyekan pentingnya andil seorang ayah. Upaya ini diwujudkan nyata lewat peluncuran program Gerakan Ayah Ambil Rapor (Gemar).

Skema program inovatif ini dibentuk sebagai bagian dari langkah strategis memperkokoh tatanan ketahanan keluarga. Langkah ini diambil di tengah meroketnya tantangan gangguan mental remaja serta tingginya angka fatherless yang menyentuh angka 25 persen.

Melalui gerakan sosial tersebut, para orang tua, khususnya figur ayah, dipacu untuk mengalokasikan lebih banyak waktu berkualitas bersama anak. Upaya ini demi menjaga keharmonisan jalinan kasih di tengah gempuran teknologi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index