BERITASELA.ID — Rodrigo Duterte menjalani sidang tatap muka pertamanya di Pengadilan Kriminal Internasional, Den Haag, Rabu (16/9/2026), setelah lebih dari setahun ditahan. Mantan presiden Filipina berusia 81 tahun itu menghadapi tiga dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan atas pembunuhan selama perang narkoba 2011-2019. Agenda pembacaan dakwaan dijadwalkan berlangsung 30 November mendatang.
Duterte dihadirkan di Ruang Sidang III ICC untuk pemeriksaan persiapan menjelang persidangan. Dalam agenda tersebut, tim medis pengadilan juga memeriksa kondisi kesehatan serta kelayakan fisiknya untuk mengikuti persidangan secara langsung. Ini menjadi kali pertama ia masuk ruang sidang sejak ditangkap di Manila pada Maret 2025.
Tiga Dakwaan Pembunuhan Sepanjang 2011-2019
Jaksa ICC mendakwa Duterte dengan tiga tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan. Kasus ini mencakup periode saat ia menjabat Wali Kota Davao hingga Presiden Filipina, yakni antara 2011 dan 2019. Pembunuhan yang didakwakan terjadi dalam operasi perang melawan kejahatan narkoba di kedua masa jabatan tersebut.
Duterte mendekam di tahanan ICC sejak penangkapannya di Manila pada Maret 2025. Penangkapan itu dilakukan setelah pengadilan mengeluarkan surat perintah terkait penyelidikan kasus tersebut.
Penurunan Kognitif Jadi Alasan Pengacara
Pengacara Duterte menyatakan kliennya mengalami penurunan kognitif yang memengaruhi kemampuannya menjalani persidangan. Argumen itu disampaikan sebagai bagian dari upaya pembelaan menjelang agenda pembacaan dakwaan.
Pada penampilan perdana di ICC, Maret 2025, Duterte hanya hadir melalui sambungan video. Setelahnya, ia melewatkan sejumlah sidang dengan alasan kesehatan. Pemeriksaan medis dalam sidang Rabu menjadi penentu apakah ia bisa mengikuti persidangan penuh secara langsung.
Jadwal Pembacaan Dakwaan 30 November
Persidangan Duterte akan dimulai pada 30 November dengan agenda pembacaan dakwaan. Pada tahap itu, jaksa akan membacakan seluruh tuduhan, sementara terdakwa diberi kesempatan menyampaikan sikap atas dakwaan tersebut.
Duterte adalah ayah dari Wakil Presiden Filipina Sara Duterte. Kasus di ICC ini berjalan terpisah dari dinamika politik domestik Filipina, namun tetap menjadi perhatian karena melibatkan mantan kepala negara.
Status Hukum dan Proses Selanjutnya
Seluruh dakwaan terhadap Duterte belum berkekuatan hukum tetap. Proses di ICC masih berada pada tahap pra-persidangan, dan putusan akhir baru akan ditentukan setelah rangkaian persidangan selesai.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pemerintah Filipina maupun tim pembela Duterte mengenai hasil pemeriksaan kesehatan dalam sidang Rabu. Keputusan soal kelayakan fisik Duterte akan menentukan format persidangan berikutnya, apakah berlangsung tatap muka atau melalui video.