Volume Penjualan Alat Berat United Tractors Susut 28 Persen di 2026

Volume Penjualan Alat Berat United Tractors Susut 28 Persen di 2026
PT United Tractors Tbk.

JAKARTA — Emiten terafiliasi Grup Astra, PT United Tractors Tbk. (UNTR) membukukan kuantitas penjualan armada alat berat dengan brand Komatsu sebanyak 1.690 unit di sepanjang kurun waktu Januari sampai Mei 2026.

Realisasi pencapaian angka pemasaran tersebut terpantau mengalami koreksi jika disandingkan dengan performa pada periode yang sama di tahun sebelumnya.

Mengacu pada rilis laporan operasional bulanan, grafik penjualan alat berat milik UNTR tersebut melorot 28,05 persen dari realisasi lima bulan pertama tahun 2025 yang sanggup menyentuh 2.349 unit.

Secara rinci, akumulasi tersebut disumbang oleh penjualan Komatsu sebanyak 610 unit pada Januari, 259 unit pada Februari, 238 unit pada Maret, 306 unit pada April, serta 277 unit pada Mei tahun ini.

Penjualan unit Komatsu oleh UNTR sepanjang tahun berjalan hingga Mei 2026 tersebut didominasi oleh kelompok konsumen dari sektor industri pertambangan yang mengambil porsi hingga 43 persen.

Sektor pendukung lainnya disusul oleh segmen agrobisnis sebesar 24 persen, sektor konstruksi menyumbang 19 persen, serta bidang kehutanan yang berkontribusi menembus angka 14 persen.

Sementara khusus untuk bulan Mei saja, UNTR mengedarkan sebanyak 277 unit Komatsu, dengan komposisi serapan 53 persen dari lini agrobisnis, 19 persen konstruksi, 16 persen pertambangan, dan 12 persen kehutanan.

Di samping itu, penguasaan pangsa pasar atau market share dari brand Komatsu secara year to date hingga periode April 2026 dilaporkan bertahan di level kisaran 17 persen.

Corporate Secretary United Tractors Ari Setiyawan mengungkapkan bahwa perseroan mengambil langkah untuk merestrukturisasi sejumlah target operasional tahun 2026, termasuk target penjualan alat berat Komatsu.

Kebijakan ini dipicu oleh adanya pemangkasan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada sektor pertambangan yang secara langsung menekan tingkat permintaan di pasar.

"Kami revisi target penjualan Komatsu menjadi sekitar 4.000 unit," ujar Ari Setiyawan.

Patokan teranyar ini bernilai lebih konservatif jika disandingkan dengan target awal manajemen yang sempat dipasang pada angka 4.600 unit untuk periode tahun ini.

Sebagai informasi, sepanjang tahun buku 2025, United Tractors membukukan total pemasaran alat berat Komatsu sebanyak 4.420 unit, atau turun 16 persen dari capaian tahun 2024 yang menembus 5.270 unit.

Selain memotong proyeksi penjualan alat berat, United Tractors juga memodifikasi target kerja pada sejumlah lini operasional penunjang lainnya.

Volume produksi batu bara serta aktivitas overburden removal dari PT Pamapersada Nusantara diestimasikan menyusut berkisar 15 persen sampai 17 persen.

Sementara target penjualan komoditas batu bara lewat PT Tuah Turangga Agung ikut disesuaikan menjadi sekitar 9,6 juta ton sepanjang tahun 2026.

Pada sektor mineral lainnya, perusahaan mematok target pemasaran emas pada kisaran 82.000 ons serta nickel ore sebanyak 1,2 juta wet metric ton (wmt) untuk setahun ini.

"Kami akan review kembali target apabila terdapat revisi atau pelonggaran RKAB pada semester II/2026," kata Ari Setiyawan.

Sebelumnya, Presiden Direktur United Tractors Iwan Hadiantoro menyampaikan bahwa tahun 2026 bertindak selaku periode yang memuat banyak tantangan bagi United Tractors.

Hambatan tersebut datang baik dari sisi eksternal, gejolak geopolitik global, hingga dinamika perubahan regulasi domestik yang cukup masif memengaruhi jalannya roda bisnis UNTR.

“Kami berusaha sebaik mungkin memitigasi seluruh tantangan yang kami hadapi dan di saat yang sama kami juga tidak berhenti untuk memikirkan jangka panjangnya seperti apa,” ucap Iwan Hadiantoro.

Dirinya mengestimasikan iklim penuh tantangan yang melanda UNTR ini kemungkinan besar masih akan terus bergulir setidaknya sampai dengan penutupan tahun ini.

Iwan Hadiantoro menambahkan bahwa sepanjang kuartal I/2026, UNTR menyaksikan terjadinya koreksi pada volume penjualan alat berat, penurunan output batu bara, hingga kemerosotan produksi emas imbas berhentinya operasional tambang Martabe.

Menyikapi rentetan kendala tersebut, ia menegaskan bahwa UNTR memilih untuk menerapkan strategi bisnis yang lebih defensif demi mengamankan kelangsungan portofolio usaha yang dikuasai saat ini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index