BERITASELA.ID — Pengguna Google Pixel di Indonesia berisiko jadi sasaran serangan siber tanpa perlu klik apa pun. Kerentanan pada modem ponsel ini sudah dieksploitasi di lapangan, dan badan keamanan siber Amerika Serikat memberi tenggat hanya tiga hari bagi instansi federal untuk menambalnya.
Google mengungkap kerentanan berseveritas tinggi bertanda CVE-2026-58704 pada modem ponsel Pixel. Perusahaan menyatakan lubang keamanan itu "mungkin sedang dieksploitasi secara terbatas dan bertarget". Artinya, penyerang menemukan dan memanfaatkan celah itu sebelum Google menambalnya.
Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur Amerika Serikat (CISA) memasukkan CVE tersebut ke Katalog Kerentanan yang Dieksploitasi (KEV). Lembaga itu memberi instansi federal waktu hanya tiga hari, hingga 19 September, untuk menambal celah tersebut.
Apa yang Membuat Serangan Ini Berbahaya
Kerentanan ini menyerang jalur otorisasi yang salah pada modem Pixel. Penyerang bisa melewati pemeriksaan izin dan menaikkan hak akses tanpa interaksi dari pengguna.
Serangan tanpa klik semacam ini kerap dipakai pembuat spyware komersial untuk mengawasi target tertentu. Karena tidak butuh korban membuka tautan atau mengunduh berkas, jejaknya sulit disadari.
CISA menyebut jenis kerentanan ini sebagai vektor serangan yang sering dipakai aktor siber jahat. Menurut lembaga itu, celah tersebut menimbulkan risiko signifikan bagi sistem federal.
Detail Teknis Masih Minim
Informasi soal kerentanan ini tergolong terbatas. Yang diketahui, celah berada di modem ponsel Pixel, dieksploitasi di alam liar, dan bisa dijalankan lewat serangan zero-click.
Google belum merinci siapa penyerangnya, bagaimana serangan dijalankan, dan apa yang bisa dicapai penyerang. The Register menghubungi Google untuk meminta keterangan lebih lanjut soal cakupan eksploitasi.
Yang jelas, perbaikan sudah tersedia asalkan pengguna memperbarui perangkat. Pengguna Pixel di Indonesia sebaiknya tidak menunda pembaruan keamanan begitu tersedia.
Deretan Celah Chromium Ikut Masuk Daftar
Sebelumnya pada bulan yang sama, CISA menambahkan dua kerentanan Google Chromium ke katalog KEV. Keduanya bertanda CVE-2026-85046 dan CVE-2026-87491.
CVE-2026-85046 adalah cacat type confusion di mesin JavaScript V8 milik Chromium. Celah ini memungkinkan penyerang jarak jauh menjalankan kode di dalam sandbox lewat halaman HTML yang dirancang khusus.
Kerentanan itu berdampak pada semua peramban berbasis Chromium, termasuk Google Chrome, Microsoft Edge, dan Opera. Celah kedua, out-of-bounds write di mesin V8 yang sama, juga membuka jalan eksekusi kode jarak jauh.
Empat Kelompok Spionase Disebut Memanfaatkan Celah Serupa
Peneliti keamanan dari Proofpoint menyampaikan temuan soal rantai serangan yang memakai celah serupa. Setidaknya empat kelompok spionase, sebagian besar diduga terkait China, menggabungkan tiga bug sekaligus.
Salah satu di antaranya adalah CVE-2026-85046. Rantai serangan itu dipakai untuk menembus jaringan organisasi di Amerika Serikat dan Asia Tenggara.
Bagi pengguna di kawasan Asia Tenggara, temuan ini relevan karena serangan bertarget biasanya menyasar individu atau lembaga tertentu, bukan pengguna umum secara acak. Pixel yang tidak diperbarui tetap menjadi pintu masuk yang terbuka.
Langkah yang Perlu Diambil
Google telah menutup lubang keamanan tersebut lewat pembaruan. Pengguna Pixel cukup memasang pembaruan sistem terbaru untuk menutup celah itu.
Pembaruan keamanan bulanan Android biasanya dikirim bertahap sesuai wilayah dan model perangkat. Karena itu, pengguna disarankan memeriksa menu pembaruan sistem secara berkala, bukan menunggu notifikasi datang sendiri.
Bagi instansi atau perusahaan yang memakai Pixel sebagai perangkat kerja, tenggat tiga hari dari CISA bisa jadi acuan internal. Terlebih jika perangkat itu dipakai pejabat, jurnalis, atau staf yang menangani data sensitif.