JAKARTA - Palang Merah Indonesia (PMI) menggandeng institusi rumah ibadah semacam masjid serta gereja guna memaksimalkan alur pembagian bantuan nasional air bersih untuk warga yang mengalami imbas bencana kekeringan ekstrem.
Ketua Umum PMI Jusuf Kalla dalam Apel Operasi Dampak Kekeringan Ekstrem Akibat El Nino 2026 di Jakarta, Selasa, memaparkan bahwa kolaborasi bersama pengelola rumah ibadah ini dilakukan agar penyaluran logistik di area terdampak dapat berlangsung lebih responsif dan merata.
"Kami akan bekerja sama dengan PMI setempat dan rumah ibadah, masjid dan gereja. Seperti di NTT misalnya, sehingga supaya lancar logistiknya, yang mengatur lagi ke bawah itu rumah ibadah," kata dia
Jusuf Kalla menjelaskan bahwa melalui sistem tersebut, unit tangki air milik PMI cukup memasok persediaan air bersih sampai di lokasi rumah ibadah, tanpa perlu menyambangi area perumahan warga secara door-to-door.
Keputusan taktis ini diterapkan demi menghemat durasi, yang mana selanjutnya para pengurus masjid atau gereja yang bakal mengatur pembagian air bersih secara langsung bagi jemaah serta warga di area sekitar.
Pihak PMI memandang skema penyaluran dari satu rumah ke rumah lainnya membutuhkan durasi yang terlampau panjang, sedangkan pemenuhan air bersih untuk keperluan mengolah makanan, konsumsi, mencuci, hingga membersihkan diri bagi warga terdampak kondisinya amat mendesak.
Demi mendukung kelancaran agenda kemanusiaan berskala nasional itu, institusi ini menerjunkan total sebanyak 400 unit kendaraan operasional, yang terbagi atas 200 unit truk tangki berkapasitas besar (>5.000 liter) serta 200 unit mobil bak terbuka yang dilengkapi tangki berukuran mini (5.000 liter).
Jusuf Kalla menguraikan bahwa penyiapan ratusan kendaraan tangki berukuran mini tersebut sengaja difokuskan untuk mengakses wilayah padat perkotaan yang tengah dilanda krisis air bersih di area Pulau Jawa, Bali, NTB, sampai NTT.
Agenda kemanusiaan yang berlandaskan pada data analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ini dijadwalkan berjalan secara berkala dari Juni 2026 sampai Mei tahun depan demi menekan risiko dampak sosial dari anomali cuaca El Nino global.
"Di daerah-daerah sebenarnya sudah mulai berjalan, karena armada operasional ini memang sudah kami siapkan dan siagakan sejak bulan lalu untuk menghadapi dampak kekeringan ekstrem ini," ungkapnya.