BERITASELA.ID — Bank of Japan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen, level tertinggi dalam 31 tahun. Keputusan ini langsung melemahkan yen terhadap dolar AS, sementara pasangan BTC/JPY di bursa bitFlyer justru naik 0,5 persen ke 12,06 juta yen. Bagi pasar global, langkah ini menghidupkan kembali kekhawatiran soal unwinding carry trade yang sempat mengguncang aset kripto pada Agustus 2024.
Langkah tersebut diambil saat bank sentral Jepang berhadapan dengan inflasi yang keras dan yen yang terus melemah. Beberapa pekan sebelum keputusan ini, Menteri Keuangan AS Scott Bessent secara terbuka mendesak Tokyo untuk memperketat kebijakan moneter lebih cepat demi menopang yen.
Bessent berargumen bahwa pasar yen yang tertib akan menguntungkan stabilitas pasar obligasi AS. Ia juga membela intervensi pembelian yen yang terkoordinasi sebagai langkah yang melayani kepentingan Amerika Serikat.
Yen Melemah, Bitcoin di Bursa Jepang Justru Naik
Pasca keputusan BOJ, yen terdepresiasi terhadap dolar AS. Pasangan USD/JPY naik ke 156,70 dari sebelumnya 156,20.
Di bursa bitFlyer yang berbasis di Tokyo, pasangan bitcoin-yen (BTC/JPY) memperpanjang kenaikan sebesar 0,5 persen ke 12,06 juta yen. Sementara harga bitcoin dalam denominasi dolar AS relatif stabil di kisaran USD 76.900, berdasarkan data CoinDesk.
Pergerakan ini menunjukkan dinamika yang berbeda antara pasar yen dan dolar. Bitcoin yang diperdagangkan dalam yen mendapat dorongan dari pelemahan mata uang Jepang, sedangkan harga dalam dolar nyaris tidak bergerak.
Mengapa Keputusan BOJ Berdampak ke Pasar Global
Keputusan suku bunga BOJ dan pergerakan yen punya pengaruh besar terhadap pasar dunia. Penyebabnya adalah periode panjang suku bunga mendekati nol di Jepang selama lebih dari satu dekade.
Kondisi itu membuat trader meminjam dalam yen untuk membiayai investasi berimbal hasil lebih tinggi di tempat lain. Praktik ini dikenal sebagai carry trade.
Pengamat lama mengkhawatirkan bahwa pembalikan carry trade bisa menyeret seluruh pasar turun. Minikrisis ekuitas dan bitcoin pada awal Agustus 2024 disebut-sebut memberi gambaran tentang risiko tersebut.
Tekanan AS dan Arah Kebijakan Tokyo
Desakan Bessent menambah dimensi geopolitik pada keputusan BOJ. Ia menilai pasar yen yang stabil penting bagi stabilitas Treasury AS, dan intervensi pembelian yen yang terkoordinasi sejalan dengan kepentingan Washington.
Kenaikan suku bunga ini menjadi sinyal bahwa Tokyo mulai merespons tekanan tersebut. Namun, dengan inflasi yang masih lengket dan yen yang rapuh, pasar akan mencermati apakah BOJ akan mempercepat normalisasi kebijakan moneternya.
Bagi investor kripto di Asia, termasuk Indonesia, pergerakan yen dan kebijakan BOJ tetap menjadi faktor yang perlu dipantau. Sebab, gejolak carry trade bisa merembet ke likuiditas global dan memengaruhi harga aset digital.