JAKARTA - Ngidam menjadi fenomena yang lumrah terjadi pada masa kehamilan. Cukup banyak ibu hamil yang mendadak ingin menyantap makanan tertentu, seperti mi instan yang dikenal praktis, gurih, dan cepat disajikan.
Walau mengonsumsinya sesekali dinilai tidak berbahaya, ibu hamil wajib memperhatikan kandungan nutrisi dari apa yang mereka konsumsi. Sebab, kebutuhan gizi selama kehamilan melonjak guna menopang kesehatan ibu serta perkembangan janin.
Menurut Veena V, selaku Chief Clinical Dietician & Head of Department Clinical Nutrition and Dietetics Aster Whitefield Hospital Bengaluru, mi instan pada dasarnya bukan makanan beracun yang wajib dijauhi total sepanjang masa kehamilan. Namun, jenis kuliner ini bukan opsi yang ideal jika terlalu rutin dikonsumsi dalam menu harian.
"Mi instan atau mi kemasan memang bukan makanan yang sepenuhnya buruk bagi ibu hamil, tetapi sebaiknya tidak menjadi bagian rutin dari pola makan selama kehamilan," ujar Veena.
Ia memaparkan bahwa mi instan merupakan produk olahan yang melewati rangkaian proses produksi yang panjang. Dampaknya, unsur utama makanan ini didominasi oleh karbohidrat, sementara protein, serat, dan zat gizi esensial lain untuk kehamilan tergolong minim.
"Mi instan mengandung karbohidrat yang tinggi, tetapi sangat sedikit protein dan serat, padahal kedua nutrisi tersebut sangat penting bagi ibu hamil,” tambah dia.
Sepanjang masa kehamilan, keperluan tubuh akan protein, zat besi, kalsium, dan folat akan bertambah. Jika ibu hamil terlalu sering menyantap mi instan sehingga mengesampingkan makanan kaya nutrisi, pemenuhan gizi tersebut berpotensi tidak tercapai secara maksimal.
Di samping minim kandungan gizi, mi instan juga dibekali bumbu instan yang umumnya memiliki kadar natrium atau garam yang tinggi. Asupan natrium berlebih dapat memicu penimbunan cairan dan menaikkan tekanan darah, hal yang patut diwaspadai saat hamil.
Veena menerangkan bahwa bumbu pada mi instan juga kerap memuat monosodium glutamat (MSG), perasa buatan, zat pengawet, dan lemak jenuh dari minyak sawit hasil proses produksi.
"Kandungan tersebut mungkin tidak langsung membahayakan, tetapi bila dikonsumsi terus-menerus hanya memberikan sedikit manfaat bagi kesehatan dan dapat memperburuk keluhan seperti asam lambung, kembung, atau gangguan pencernaan yang memang sering dialami ibu hamil," jelasnya.
Walau belum terbukti memberikan dampak buruk langsung pada janin jika hanya dimakan sesekali, kebiasaan mengonsumsi makanan olahan secara berlebihan dapat membuat penyerapan nutrisi penting bagi janin menjadi kurang maksimal.
Veena menyebutkan, ibu hamil tetap diperbolehkan menyantap mi instan sesekali jika keinginan tersebut sangat kuat. Namun, intensitasnya wajib dibatasi, misalnya cukup sekali dalam rentang beberapa minggu.
Supaya lebih padat nutrisi, ia memberikan saran untuk menambahkan sayur-sayuran, telur, tahu, tempe, atau variasi protein tanpa lemak ke dalam racikan mi. Langkah ini efektif menaikkan kadar protein, vitamin, mineral, serta serat dalam sajian.
Bukan hanya itu, ibu hamil pun bisa menjatuhkan pilihan pada produk mi berbahan gandum utuh atau millet, atau meracik mi sendiri di rumah agar kadar garam, minyak, dan bumbunya dapat dikendalikan.
"Yang lebih penting, hidangan tersebut bisa diperkaya dengan sayuran, kacang-kacangan, tahu, telur, atau daging tanpa lemak sehingga menjadi makanan yang jauh lebih seimbang, bukan sekadar sumber kalori," imbau Veena.
Oleh karena itu, ketika ibu hamil sedang mengidam mi instan, menikmatinya sesekali pada dasarnya tidak menjadi persoalan. Meski demikian, menu makanan harian wajib tetap didominasi oleh asupan bergizi seimbang demi menjaga kesehatan ibu dan pertumbuhan janin yang optimal.