JAKARTA - Banyak individu kerap merasa sudah menyusun daftar pekerjaan yang harus diselesaikan, namun tetap dihadapkan pada kesulitan untuk mengambil langkah pertama.
Kondisi tersebut sering kali dicap sebagai bentuk kemalasan semata oleh lingkungan sekitar.
Kendati demikian, para ahli psikologi memaparkan fakta bahwa tidak semua orang yang tampak bermalas-malasan itu benar-benar kehilangan kemauan dalam bekerja.
"Tidak ada orang yang sengaja memilih untuk gagal atau mengecewakan,” kata psikolog sosial Devon Price dikutip dari Psychology Today, Sabtu (27/6/2026).
Menurut pandangannya, kecenderungan perilaku yang kerap kali diberi label malas tersebut sejatinya banyak dipicu oleh rentetan hambatan psikologis terselubung, mulai dari rasa cemas hingga keletihan mental.
Selaras dengan hal itu, psikiater Neel Burton dalam ulasannya menjelaskan bahwa problem kesulitan mengawali suatu pekerjaan tidak melulu bersumber dari aspek kemalasan semata.
Terdapat pelbagai faktor psikis tertentu yang dapat membendung hasrat seseorang dalam mengeksekusi suatu tindakan nyata.
Berikut lima faktor di antaranya yang perlu dicermati.
Pertama, adanya rasa takut akan kegagalan yang menjadi pemicu paling jamak dalam mendorong seseorang menunda-nunda memulai pekerjaannya.
Kekhawatiran mendalam terhadap perolehan hasil akhir yang tidak memuaskan atau bayang-bayang penilaian negatif orang lain membuat individu memilih menghindar dari tugas tersebut.
Padahal, semakin lama penundaan itu dibiarkan, tingkat kecemasan internal biasanya justru bakal kian membubung tinggi.
Alhasil, individu tersebut akan terperangkap dalam pusaran setan yang mengikat antara rasa takut dan kebiasaan menunda.
Kedua, sifat perfeksionis di mana keinginan kuat melahirkan karya yang sempurna justru bertindak sebagai batu sandungan utama.
Kelompok perfeksionis kerap menilai tugas belum dapat disentuh karena konsepsi ide yang belum matang, momentum yang belum pas, atau situasi yang belum ideal.
Padahal, menanti seluruh elemen menjadi tanpa cela hanya akan membuat pekerjaan tersebut tidak kunjung mendapatkan langkah awal.
Dalam pelbagai kasus, sikap perfeksionisme ini sejatinya lebih identik dengan kecemasan membuat kekeliruan dibanding hasrat menghasilkan kualitas terbaik.
Ketiga, faktor kehilangan motivasi atau pandangan tujuan hidup dalam beraktivitas.
Seseorang dipastikan bakal jauh lebih adaptif mengawali pekerjaan apabila memahami secara utuh orientasi target atau faidah dari apa yang tengah dikerjakan.
Sebaliknya, jika suatu kewajiban dirasa hampa makna atau tidak sejalan dengan prinsip yang diyakini, daya dorong internal untuk menyelesaikannya otomatis merosot.
Dampaknya, sistem kerja otak menjadi lebih rentan terdistraksi pada aktivitas alternatif yang menyuguhkan kepuasan instan, seperti berselancar di media sosial.
Keempat, kondisi kelelahan mental yang bertindak sebagai alarm alami bahwa raga dan pikiran tengah memerlukan jeda untuk beristirahat.
Tekanan beban tugas, paparan stres yang berlarut-larut, defisit waktu tidur, hingga beban emosional berlebih berpotensi besar menguras energi psikis.
Pada situasi pelik ini, individu bersangkutan sejatinya masih menyimpan hasrat menyelesaikan tugas, namun didera kendala konsentrasi dan pengambilan keputusan.
Apabila fase problematik ini bergulir secara terus-menerus tanpa penanganan, tingkat risiko untuk terjatuh dalam kondisi burnout bakal meningkat tajam.
Kelima, kondisi di mana seseorang terperangkap dalam lingkaran kebiasaan menunda-nunda.
Aktivitas menunda ini sering disalahartikan sebagai kemalasan, walaupun Burton mempertegas bahwa kedua konsep tersebut memiliki perbedaan mendasar.
“Berbeda dengan orang yang benar-benar malas, orang yang menunda pekerjaan sebenarnya memiliki keinginan dan niat untuk menyelesaikan tugas tersebut,” kata Burton.
Menurut ulasannya, kelompok yang suka menunda ini esensinya tetap mendekap kemauan serta niat kuat demi merampungkan kewajiban tugas mereka.
Namun, mereka mengalami hambatan besar dalam mengeksekusi tindakan nyata imbas pengaruh faktor eksternal seperti kecemasan, rasa kewalahan, atau problem regulasi emosi.
Oleh sebab itu, jalan keluar memotong kebiasaan menunda bukan sekadar bertumpu pada aspek kedisiplinan, melainkan pada pemahaman akar masalah psikologisnya.