Energi Bersih

Indonesia dan China Perkuat Kemitraan Energi Bersih Berkelanjutan

Indonesia dan China Perkuat Kemitraan Energi Bersih Berkelanjutan
Indonesia dan China Perkuat Kemitraan Energi Bersih Berkelanjutan

JAKARTA - Indonesia dan China semakin memperkuat hubungan bilateral mereka melalui kemitraan energi bersih yang mengedepankan konsep ketahanan nasional. 

Dalam upaya menghadapi dinamika geopolitik dan geoekonomi yang semakin kompleks, kedua negara menyadari bahwa kerja sama yang berkelanjutan adalah kunci untuk mencapai kemajuan bersama dalam sektor energi terbarukan. 

Konsep dynamic resilience atau ketahanan nasional menjadi landasan utama yang disorot dalam pertemuan Indonesia-China Track 1.5 Dialogue, yang berlangsung pada akhir Januari 2026 di Tangerang.

Kepala Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Kementerian Luar Negeri (BSKLN Kemlu) Muhammad Takdir mengungkapkan bahwa Indonesia akan terus memanfaatkan kemitraan ini untuk mendalami potensi energi bersih, dengan memperkuat ketahanan nasional sebagai fondasi.

 "Melalui ketahanan nasional yang kuat, kerja sama yang berkelanjutan menjadi langkah strategis Indonesia dalam menavigasi dinamika geopolitik dan geoekonomi global," katanya. 

Hal ini mencerminkan komitmen kedua negara untuk menghadapi tantangan energi bersih secara lebih terkoordinasi dan efektif.

Kemitraan Energi Bersih yang Melampaui Perdagangan

Dialog ini menekankan pentingnya konsep kemitraan yang melampaui sekadar perdagangan dan investasi. Menurut Takdir, hubungan ini harus melibatkan riset dan inovasi teknologi, transfer pengetahuan, serta pelibatan masyarakat dalam setiap tahap pengembangan proyek energi bersih. 

“Kemitraan yang setara perlu mengedepankan riset, inovasi, dan teknologi,” tambah Takdir, menekankan pentingnya kerja sama yang lebih holistik antara kedua negara.

Salah satu poin utama yang dibahas adalah bagaimana kemitraan ini dapat berdampak lebih dalam di level lokal dan masyarakat, sehingga bukan hanya sebatas proyek energi bersih semata, tetapi juga sebuah inisiatif yang menguntungkan bagi semua pihak, baik dari sisi sosial, ekonomi, maupun lingkungan. 

Hal ini akan memperkuat hubungan kedua negara dalam menghadapi tantangan energi global, yang semakin mendesak untuk diatasi dengan cara yang lebih ramah lingkungan.

Mengintegrasikan Riset dan Inovasi dalam Kemitraan

Zelda Wulan Kartika, Staf Ahli Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri, mengungkapkan bahwa kemitraan antara Indonesia dan China dalam sektor energi bersih bukan hanya soal kebijakan luar negeri, tetapi juga merupakan strategi untuk mendorong kerja sama industri, inovasi, dan keterlibatan masyarakat secara aktif. Model kemitraan yang transformatif ini diyakini dapat menciptakan dampak yang nyata dan berkelanjutan.

"Model kemitraan ini diharapkan dapat memperkuat dampak nyata dalam kerja sama energi bersih Indonesia-China," ujar Zelda. 

Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia dan China tidak hanya ingin berbicara tentang kerja sama, tetapi juga ingin memastikan bahwa setiap langkah yang diambil dapat membawa manfaat jangka panjang, baik dalam peningkatan kapasitas teknologi maupun dalam menciptakan solusi yang dapat diterapkan di tingkat lokal.

Peran Dialog Track 1.5 dalam Memperkuat Kerja Sama

Dialog Indonesia-China Track 1.5 merupakan kelanjutan dari dua dialog sebelumnya yang telah dilaksanakan pada Agustus dan September 2025. 

Forum ini mengumpulkan berbagai pemangku kepentingan dari kedua negara, termasuk pemerintah, kementerian dan lembaga, dunia usaha, akademisi, serta lembaga riset dan think tank. 

Diskusi yang berlangsung pada 27-28 Januari 2026 di Tangerang ini bertujuan untuk memperkuat konsolidasi dan merumuskan pendekatan serta modalitas kemitraan energi bersih yang lebih efisien dan efektif bagi kedua negara.

Dalam acara tersebut, diakhiri dengan penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara firma konsultan kebijakan publik di Jakarta, Synergy Policies, dan China New Energy International Alliance (CNEIA). Penandatanganan ini bertujuan untuk memperkuat kerja sama dalam pembuatan rekomendasi kebijakan, riset, serta pengembangan kapasitas di sektor energi bersih. 

Inisiatif ini menjadi titik awal bagi kolaborasi lebih lanjut yang berfokus pada kebijakan yang mendukung pengembangan energi terbarukan, serta upaya untuk membangun kapasitas industri energi bersih yang lebih besar di Indonesia.

Harapan dan Tujuan Kemitraan yang Berkelanjutan

Kementerian Luar Negeri Indonesia, melalui BSKLN, berharap bahwa hubungan ini dapat menjadi model kemitraan yang tidak hanya menguntungkan kedua negara, tetapi juga bermanfaat bagi masa depan global yang lebih berkelanjutan.

 "Kami berharap peningkatan hubungan ini dapat mendasari kerja sama energi bersih Indonesia dengan mitra strategis, termasuk China, secara berkelanjutan," ujar Takdir. 

Ini menunjukkan bahwa Indonesia dan China tidak hanya ingin memanfaatkan potensi energi bersih sebagai sumber daya ekonomi, tetapi juga sebagai elemen penting dalam transisi menuju masa depan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dengan menerapkan konsep ketahanan nasional dan mengedepankan kerja sama yang berbasis pada riset dan inovasi, Indonesia dan China berharap dapat menjawab tantangan perubahan iklim global, meningkatkan keberlanjutan energi terbarukan, serta menciptakan kemitraan yang lebih seimbang dan saling menguntungkan. 

Melalui upaya ini, kedua negara diharapkan dapat menjadi pionir dalam kerja sama energi bersih, yang tidak hanya akan memberikan manfaat jangka pendek tetapi juga jangka panjang bagi masyarakat global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index