Mirae Asset: Ada Ruang Kenaikan Lanjutan BI-Rate Jika Rupiah Tertekan

Jumat, 19 Juni 2026 | 19:45:31 WIB
Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa.

JAKARTA - Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, menilai masih terdapat ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk kembali menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) jika tekanan terhadap nilai tukar rupiah berlanjut. 

Kebijakan kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen yang dilakukan sebelumnya mencerminkan komitmen kuat BI dalam menjaga stabilitas rupiah. 

Total pengetatan moneter tercatat telah mencapai 100 bps sejak April 2026.

"Kenaikan suku bunga ini terutama bertujuan mendukung apresiasi rupiah dan menjaga stabilitas eksternal. Setelah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, rupiah mulai menunjukkan pemulihan dan menguat ke sekitar Rp17.730 per dolar AS secara month to date," ujar Jessica di Jakarta, Jumat. 

Selain menjaga nilai tukar, BI juga mulai mewaspadai tekanan inflasi, yang ditandai dengan kenaikan Wholesale Price Index (WPI) menjadi 5,76 persen secara tahunan pada Mei 2026 serta kenaikan inflasi inti menjadi 1,63 persen.

Mirae Asset juga menyoroti bahwa daya tarik aset keuangan domestik saat ini didukung oleh kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). 

Per 18 Juni 2026, yield SBN tenor 10 tahun naik sekitar 92 bps menjadi 7 persen, yang turut mendorong aliran dana asing masuk ke pasar domestik. 

Selain menaikkan suku bunga, BI terus memperkuat stabilisasi melalui instrumen lain seperti diskon biaya hedging swap bagi investor asing dan fasilitas lelang repo.

"Penurunan cadangan devisa sejak awal tahun menunjukkan bahwa suku bunga akan menjadi instrumen yang semakin penting dalam menjaga stabilitas eksternal. Karena itu, BI masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan terhadap rupiah kembali muncul," jelas Jessica. 

Ke depan, pasar akan terus mencermati dinamika inflasi domestik serta arah kebijakan moneter global di tengah tingginya ketidakpastian eksternal.

Terkini