Proyek MRT Koridor

Emiten Properti Fokus Pada Proyek MRT Koridor Timur-Barat Jakarta

Emiten Properti Fokus Pada Proyek MRT Koridor Timur-Barat Jakarta
Emiten Properti Fokus Pada Proyek MRT Koridor Timur-Barat Jakarta

JAKARTA - Rencana pengembangan transportasi massal di wilayah Jakarta dan sekitarnya kembali membuka peluang baru bagi sektor properti. 

Proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta Lintas Timur–Barat yang direncanakan membentang hingga Balaraja, Banten, mulai menarik perhatian para pengembang kawasan. Sejumlah emiten properti tercatat aktif menjajaki peluang kolaborasi sejak tahap awal perencanaan jalur tersebut.

PT MRT Jakarta (Perseroda) mengungkapkan bahwa perluasan jalur MRT Timur–Barat akan memasuki tahap studi untuk Fase 2 rute Kembangan–Balaraja dengan panjang sekitar 30 kilometer. 

Jalur ini diproyeksikan melintasi kawasan strategis yang selama ini menjadi pusat pengembangan hunian, komersial, dan kawasan terpadu, sehingga membuka potensi sinergi antara transportasi massal dan pengembangan properti.

Minat Pengembang Pada Koridor Timur Barat

Berdasarkan data MRT Jakarta, sejumlah pengembang properti telah menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) sebagai bentuk penjajakan awal kerja sama. 

Pihak-pihak tersebut antara lain PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) melalui PT Serpong Cipta Kreasi (Summarecon Serpong) dan PT Serpong Cipta Cahaya (Summarecon Tangerang), PT Alam Sutra Realty Tbk. (ASRI), PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR), serta PT Intiland Development Tbk. (DILD) melalui PT Sinar Puspapersada.

Selain itu, PT Metropolitan Land Tbk. (MTLA) juga turut terlibat melalui anak usahanya Metropolitan Karyadeka Development yang mengelola kawasan Metland Cyber Putri. Dari sisi pengembang swasta non-emiten, Paramount Enterprise International turut masuk dalam daftar pihak yang menjajaki peluang kerja sama pada proyek strategis ini.

Penandatanganan MoU tersebut menjadi landasan awal bagi MRT Jakarta dan para pengembang untuk mengeksplorasi potensi pengembangan kawasan yang terintegrasi dengan transportasi publik. 

Fokus utama kerja sama ini tidak hanya pada pembangunan jalur MRT, tetapi juga bagaimana keberadaan stasiun dapat mendorong pertumbuhan kawasan di sekitarnya.

Pembentukan Joint Working Group Dua Tahun

Sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman tersebut, MRT Jakarta bersama para pengembang sepakat membentuk joint working group. Kelompok kerja ini akan beroperasi selama dua tahun ke depan dan bertugas menyusun rencana pengembangan jalur Kembangan–Balaraja secara komprehensif.

Lingkup kerja kelompok ini mencakup berbagai aspek, mulai dari perencanaan interkoneksi antar moda, integrasi kawasan transit oriented development, hingga kajian teknis dan bisnis yang diperlukan sebelum proyek memasuki tahap pembangunan. 

Dengan pendekatan ini, MRT Jakarta berharap seluruh pemangku kepentingan dapat menyelaraskan kepentingan transportasi publik dan pengembangan kawasan secara berkelanjutan.

Direktur PT Metropolitan Land Tbk. Olivia Surodjo mengatakan bahwa keterlibatan perseroan masih berada pada tahap awal diskusi. Fokus utama Metland saat ini adalah membahas potensi penempatan stasiun MRT di kawasan yang dilalui jalur Timur–Barat tersebut.

“MoU ini merupakan langkah awal diskusi mengenai penempatan stasiun MRT dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas interkoneksi kawasan. Belum ada angka investasi yang bersifat mengikat,” ujarnya.

Menurut Olivia, dampak terhadap kinerja perseroan baru dapat dihitung secara lebih konkret ketika proyek MRT memasuki tahap pembangunan dan kejelasan desain stasiun serta integrasi kawasan sudah ditetapkan.

Kajian Teknis Dan Bisnis Jadi Fokus Awal

Pandangan serupa disampaikan oleh Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk. Adrianto P. Adhi. Ia menjelaskan bahwa MoU yang ditandatangani mencakup kajian bersama terkait pengembangan koridor Kembangan–Balaraja, dengan ruang lingkup yang cukup luas.

Kajian tersebut meliputi aspek teknis, bisnis, legal, serta manajemen risiko yang akan menjadi dasar pengambilan keputusan ke depan. Adrianto menegaskan bahwa seluruh proses ini masih berada pada tahap perencanaan awal dan belum menyentuh komitmen investasi yang mengikat.

“Sebagai tindak lanjut, akan dibentuk joint working group untuk menyusun rencana kerja bersama dalam dua tahun ke depan,” kata Adrianto.

Melalui kajian bersama ini, Summarecon berharap dapat memastikan bahwa pengembangan kawasan di sekitar jalur MRT sejalan dengan kebutuhan transportasi massal, sekaligus tetap memperhatikan keberlanjutan dan kenyamanan bagi penghuni serta pengguna kawasan.

Dampak Jangka Panjang Bagi Pengembangan Kawasan

Sementara itu, Presiden Direktur Paramount Land M. Nawawi menilai keterlibatan pengembang dalam proyek MRT Timur–Barat memiliki dimensi jangka panjang. 

Menurutnya, keberadaan transportasi massal akan membentuk pola baru dalam pengembangan kawasan, khususnya di sepanjang koridor yang dilalui jalur MRT.

Integrasi antara transportasi publik dan kawasan komersial maupun hunian diyakini akan meningkatkan daya tarik kawasan, sekaligus mendorong aktivitas ekonomi yang lebih merata. Namun demikian, Nawawi menekankan bahwa seluruh rencana tersebut tetap bergantung pada realisasi proyek MRT ke depan.

Direktur Paramount Land Chrissandy Dave menambahkan bahwa saat ini perseroan masih memfokuskan pengembangan pada kawasan komersial yang tumbuh seiring meningkatnya aktivitas di wilayah sekitar. Ia menyebutkan bahwa pendekatan ini sejalan dengan strategi adaptabilitas perusahaan di tengah tantangan industri properti.

Berdasarkan data Paramount Estate Management, kawasan Maggiore mencatat pertumbuhan signifikan sepanjang 2023 hingga 2025, dengan lonjakan mencapai 711%. Saat ini, lebih dari 400 bisnis kuliner dan gaya hidup telah aktif beroperasi di kawasan tersebut. Chrissandy menilai pertumbuhan ini mencerminkan potensi kawasan yang dapat semakin diperkuat dengan hadirnya transportasi massal terintegrasi.

Dengan semakin banyaknya emiten properti yang menjajaki proyek MRT Lintas Timur–Barat, pasar menilai kolaborasi ini dapat menjadi katalis positif bagi pengembangan kawasan di wilayah barat Jakarta dan sekitarnya. 

Meski masih berada pada tahap studi, sinergi antara MRT Jakarta dan para pengembang dinilai membuka peluang jangka panjang bagi pertumbuhan sektor properti dan transportasi publik.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index