Dokter Ini Ungkap Efek Jalan Kaki Pakai Rompi Pemberat 30 Hari

Dokter Ini Ungkap Efek Jalan Kaki Pakai Rompi Pemberat 30 Hari
Ilustrasi Berjalan Kaki.

JAKARTA - Aktivitas berjalan kaki sambil mengenakan rompi pemberat atau weighted vest saat ini kian digemari sebagai metode simpel guna mendongkrak intensitas olahraga.

Akan tetapi, apakah penggunaan aksesori tambahan ini benar-benar sanggup memberikan dampak positif ekstra jika dikomparasikan dengan olahraga jalan kaki secara biasa.

Sebuah uji coba mandiri yang dilakukan oleh seorang dokter sekaligus instruktur kesehatan, dr. Ruth Machin, membuktikan bahwa berjalan kaki memakai rompi pemberat selama 30 hari berturut-turut sukses membuat otot kakinya terasa jauh lebih kokoh.

Kendati memperoleh hasil positif, dr. Ruth Machin tetap memberikan catatan bahwa segala rupa khasiat tersebut wajib dicermati secara objektif berlandaskan pada kompilasi bukti ilmiah yang sahih.

Melalui unggahan materi video yang dilansir oleh Women's Health (29/6/2026), Machin turut membedah sederet hasil riset guna menguji apakah perangkat rompi pemberat ini betul-betul bernilai untuk diadopsi ke dalam agenda olahraga harian.

Dalam melangsungkan eksperimennya, Machin berkomitmen mengenakan rompi khusus dengan beban seberat 5,4 kilogram setiap kali dirinya melakukan aktivitas berjalan kaki sepanjang kurun waktu 30 hari.

Supaya data yang diperoleh berjalan lebih objektif, ia sengaja tidak mengubah pola menu makan harian ataupun memodifikasi jadwal rutinitas olahraga lain yang biasa dijalankannya.

Selama periode pengujian berlangsung, ia tetap konsisten melakoni tiga sesi olahraga bersepeda setiap pekan, dua kali latihan beban (resistance training), serta agenda lima kali jalan kaki dengan jarak tempuh berkisar empat kilometer.

Perangkat rompi beban tersebut dilaporkan hanya melekat pada tubuhnya sewaktu ia melangsungkan agenda berjalan kaki saja.

"Karena saya menyukai sains, saya ingin semua faktor lain tetap sama. Jadi, tidak ada yang saya ubah selain memakai rompi," ujar dr. Machin.

Sebelum dan sesudah rangkaian pengujian usai, ia mendokumentasikan ukuran berat badan, angka indeks massa tubuh (BMI), porsi lingkar pinggang, hingga ukuran lingkar paha miliknya.

Berdasarkan hasil akhir, grafik berat badannya tercatat hanya mengalami penurunan tipis berkisar setengah pon atau setara dengan 0,2 kilogram, yang dinilainya tidak terlalu signifikan.

Namun, ia justru mendapati adanya fluktuasi perubahan indikator lain pada tubuhnya yang tergolong cukup mencengangkan.

Ukuran lingkar pinggangnya terbukti menyusut hingga kisaran 2 sentimeter, sementara kekuatan otot kakinya dirasakan menjadi jauh lebih bertenaga, khususnya saat melakoni latihan bersepeda setelah rutin memakai rompi beberapa minggu.

"Di pertengahan April, saya mulai benar-benar merasakan manfaatnya. Kaki saya jelas terasa lebih kuat," katanya.

Walaupun mengantongi peningkatan kekuatan pada bagian tungkai bawah, Machin tidak menampik jika dirinya sempat mendapati efek samping yang kurang mengenakkan saat eksperimen mendekati hari akhir.

Ia menguraikan bahwa beban dari rompi tersebut perlahan-lahan mulai memicu tekanan pada area otot trapezius, yakni jaringan otot yang membentang dari leher hingga wilayah bahu.

Kondisi tersebut pada akhirnya memantik rasa tegang di area leher belakang sekaligus membuat ritme aktivitas berjalan kaki menjadi terasa kurang nyaman.

Menurut analisisnya, timbulnya rasa tidak nyaman tersebut kemungkinan besar turut dipengaruhi oleh faktor kelainan tulang skoliosis yang dideritanya atau faktor rancangan desain rompi yang kurang ergonomis.

Oleh sebab itu, ia mewanti-wanti kepada siapa saja agar tidak memaksakan kondisi fisik apabila mendadak merasakan keluhan nyeri atau sakit kala memakai rompi pemberat.

"Tidak ada gunanya sampai mengalami cedera," ujarnya.

Bukan sekadar bersandar pada hasil uji coba personal, Machin terpantau ikut melakukan telaah mendalam terhadap beragam laporan penelitian seputar penggunaan produk rompi pemberat.

Ia menemukan data bahwa sejumlah studi memang memvalidasi jika rompi pemberat berpeluang besar membantu memadatkan struktur tulang, menekan laju pergantian jaringan tulang, hingga menguatkan otot.

Meski begitu, ia berpendapat jika aspek konteks latar belakang dari penelitian tersebut sering kali luput dari perhatian publik.

Mayoritas studi yang beredar didapati hanya membandingkan performa subjek yang memakai rompi pemberat dengan subjek yang sama sekali tidak melakukan aktivitas fisik, bukan mengomparasikan jalan kaki pakai rompi dengan jalan kaki biasa tanpa beban.

"Jadi, apa sebenarnya yang memberikan manfaat? Rominya atau aktivitas bergeraknya?" kata Dr Machin.

Ia juga memberikan sorotan tajam pada eksistensi riset lain yang hasilnya justru menunjukkan tidak adanya perbedaan indikator kepadatan tulang antara individu yang berjalan memakai rompi dengan yang tanpa beban.

Di samping itu, menurutnya, sejauh ini masih belum tersedia dokumen penelitian yang mengomparasikan efektivitas rompi pemberat dengan pola latihan kekuatan khusus bagi kelompok wanita pascamenopause.

Berdasarkan kompilasi dari potret data yang tersedia, Machin menarik kesimpulan jika rompi pemberat dapat memberikan daya guna pada situasi khusus, contohnya bagi pasien cedera yang dilarang latihan beban namun diizinkan berjalan oleh dokter.

Bagi kalangan individu yang sudah terbiasa disiplin melangsungkan jalan kaki sekaligus rutin latihan kekuatan, pemakaian rompi pemberat ini juga dinilai bisa menjadi opsi pelengkap yang bagus, asalkan tidak memicu nyeri.

Walau demikian, ia memberikan penegasan kuat bahwa piranti rompi pemberat ini sekali-kali tidak boleh diposisikan sebagai instrumen pengganti utama dari aktivitas latihan kekuatan.

"Menurut saya, rompi pemberat bukan pengganti latihan kekuatan menggunakan beban. Latihan seluruh tubuh dengan beban tetap jauh lebih baik untuk membangun massa otot dan mempertahankan kekuatan," ujar dr. Machin.

Sementara untuk kalangan pemula yang belum terbiasa berolahraga, ia memberikan saran untuk berfokus mendirikan pondasi kebiasaan jalan kaki terlebih dahulu dengan durasi 30 hingga 45 menit secara konsisten sebelum berniat mengadopsi rompi pemberat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index