Perayaan Imlek

Perayaan Imlek Perdana Di Kantor Pusat ASEAN Jakarta Meriah

Perayaan Imlek Perdana Di Kantor Pusat ASEAN Jakarta Meriah
Perayaan Imlek Perdana Di Kantor Pusat ASEAN Jakarta Meriah

JAKARTA - Menjelang datangnya Tahun Baru Imlek dalam penanggalan lunar China, suasana perayaan tidak hanya terasa di ruang-ruang komunitas, tetapi juga merambah ke panggung diplomasi regional. 

Sekretariat ASEAN di Jakarta untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah kegiatan budaya Imlek China melalui karnaval bertajuk “Menyambut Musim Semi dengan Kuda Perkasa, Keberkahan bagi ASEAN” yang merupakan bagian dari rangkaian Happy Chinese New Year 2026. 

Momentum ini menandai babak baru pertukaran budaya di kawasan Asia Tenggara, sekaligus memperlihatkan bagaimana tradisi dapat menjadi jembatan dialog antarbangsa.

Perayaan Imlek Hadir Di Jantung Diplomasi ASEAN

Penyelenggaraan kegiatan budaya Imlek di kantor pusat ASEAN menjadi tonggak penting dalam hubungan budaya lintas negara. Sebelumnya, Festival Musim Semi China telah diakui UNESCO pada 2024 sebagai Mahakarya Warisan Budaya Lisan dan Takbenda Manusia. 

Dalam konteks globalisasi yang semakin kuat, perayaan ini tidak lagi sekadar momen kebersamaan komunitas Tionghoa, melainkan juga ruang pertemuan antarperadaban yang memperkaya pemahaman budaya di tingkat internasional.

Karnaval di Sekretariat ASEAN menghadirkan berbagai pertunjukan seni tradisional China, mulai dari tarian klasik, opera Cai Diao, hingga musik yang dimainkan dengan alat seperti erhu dan suona. Sambutan hangat dari para tamu menunjukkan daya tarik seni tradisi yang mampu melampaui batas bahasa dan negara. 

Kolaborasi juga terlihat ketika alat musik etnik Guangxi seperti maguhu dan bole dipadukan dengan gamelan Indonesia dalam pembawaan lagu klasik “Jasmine Flower” dan “Mountain Songs Are Like the Spring River”.

Kolaborasi Seni Dan Teknologi Dalam Perayaan

Rangkaian kegiatan tidak hanya menampilkan pertunjukan seni, tetapi juga menghadirkan pengalaman budaya yang lebih luas. Media Guangxi bersama Televisi Nasional Indonesia, EL JOHN TV Indonesia, dan sejumlah media ASEAN meluncurkan Pekan Penayangan Video Pendek Tahun Baru Imlek China-ASEAN yang menampilkan suasana perayaan di berbagai negara secara multidimensi.

Selain itu, pengunjung dapat menikmati pameran budaya dan pasar Imlek yang menghadirkan pengalaman imersif, seperti etiket jamuan “Teh untuk Dunia”, pembuatan kaligrafi dan tinta, seni gunting kertas, serta kuliner khas Tahun Baru Imlek. 

Pemanfaatan teknologi modern juga ditampilkan melalui perangkat terjemahan pintar dan kacamata realitas tertambah yang memungkinkan komunikasi lintas bahasa sekaligus penelusuran legenda lukisan bebatuan Huashan Zuojiang.

Sebelum kegiatan utama di Sekretariat ASEAN, dua acara singkat bertajuk “Segera Mendapat Keberkahan” telah digelar di Stasiun Halim KCJB dan pusat perbelanjaan Central Park Jakarta, memunculkan antusiasme masyarakat dalam menyambut Imlek.

Makna Budaya Dalam Hubungan China Dan ASEAN

Sejumlah tokoh menilai kegiatan ini memiliki arti penting bagi hubungan kawasan. Wakil Direktur Institut Studi Asia Tenggara Akademi Ilmu Sosial Guangxi, Lei Xiaohua, menyatakan bahwa kolaborasi pertunjukan antara generasi muda China dan ASEAN mampu memicu kreativitas serta mendorong pembelajaran timbal balik budaya.

CEO Bolong Media Indonesia, Wu Chonghua, juga menyoroti kuatnya fondasi budaya China di Indonesia, ditandai komunitas etnis Tionghoa yang besar serta meningkatnya minat masyarakat terhadap budaya China, termasuk popularitas busana Tang yang bahkan memengaruhi desain batik. Menurutnya, kegiatan budaya Imlek akan memperluas pemahaman publik terhadap tradisi China.

Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn, menegaskan bahwa Imlek kini telah berkembang menjadi perayaan global yang dirayakan banyak negara anggota ASEAN, mencerminkan ikatan emosional lintas batas. ASEAN, katanya, berkomitmen melindungi dan mengembangkan seni budaya sekaligus mendorong industri kreatif di kawasan.

Simbol Kedekatan Dan Masa Depan Bersama

Duta Besar Republik Rakyat China untuk ASEAN, Wang Qing, menyebut Imlek sebagai simbol kebersamaan, kegembiraan, dan keharmonisan. 

Perayaan bersama antara masyarakat China dan ASEAN dinilainya mencerminkan perpaduan peradaban serta kehidupan berdampingan yang harmonis. Ia menambahkan bahwa komunitas China-ASEAN dengan masa depan bersama semakin erat dan menjadi contoh bagi kerja sama global.

Pandangan serupa disampaikan wakil tetap Malaysia untuk ASEAN, Sarah Al Bakri Devadason, yang menilai perayaan budaya ini menunjukkan bahwa kemitraan China-ASEAN melampaui kerja sama perdagangan dan diplomasi formal. Tahun 2026 sendiri menandai 35 tahun hubungan dialog China-ASEAN dan lima tahun kemitraan strategis komprehensif kedua pihak.

Lei Xiaohua menambahkan bahwa perayaan Imlek yang meriah di berbagai negara seperti Vietnam dan Singapura menunjukkan kuatnya daya sebar budaya tersebut. Rangkaian kegiatan di ASEAN menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan budaya tradisional China sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat kawasan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kantor Informasi Pemerintah Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Guangxi dengan dukungan berbagai misi diplomatik dan Sekretariat ASEAN. Lebih dari 250 tamu dari negara-negara ASEAN dan mitra eksternal turut hadir, mencerminkan luasnya partisipasi internasional.

Perayaan Imlek di kantor pusat ASEAN pada akhirnya bukan sekadar festival budaya, melainkan simbol keterhubungan masyarakat kawasan. Tradisi, seni, dan teknologi berpadu menjadi bahasa bersama yang mempererat hubungan antarbangsa. 

Melalui momentum ini, budaya kembali menegaskan perannya sebagai jembatan dialog, memperkuat rasa saling memahami, serta membuka jalan menuju masa depan bersama yang harmonis di Asia Tenggara dan sekitarnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index