BERITASELA.ID — Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menilai lulusan pendidikan kejuruan yang hanya menguasai kompetensi teknis tanpa kemampuan berinteraksi akan kesulitan bersaing di dunia kerja. Ia menekankan human skills seperti komunikasi, kerja sama tim, negosiasi, dan adaptasi sama pentingnya dengan keahlian teknis. Pernyataan itu disampaikan Yassierli dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan pentingnya keseimbangan antara kompetensi teknis dan keterampilan interpersonal bagi mahasiswa pendidikan kejuruan. Menurutnya, dunia kerja menuntut lulusan yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga mampu berinteraksi dan berkolaborasi.
Yassierli mencontohkan seorang programmer yang hanya fokus pada pekerjaan coding tanpa bisa bergaul dengan rekan kerjanya. Kondisi seperti itu, kata dia, justru menjadi kelemahan di lingkungan profesional.
"Yang kita inginkan bukan orang yang misalnya hanya menguasai coding saja. Pagi, siang, sore, malam, coding. Tetapi dia tidak bisa bergaul dalam tim kerjanya, tidak berinteraksi dengan lainnya. Oleh karenanya, human skills ini penting," ujar Menaker.
Komunikasi dan Negosiasi Perlu Dilatih Sejak Kuliah
Yassierli menyebut human skills tidak muncul begitu saja, melainkan harus dilatih melalui proses pembelajaran dan pengalaman selama masa perkuliahan. Kemampuan presentasi, komunikasi, kerja sama tim, dan negosiasi menjadi bagian yang perlu terus diasah sebelum mahasiswa memasuki dunia kerja.
Menurutnya, kampus memiliki ruang untuk membentuk keterampilan tersebut melalui kegiatan organisasi, proyek bersama, hingga interaksi sehari-hari dengan orang lain. Pengalaman itu dinilai lebih efektif ketimbang hanya mengandalkan pembelajaran di ruang kelas.
Selain menyiapkan kompetensi kerja, Yassierli mengingatkan mahasiswa agar membangun kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Pendidikan tinggi, kata dia, juga berperan membentuk mahasiswa yang mampu menyampaikan gagasan dan aspirasi secara bertanggung jawab.
Mahasiswa Diminta Jadi Garda Moral Bangsa
Yassierli mendorong mahasiswa untuk berani menyampaikan pandangan. Namun, ia mengingatkan kritik dan aspirasi perlu disampaikan dengan sikap yang baik, sopan, dan bertanggung jawab.
"Mahasiswa harus menjadi garda moral bangsa. Silakan speak up. Indonesia membutuhkan mahasiswa yang peduli," kata dia.
Keberanian mahasiswa menyampaikan pandangan, menurut Yassierli, merupakan bagian dari dinamika kehidupan masyarakat. Ia menilai ruang berekspresi tetap terbuka selama disertai tanggung jawab dan cara penyampaian yang tepat.
Bekal Utuh untuk Industri dan Kepemimpinan Masa Depan
Yassierli mendorong mahasiswa memanfaatkan masa perkuliahan untuk membangun bekal yang utuh. Bekal itu mencakup kompetensi teknis, human skills, pengalaman industri, kemampuan berorganisasi, hingga kepedulian sosial.
Ia mengapresiasi pendekatan pembelajaran di Politeknik Mitra Industri di Bekasi yang memberi kesempatan kepada mahasiswa memperoleh pengalaman melalui proyek dan jejaring dengan industri. Pengalaman tersebut dinilai menjadi ruang untuk menguji sekaligus mengembangkan kompetensi teknis dan human skills secara bersamaan.
"Semoga tiga atau empat tahun lagi, saat mahasiswa hadir ke industri, lulusan bukan hanya siap bekerja, tetapi juga mampu mengembangkan industri. Dan semoga dari sini juga lahir pemimpin-pemimpin masa depan," ujar Yassierli.