Banyak Orang Tua Bantu Gen Z Cari Kerja hingga Negosiasi Gaji 2026

Banyak Orang Tua Bantu Gen Z Cari Kerja hingga Negosiasi Gaji 2026
Ilustrasi Gen Z Bekerja.

JAKARTA — Mencari mata pencaharian pada era sekarang dirasakan kian pelik, dan kelompok Gen Z yang kini menginjak fase umur produktif dipaksa untuk mengarungi ketatnya persaingan memperoleh pekerjaan.

Akan tetapi, bersandarkan pada hasil studi jajak pendapat di AS pada tahun 2026, terkuak premis unik di mana peran orang tua tidak lagi sebatas memanjatkan doa maupun menyuplai dorongan moril semata, melainkan ikut turun tangan mencarikan lowongan kerja.

Menilik data publikasi dari laporan bertajuk Career Co-Piloting garapan Zety, yang dikenal selaku penyedia platform pembuatan CV, tercatat ada 15 persen kelompok Gen Z yang didampingi oleh orang tua mereka ketika melakoni sesi wawancara tatap muka.

Keterlibatan tersebut tidak berhenti pada tahapan wawancara saja, sebab sebanyak 28 persen responden memaparkan bahwa orang tua mereka turut campur dalam urusan tawar-menawar upah kerja.

Dari angka itu, sekitar 10 persen di antaranya melakukan proses diskusi langsung dengan perusahaan, sedangkan 18 persen sisanya berperan sebagai pemberi petunjuk ataupun nasihat taktis.

Riset komprehensif tersebut digulirkan oleh Zety lewat pemanfaatan Pollfish pada tanggal 26 Januari 2026 dengan menjaring sebanyak 1.001 umpan balik dari para pekerja berumur 18 hingga 27 tahun di AS.

Berdasarkan kompilasi survei tersebut, intervensi orang tua terdeteksi mengular sejak tahapan pengajuan lamaran, proses interview, hingga babak akhir kesepakatan besaran upah kerja.

Pada fase awal berkas lamaran, sebanyak 44 persen partisipan menyebut orang tua mereka ikut andil menyusun maupun menyunting CV, sementara 21 persen lainnya dibantu untuk menghubungi pihak perekrut.

Memasuki babak wawancara, sebanyak 5 persen responden mengaku didampingi orang tua saat wawancara online, 15 persen ditemani kala interview langsung, dan sisanya berjuang seorang diri.

Pada sesi penentuan upah serta kompensasi, kontribusi orang tua juga terlihat di mana 10 persen responden menyebut orang tua bernegosiasi langsung, dan 18 persen sebatas memasok petunjuk regulasi.

Di luar lingkup proses seleksi karyawan baru, mayoritas dari responden mengonfirmasi bahwa figur ayah dan ibu sangat mendominasi perjalanan karier profesional mereka sehari-hari.

Sekitar 67 persen responden terbiasa menampung wejangan dari orang tua secara berkala terkait arah karier mereka, dan 56 persen mengaku pernah didatangi orang tua di area kantor tempat mereka bekerja.

Walau banyak pemuda yang menikmati sokongan tersebut, sebanyak 55 persen responden mengutarakan rasa kikuk hingga gusar andai orang tua mereka mengontak atasan kantor tanpa izin terlebih dahulu.

Campur tangan yang terlampau intens dari orang tua dalam lanskap karier sang anak ini disinyalir sebagai manifestasi atau bentuk lain dari konsep pengasuhan helicopter parenting.

Memanfaatkan relasi eksternal guna mengamankan posisi pekerjaan, termasuk koneksi dari keluarga, sejatinya merupakan bagian dari taktik yang baik demi efisiensi karier anak.

Namun dari kacamata ilmu psikologi, habit ketergantungan ini berpotensi mendatangkan kerugian bagi masa depan profesi sekaligus mengganggu stabilitas kesehatan mental dari anak itu sendiri.

"Beberapa perusahaan bahkan akan menolak kandidat jika orang tua menghubungi mereka secara langsung. Ini adalah tanda bahaya yang menunjukkan bahwa orang tersebut belum siap untuk membela diri," kata ahli neuropsikologi berbasis di New York AS, Sanam Hafeez.

Sanam Hafeez mengimbuhkan bahwa dominasi yang berlebihan tersebut lambat laun dapat mengikis ikatan harmonis serta merusak kadar kepercayaan diri yang dimiliki oleh anak.

Sementara itu, pakar psikiatri Ashok Yerramsetti memberikan catatan agar keluaran angka survei ini tidak langsung diaplikasikan untuk menyamaratakan tabiat seluruh populasi Gen Z global.

"Hal itu mungkin tidak mencerminkan Generasi Z secara keseluruhan. Namun demikian, pesan yang lebih luas sesuai dengan tren besar yang kami lihat. Kami tahu bahwa remaja Generasi Z memiliki tingkat gangguan kecemasan yang lebih tinggi," ujar Yerramsetti.

Sesi berburu lapangan pekerjaan, khususnya bagi para pencari kerja pemula, diakui menyeret tekanan psikologis yang sangat berat bagi mentalitas Generasi Z pada masa sekarang.

Menurut pandangan Ashok Yerramsetti, dengan tingginya tensi kecemasan di kedua belah pihak, menjadi hal yang logis jika orang tua memilih mengintervensi keadaan dan sang anak membiarkannya terjadi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index